BAB 3
Apa yang Luther Tolak dari Ajaran Erasmus
Argumen 11:
Erasmus memelintir Kitab Maleakhi 1:2-3.
Sekarang kita akan membahas bagian kedua yang saya gunakan sebagai bagian yang menentang ”kehendak-bebas”, yang kamu sangkal kebenarannya. Apa argumenmu? Di Kitab Kejadian 25:23 dinyatakan: ”… anak yang tua akan menjadi hamba kepada anak yang muda”. Terkait ayat ini, ”penjelasan-”mu adalah: ”Benar adanya, bagian ini tidak terkait dengan keselamatan seseorang. Allah telah berkehendak menjadikan seseorang menjadi hamba, namun tidak menolak untuk menyelamatkannya.”
Kamu benar-benar licin dalam berkelit dari kebenaran! Namun, kini kamu tidak bisa berkelit lagi. Paulus menggunakan bagian ini dalam Surat Roma 9:12-13. Apakah Paulus salah dalam menggunakan Kitab Suci ketika ia meletakkan dasar bagi dokrin Kekristenan? Pasti tidak! Jerome bahkan terlalu lancang dengan menyatakan: ”Ada hal-hal yang dikutip Paulus yang tidak sesuai dengan konteks aslinya”. Jerome bisa-bisa saja menyatakan itu, namun tidak membuktikannya. Orang-orang seperti Jerome sebenarnya tidak memahami Paulus ataupun bagian yang dikutipnya itu. Saya tidak setuju kalau Kitab Kejadian 25:21-23 hanya merujuk pada perihal siapa menjadi hambanya siapa. Namun, coba kita anggap kalau bagian ini memang hanya membahas soal ini. Sekalipun memang seperti itu, Paulus mengutip bagian ini dengan tepat untuk membuktikan kalau tidak ada sesuatu yang pantas untuk dihargai dari Yakub ataupun Esau. Paulus sedang membahas apakah yang dinubuatkan atas mereka itu berdasarkan pada sesuatu dalam diri mereka dan kemudian membuktikan tidak sama sekali. Segala sesuatu sudah ditentukan bahkan sebelum mereka berdua lahir.
Tafsiran Paulus atas Kitab Kejadian 25:23 tidak boleh sembarangan dipelintirkan. Bagian ini ada kaitannya dengan keselamatan kekal. Yakub adalah salah satu umat Tuhan. Janji yang diberikan kepadanya memang terkait statusnya sebagai umat Allah – yaitu berkat, Firman-Nya, Roh-Nya, dan janji atas Kristus dan Kerajaan-Nya yang kekal. Ini dipertegas di Kitab Kejadian 27:237 dan seterusnya. Jadi, terhadap pernyataan Jerome, kita bisa menyatakan kalau bagian-bagian yang dikutip para rasul memiliki keselarasan dengan konteks aslinya ketimbang yang dikutip Jerome dalam tulisan-tulisannya!
Bagian Kitab Maleahi 1:2-3, yang juga dikutip Paulus, menyatakan: ”’Aku mengasihi kamu,’ firman TUHAN. Tetapi kamu berkata: ’Dengan cara bagaimanakah Engkau mengasihi kami?’ ’Bukankah Esau itu kakak Yakub?’ demikianlah firman TUHAN. ’Namun, Aku mengasihi Yakub, tetapi membenci Esau. Sebab itu Aku membuat pegunungannya menjadi sunyi sepi dan tanah pusakanya Kujadikan padang gurun’”. Kamu, Erasmus, menggunakan tiga cara untuk memelintir arti dari bagian ini.
Pertama, kamu menyatakan kalau kita tidak bisa memahami bagian ini secara harfiah karena kasih dan bencinya Allah berbeda dari manusia, karena tidak mengandung hasratnya manusia. Kita semua tahu kalau kasih dan bencinya Allah tidak melibatkan hasratnya manusia. Namun, kita tidak sedang mencari tahu bagaimana Allah mengasihi atau membenci, tetapi mengapa Allah mengasihi atau membenci. Karena kamu ingin mengalihkan pembicaraan kita menjadi bagaimana Allah mengasihi atau membenci, coba saya ikuti sebentar keinginanmu untuk melihat apakah argumen ini bisa membenarkanmu. Ternyata tidak. Kasih dan bencinya Allah bukanlah sesuatu yang bisa berubah-rubah seperti halnya kita. Kasih dan bencinya Allah itu kekal dan tidak bisa berubah. Itu sudah ditetapkan sebelum ”kehendak-bebas” dimungkinkan untuk ada sehingga kasih dan bencinya Allah tidak membutuhkan reaksinya manusia. Ini menjadi semakin jelas ketika kita ingin mencari tahu mengapa Allah mengasihi atau membenci. Apa yang membuat Allah bisa mengasihi Yakub dan membenci Esau? Sudah pasti bukan karena apa yang mereka perbuat, karena Allah telah menetapkan status mereka bahkan sebelum mereka dilahirkan. Tentu saja tidak ada ”kehendak-bebas” pada tahap ini.
Kedua, kamu menyatakan kalau Maleakhi tidak sedang membahas soal kebencian yang terkait dengan hukuman kekal. Kamu menyatakan kalau Maleakhi hanya sedang membahas soal permasalahan hidup yang dihadapi di bumi. Sekali lagi, ini adalah penyesatan karena secara tidak langsung kamu menyatakan Paulus telah salah dalam mengutip Kitab Suci. Namun, coba kita ikuti dulu alur pemikiranmu, apakah di bagian ini Paulus memang sedang menyatakan perihal tidak adanya kepantasan seseorang hingga diselamatkan atau soal diperlukannya ”kehendak-bebas”. Sekalipun Paulus sedang membahas soal permasalahan hidup yang dihadapi di bumi, dia masih menggunakaan ilustrasi yang cocok melalui kisah Yakub dan Esau. Meskipun begitu, adalah penyesatan dengan menyatakan kalau Maleakhi hanya sedang merujuk pada hal-hal yang dihadapi di bumi. Konteks bagian ini menyatakan tujuannya Maleakhi dalam menegur bangsa Israel yang tidak merespon kasih Allah terhadap mereka. Kasih Allah terhadap mereka melebihi dari berkat duniawi, karena bagian ini menyatakan Allah kita adalah Allah atas segala sesuatu. Dia tidak akan bersedia menjadi Allah bagi bangsa Israel yang sudah merasa pantas dengan menyembah-Nya setengah hati dengan mempersembahkan binatang yang sakit! (Mal. 1:13). Penyembahan yang benar adalah ketika mereka menyembah-Nya dengan sepenuh hati dan kekuatannya, karena Dia adalah Allah untuk hidup mereka pada masa sekarang dan yang akan datang, dalam segala hal, dalam semua kejadian, dalam segala masa dan dalam segala sesuatu yang mereka kerjakan.
Ketiga, kamu menyatakan kalau Maleakhi bermaksud menyatakan kalau Allah mengasihi sebagian orang Yahudi dan membenci sebagian sisanya. Kamu mengira kalau ini akan menjadi dasar bagi orang Yahudi yang tidak beriman-percaya untuk di”patah”kan. Kamu juga mungkin mengira kalau dengan ”penafsiran” ini akan menjadi dasar bagi sebagian Yahudi untuk di”cangkok”kan kembali.
Kamu benar-benar tidak tahu apa yang kamu nyatakan! Saya tahu dengan pasti kalau manusia di”patah”kan karena ketidakpercayaannya dan di”cangkok”kan kembali karena iman-percayanya sehingga mereka memang harus didesak dan diserukan untuk beriman-percaya. Namun, bagian ini sama sekali tidak ada kaitannya dengan beriman percaya ataupun tidak dengan kuasa ”kehendak-bebas”.