Allah Berperang Menggunakan Kata-kata

Mengapa Mengajar akan Mengalahkan Dunia

17 Juni 2022
Artikel oleh Scott Hubbard
Editor desiringGod.org

Gereja Yesus, jauh dan dekat, di dalam negeri maupun di luar negeri, sedang berada dalam misi global melawan pintu gerbang neraka. 

Di bawah pimpinan Allah, dan kuat kuasa-Nya Kristus (Mat. 28:18), kita menyerang “kuasa kegelapan” dan membawa tawanan ke tempat yang aman (Kol. 1:13). Kita mendatangi orang-orang yang sedang berjalan dalam tidur rohani dan berkata, ”Bangunlah, hai kamu yang tidur  dan bangkitlah dari antara orang mati  dan Kristus akan bercahaya atas kamu” (Efe. 5:14). Kita menerobos masuk ke rumah si orang kuat, yang diikat oleh orang Yang-Lebih-Kuat, dan ”merampas harta bendanya” (Mrk. 3:27).

Anda mungkin membayangkan bahwa dengan misi seperti itu Allah akan mempersenjatai gereja-Nya dengan senjata yang spektakuler. Namun, cukup mengejutkan, bahwa ketika kita bergabung dengan Yesus dalam memerangi pekerjaan Iblis, cara utama yang dipakai bukanlah dengan mengusir setan; melakukan mukjizat; atau terlibat dalam peperangan rohani, melainkan dengan mengajarkan kebenaran. 

Pergilah, … jadikanlah semua bangsa  murid-Ku dan baptislah  mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus,  dan ajarlah  mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu (Mat. 28:19-20).

Misi Sebagai Perang Ajaran

Pengajaran kelihatannya seperti senjata yang lemah untuk melawan Iblis. Apakah seorang kesatria membinasakan naga dengan persuasi? Namun, di tangan Allah, pengajaran yang benar mengalahkan salah satu cara favoritnya Iblis, yang berumur setua taman Eden dan sehalus ular tua itu: ajaran sesat.

Seperti yang ditulis Naselli dalam The Serpent and the Serpent Slayer, Iblis terkadang bertindak sebagai lawan dengan cara yang jelas dan menarik perhatian, tetapi terkadang juga bertindak dengan cara yang tersembunyi dan tidak menarik perhatian. Atau, terkadang dia bertindak seperti naga dan terkadang bertindak seperti ular (Why. 12:9). Sebagai naga, dia memangsa. Sebagai ular, dia menyesatkan. Sebagai naga, dia menganiaya dan menindas. Sebagai ular, dia menggoda dan menjerat. Sebagai naga, dia menyemburkan api. Sebagai ular, dia membisikkan kebohongan.

Di antara keduanya, mungkin ular yang lebih mematikan. Di taman Eden, Iblis bisa saja menakuti Hawa dengan taringnya. Namun, dia malah memikat dan berbohong dengan lidahnya – dengan ajarannya (Kej. 3:4-5). Dia masih melakukannya sampai saat ini (Yoh. 8:44). Ajaran sesat meruntuhkan dunia. Ajaran sesat membuatnya tetap tertindas.

Pada setiap tahap perkembangan Kerajaan Allah — dari Yesus, para rasul-Nya, hingga sampai pada Gereja — kebohongan di taman telah mati oleh kebenaran injil. Mengajar telah mengalahkan dunia.

Mengajar Sebagai Awal Kerajaan-Nya

Selama pelayanannya, Yesus melakukan lebih daripada mengajar – Dia menyembuhkan, melakukan mukjizat dan mengusir banyak setan. Yesus menyerang kuasa gelap dengan kedua tangan-Nya. Namun, mengajar adalah serangan utamanya. 

Setelah dibaptis dan mengalami pencobaan di padang gurun, pelayanan Yesus dimulai ketika Dia ”ke Galilea  memberitakan Injil Allah” (Mrk. 1:15).  Memang, Roh Kudus mengurapi Yesus ”untuk menyampaikan kabar baik kepada orang miskin” (Luk. 4:18), sebuah misi yang pernah ada di benak-Nya: “Aku harus memberitakan Injil Kerajaan Allah … sebab untuk inilah Aku diutus” (Luk. 4:43). Berkhotbah dan mengajar adalah ‘kebiasaan-Nya” (Mrk.10:1, AYT), sesuatu yang Dia lakukan di ”semua kota dan desa” (Mat. 9:35). “Kamu menyebut Aku Guru,” kata-Nya kepada murid-murid-Nya, ”dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru” (Yoh. 13:13).

Penyembuhan, mukjizat, otoritas rohani – semuanya menunjuk pada kata-kata yang memberitakan Kerajaan-Nya; yang membawa injil.

Sebetulnya, tanpa menerima ajaran-Nya, jiwa-jiwa yang sebelumnya dikuasai roh jahat hanya dikosongkan dan disapu, lalu mengundang roh yang lebih jahat untuk masuk (Mat. 12:45). Hanya ”kebenaran itu [yang] akan memerdekakan  kamu” (Yoh. 8:31-32), kata Yesus kepada beberapa calon murid-Nya. Demikianlah Dia mengajar.

Mengajar akan Menyebarluaskan Kerajaan-Nya

Para rasul tidak bingung bagaimana menjalankan misi-Nya Guru mereka yang sudah bangkit. Kitab Kisah Para Rasul mencatat banyak setan yang diusir, mukjizat yang terjadi, dan penyakit yang disembuhkan. Namun, sekali lagi, penekanannya pada mengajar — atau dalam kosakata Lukas yang luas, seperti mengabarkan (Kis. 4:2, TL), memberitakan (Kis 8:4), bersoal jawab (Kis. 9:29), berbicara (Kis. 16:13), bertukar pikiran (Kis. 17:2, BIS), membuktikan (Kis. 17:3, AYT), meyakinkan (Kis. 18:4), dan menjelaskan (Kis. 18:26).

Seperti Yesus, para rasul mendemontrasikan Kerajaan Allah melalui perkataan dan perbuatan, tetapi mereka dengan jelas menunjukkan kalau perbuatannya sesuai dengan perkataannya (Kis. 3:11-16). Pada akhirnya, pengajaran para rasul yang diberi kuasa oleh Roh Kuduslah yang membalikkan hati; menggulingkan berhala; menyelamatkan orang berdosa; dan mendirikan Gereja. Memalukan bagi Iblis, tetapi menjadi kemuliaan bagi para rasul, ketika mendengar persidangan Yerusalem mengeluh, ”Kamu telah memenuhi Yerusalem dengan ajaranmu” (Kis. 5:28).

Bahkan lebih dari Yerusalem.  Di akhir kitab dituliskan bahwa ajaran itu menyebar dari Yudea melalui Samaria dan mulai sampai ke ”ujung bumi” (Kis. 1:8); membebaskan para tawanan di sepanjang jalan. Ayat terakhir menggambarkan Paulus yang sedang berada di Roma – melakukan apa?  ”Mengajar tentang Tuhan Yesus Kristus” (Kis. 28:31).

Mengajar akan Menumbuhkan dan Menjaga Kerajaan-Nya

Ketika era para rasul berakhir, misi melawan kegelapan rohani tidak berakhir. Tidak mengherankan kalau Paulus menempatkan pengajaran sebagai pusat pertumbuhan Gereja. Dia tidak hanya menyuruh Timotius, anak rohaninya, untuk berkomitmen dalam mengajar (1 Tim. 4:11, 13; 6:2; 2 Tim 4:2), tetapi dia sendiri telah bekerja keras untuk membuat warisan dari para pengajar:  Apa yang telah engkau dengar dari padaku di depan banyak saksi, percayakanlah itu kepada orang-orang yang dapat dipercayai, yang juga cakap mengajar orang lain (2 Tim 2:2). Paulus seolah-olah berkata: ”Apa pun yang terjadi, Timotius, pastikan bahwa Gereja tetap mengajar.”

Dengan mengajarkan kebenaran, para penatua gereja – dan di bawah mereka, yaitu setiap anggota (Kol. 3:16) – memberitakan injil dan mengumpulkan orang-orang yang baru percaya. Mereka juga melindungi Injil dan menjaga orang percaya dari berbagai ancaman penyesatan Iblis yang selalu ada, termasuk apa yang Paulus sebut sebagai ”ajaran setan-setan” (1 Tim. 4:1). Ajaran seperti itu sering kali membolehkan segala sesuatu; memuaskan keinginan telinga dan menuruti kehendak (2 Tim 4:3); dan kadang-kadang suka melarang, seperti misalnya melarang orang kawin dan mengharamkan makanan tertentu  (1 Tim. 4:3). Namun, semua ajaran tersebut selalu salah dan mematikan.

Jadi, Gereja mengajar, mengajar dan mengajar — percaya bahwa melalui pengajaran, maka Tuhan akan menumbuhkan dan menjaga Kerajaan-Nya di negeri-negeri yang pernah dikuasai oleh kebohongan.

Allah Memberi Kuasa pada Pengajaran

Dari luar, pengajaran Kristen tampaknya biasa-biasa saja –  biasa-biasa saja seperti Yesus yang menceritakan perumpamaan di tepi laut. Atau seperti Paulus yang bersoal jawab dengan beberapa orang Yahudi di Tesalonika. Atau seperti Timotius yang membuka gulungan kitab untuk berkotbah lagi. Namun, melalui kata-kata dan ungkapan yang biasa-biasa tersebut, dari ajaran Kristen yang benar, Allah melakukan mukjizat.

Ketika Tuhan Yesus yang sudah bangkit menyuruh Paulus mengajar, Dia juga mengatakan kepada Paulus apa dampak dari pengajarannya:

Aku akan mengutus engkau kepada mereka,  untuk membuka mata  mereka, supaya mereka berbalik dari kegelapan kepada terang  dan dari kuasa Iblis kepada Allah, supaya mereka oleh iman mereka kepada-Ku  memperoleh pengampunan dosa  dan mendapat bagian dalam apa yang ditentukan untuk orang-orang yang dikuduskan (Kis. 26:17-18).

Melalui pengajaran, Allah melakukan mukjizat yang lebih besar daripada penggandaan roti; atau pengusiran setan; atau bahkan kebangkitan Lazarus. Dia menghancurkan kegelapan delusi kita. Dia mengampuni dosa-dosa kita yang tak terhitung banyaknya. Dia membebaskan umat-Nya dari kuasa Iblis, ular dari ajaran sesat dan lidah bercabang itu, serta mengembalikan kita pada diri-Nya. 

Jadi, dalam misi globalnya Gereja melawan gerbang neraka, kata-kata adalah senjata terbesarnya kita.

***

Artikel ini diterjemahkan dari desiringgod.org dengan judul "God Makes War with Words: Why Teaching Will Win the World."

You may also like...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *