Ketika Yesus Berkata: ”Aku Mengasihimu”

17 Juli 2016
Artikel oleh Greg Morse
Staf Penulis, desiringGod.org


Seringkali, mereka yang paling melukai hati kita adalah para juru bicaranya cinta yang terbesar.

Si suami yang tidak setia bernyanyi, ”Pengantinku, permataku, aku mencintaimu!” — mencium pipi istrinya lalu kemudian pergi ke ranjang simpanannya. Seorang teman yang tampak setia pernah bersumpah, “Saudaraku, aku mengasihimu!” — lalu kemudian malah menusukkan belati di punggungnya Anda setelah memeluk Anda. Si ibu yang hidup melekat pada anaknya itu bergumam, ”Semuanya itu hanya karena aku mencintaimu, Anakku!” saat ia sedang melahap anaknya bagaikan laba-laba Black Widow.

Jadi, kita dapat menyimpulkan kalau ngomong doang itu memang gampang.  Merosotnya makna dari berbagai kata manis dan kata indah dalam kartu Hallmark merusak tiga kata sederhana yang seharusnya paling berharga: Aku mengasihi kamu. Di tengah banyaknya basa-basi dan berbagai hal manis yang berlebihan, bagaimana kita bisa— ketika seorang teman bertanya kepada saya tempo hari—memercayai kata-kata indah yang keluar dari mulut-Nya Sang Juruselamat kita?

Kasih dari Tempat yang Lebih Tinggi

Jawaban yang saya harapkan sudah saya siapkan pada hari itu adalah: ”Yesus menyatakan kasih-Nya dari tempat yang lebih tinggi.” Romeonya Anda mungkin telah bernyanyi di depan istananya Anda dan kemudian pergi meninggalkan Anda pada keesokan paginya. Ayahnya Anda mungkin telah menunjukkan rasa sayangnya ketika ia menyelimuti Anda yang sudah bersiap-siap tidur dan kemudian pergi meninggalkan Anda untuk selama-lamanya. Teman seperjalanannya Anda mungkin telah berjalan berdampingan, tertawa-tawa bersama dengan Anda sehingga tampak menyayangi Anda, tetapi kemudian melanjutkan perjalanannya dan meninggalkan Anda. Namun, Yesus tidak menyatakan cinta-Nya dari bawah istananya Anda; di samping tempat tidurnya Anda; atau sambil berjalan di sampingnya Anda. Ia menyatakannya dari atas:

Sang Juruselamat yang mengasihi Anda berkata demikian dari atas Anda, 
Dari ketinggian di atas bukit dan digantung di atas kayu salib.
Sang Juruselamat yang mengasihi Anda berteriak sedemikian dari atas Anda, 
Darah-Nya melukiskan gambaran kasih yang dapat Anda lihat.

Yesus tidak membisikkan bahwa Ia mengasihi Anda pada saat acara makan malam romantis. Ia tidak memberitahu Anda bahwa Ia mengasihi Anda dari penthouse-nya. Ia tidak mengirim kartu-dan-bunga dari surga. Ia tidak menulis puisi untuk Anda di awan-awan. Ia turun ke dunia untuk disalibkan. Ia mengatakan bahwa Ia mengasihi Anda ketika Ia membiarkan dosa-dosanya Anda memakukan paku ke tangan-Nya dan menggantung-Nya di atas kayu salib. Ia tidak hanya mengatakan bahwa Ia mengasihi Anda, tetapi Ia mati untuk menunjukkan bahwa Ia mengasihi Anda dengan cara yang paling hebat yang bisa dibayangkan. ”Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa” (Rom. 5:8).

Jadi, bagaimana Anda bisa tahu kalau Yesus benar-benar mengasihi Anda? Bagaimana Anda bisa benar-benar percaya bahwa kasih-Nya tidak akan lenyap seperti halnya orang lain yang meninggalkan Anda? Lihatlah ke tempat di mana Allah menyatakan kasih-Nya kepada orang-orang berdosa. Setiap luka, penderitaan, dan bekas paku-Nya memancarkan cahaya kasih. Setiap duri yang tertancap di atas kepala-Nya; setiap luka bekas cambuk di punggungnya; setiap olok-olokan yang dengan sabar diterimanya menggelegar menyatakan kata-kata cinta-Nya. Ia tidak memberi kita mawar merah. Ia menumpahkan darah-Nya yang merah untuk membuktikan pernyataan kasih-Nya.

Di Mana Ia Membuktikan Kasih-Nya

Jangan biarkan pengalaman buruk mencuri batu merah delimanya Anda yang hebat. Jangan biarkan orang-orang berdosa, yang menghisap darahnya cinta, menjauhkan Anda dari kasih Yesus yang telah dibuktikan dengan tumpahan darah-Nya. Yesus bukanlah mantan pacarnya Anda. Ia bukanlah seorang ibu yang tidak pernah hadir dalam hidupnya Anda atau ayahnya Anda yang kejam. Ia bukanlah Yudas Iskariot — yang datang sebagai sahabat, tetapi mencium sebagai musuh. Yesus tidaklah seperti mereka — juga tidak seperti kita. Ia menerima cium pengkhianatan — ciumnya kita — dan mendekap paku-paku yang terkutuk itu — paku-pakunya kita.

Ia telah menderita melebihi tusukan paku-paku itu. Ia ditinggalkan oleh Bapa-Nya ketika Ia menanggung dosa kita. Ia berseru dengan suara nyaring dari atas salib, ”Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” (Mat. 27:46). Manusia biasa tidak bisa menanggung rasa sakit ini. Bawalah ke sini seribu salib penuh darah sebelum peristiwa ini. Bawalah ke sini sepuluh ribu mahkota berduri dan cambuk sebelum peristiwa ini. Yesus ditinggalkan oleh dunia; ditinggalkan oleh umat-Nya; ditinggalkan oleh murid-murid-Nya. Kini, Ia ditinggalkan oleh Bapa-Nya.

Coba pikirkan. Apakah Ia menggeliat kesakitan di atas kayu salib, menyerahkan nyawa-Nya, meminum cawan penghakimannya Anda hanya untuk kemudian meninggalkan Anda?; untuk melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan orang-orang berdosa di masa lalunya Anda? Apakah Ia melintasi padang gurun kemurkaaan, membunuh si naga besar, dan memenangkan mempelai-Nya dengan niat untuk kemudian menceraikannya?

Oh Betapa Ia Mengasihi Kita

Kita tidak memuliakan Yesus dengan melihat salib tersebut, tetapi kemudian berpaling melihat kasih manusia yang tidak setia. Orang lain mungkin telah meninggalkan Anda, tetapi Ia tidak melakukannya. Orang lain mungkin telah mengingkari janjinya, tetapi Ia tidak. Kasih orang lain berakhir atau hancur dalam kematian, tetapi kasih-Nya tidak akan berakhir.

Wahai jiwa yang terhilang, kembalilah kepada kasih-Nya Allah. Orang Kristen yang terkasih, hangatkanlah diri Anda dengan nyala api kasih ini. 

Sang Juruselamat membangun sebuah tugu peringatan akan kasih-yang-abadi melalui kematian-Nya di atas bukit. Dari ketinggian inilah, Yesus membuktikan kalau Ia dapat dipercaya. Yesus meninggikan kata-kata cinta-Nya dengan mengangkat tubuhnya yang babak belur. Perkataan-Nya aman untuk dipegang; sama seperti tubuh-Nya sekarang yang aman dari jangkauan tombaknya orang Romawi.

Ia sangat dapat dipercaya — bahkan dengan kasihnya kita.

***

Artikel ini diterjemahkan dari desiringgod.org dengan judul 'When Jesus Says "I Love You".'

You may also like...

Tinggalkan Balasan