Jangan Menyerah
Kita semua mendambakan kelegaan dari penatnya kehidupan ini. Dengan cara yang sangat nyata, Yesus memberikan kelegaan kepada ”semua yang letih lesu dan berbeban berat” dan yang datang kepada-Nya (Mat. 11:28).
Jalan, Kebenaran, Hidup Ministries
Kita semua mendambakan kelegaan dari penatnya kehidupan ini. Dengan cara yang sangat nyata, Yesus memberikan kelegaan kepada ”semua yang letih lesu dan berbeban berat” dan yang datang kepada-Nya (Mat. 11:28).
Pagi ini, saya mengajak Anda untuk percaya bahwa faktor terpenting untuk keberanian Anda pada masa depan bukanlah keluarganya Anda; melainkan Allahmu. Saya memanggil Anda untuk terbebas dari batasan-batasan yang ditaruh orang-orang pada diri Anda sendiri terkait semacam takdir dari mana Anda berasal.
“Saya khawatir belum melakukan cukup banyak hal bagi Allah.” Pernyataan ini datang setiap minggu di inbox kami. Kami mendengarnya sepanjang waktu… Pada akhirnya, yang ingin saya dengar hanyalah: ”Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia” (Mat 25:23).
Allah senang bertindak untuk mereka yang menanti-nantikan-Nya. Jadi, bagaimana kita menantikan Allah? Apakah menantikan Allah berarti kita tidak berbuat apa-apa? Kapankah kita berhenti menunggu dan mulai bertindak? Itu adalah pertanyaan penting yang dijawab dalam khotbah Pendeta John tentang Yes. 64:1–4. Sebuah khotbah yang disampaikannya pada tahun 1982. Inilah yang dikatakannya.
Tidak masalah apakah kita berada dalam bahaya virus corona atau massa anti-Kristen. Tidak ada yang bisa ”memisahkan kita dari kasih Allah di dalam Kristus Yesus” (Rom. 8:39).
Waktu Asaf menulis Mazmur pasal 77, dia sedang mengalami krisis iman. Mengapa Asaf sangat bersusah hati? Karena dalam pandangannya, Allah sepertinya telah memutuskan untuk mengabaikan janji-Nya kepada bangsa Israel. Jika Allah tidak memegang janji-Nya, maka mereka yang percaya kepada-Nya membangun iman mereka di atas pasir – sebuah pikiran yang sangat mengganggu.
Dalam buku klasiknya, Mere Christianity, C.S. Lewis memberikan wawasan yang mendalam tentang mesin psikologis yang menarik dalam panggung drama sejarah. ”Semua yang kita sebut sebagai sejarah manusia — uang, kemiskinan, ambisi, perang, pelacuran, golongan, kerajaan, perbudakan — adalah kisah panjang yang mengerikan tentang manusia yang mencoba menemukan sesuatu selain Allah yang akan membuatnya bahagia.”
Sukacita itu penting dalam kehidupan orang Kristen. Alkitab dengan jelas menyatakan kalau umat Allah diperintahkan untuk bersukacita dan dikenali karena sukacitanya.
Bagi para pengikut Yesus, risiko final telah hilang. ”Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus” (Rom. 8:1). ”Baik maut, maupun hidup, … tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita” (Rom. 8:38-39).
20 Agustus 2013Artikel oleh John PiperPendiri dan Pengajar, desiringGod.org Hai, orang Kristen, bagaimana Anda tahu bahwa Anda tetap adalah orang...