Apakah Allah Berbohong?

23 Juli 2008
Artikel oleh John Piper
Pendiri dan Pengajar, desiringGod.org


Jawaban singkatnya: Tidak. Allah tidak pernah mengatakan hal-hal seperti: ”Aku bukan Allah.” Atau: ”Kamu tidak berdosa.” Atau: ”Kristus bukanlah Juruselamat yang agung.” Atau: ”Jika Anda percaya Kristus, Anda tidak akan diselamatkan.” Atau: ”Adalah kebodohan untuk mengikuti nasihat-Ku.” Atau: ”Firmanku tidak bisa dipercaya.”

Namun, Allah memang menentukan kalau kebohongan sebagai bagian dari penghakiman-Nya terhadap orang yang bersalah. Itu sebabnya muncul pertanyaan di atas.

  • Nabi Mikha berdiri melawan semua nabi Ahab dan berkata bahwa raja akan mati dalam pertempuran. Untuk menjelaskan mengapa semua nabi lain mengatakan yang sebaliknya, Mikha berkata, “Karena itu, sesungguhnya TUHAN telah menaruh roh dusta ke dalam mulut semua nabimu ini, sebab TUHAN telah menetapkan untuk menimpakan malapetaka kepadamu” (1 Raj. 22:23).
  • Sama halnya, Allah juga berkata bahwa Dia akan menghukum mereka yang memanfaatkan para nabi untuk mendukung dosa mereka. Dalam situasi itu, Allah berkata, ”Jikalau nabi itu membiarkan dirinya tergoda dengan mengatakan suatu ucapan–Aku, TUHAN yang menggoda nabi itu–maka Aku akan mengacungkan tangan-Ku melawan dia dan memunahkannya dari tengah-tengah umat-Ku Israel. Mereka akan menanggung kesalahannya sendiri, baik yang meminta petunjuk maupun nabi” (Yeh. 14:9-10).
  • Allah telah menentukan sebuah ”kesesatan” sebagai bagian dari penghukuman bagi mereka yang ”tidak menerima dan mengasihi kebenaran” pada akhir zaman ini. ”Kedatangan si pendurhaka itu adalah pekerjaan Iblis, dan akan disertai rupa-rupa perbuatan ajaib, tanda-tanda dan mujizat-mujizat palsu, dengan rupa-rupa tipu daya jahat terhadap orang-orang yang harus binasa karena mereka tidak menerima dan mengasihi kebenaran yang dapat menyelamatkan mereka. Dan itulah sebabnya Allah mendatangkan kesesatan atas mereka, yang menyebabkan mereka percaya akan dusta, supaya dihukum semua orang yang tidak percaya akan kebenaran dan yang suka kejahatan” (2 Tes. 2:9-12).

Ketika kita menyatakan bahwa Allah tidak pernah berbohong, tetapi Ia menentukan bahwa kebohongan akan terjadi, kita tidak bermaksud mengatakan bahwa Dia menyetujui kebohongan (atau hukum-Nya membiarkan terjadinya kebohongan). Maksud kami, Allah mengatur segala sesuatu yang terjadi di alam semesta, termasuk dosa-dosa manusia yang berdosa. Dosa tidak berhenti menjadi dosa karena Allah yang mengatur-dan-mengarahkannya demi kebaikan umat-Nya dan kemuliaan nama-Nya.

Itulah yang dilakukan-Nya melalui dosa dijualnya Yusuf ke Mesir yang menipu —dan dosa ciuman pengkhianatan Yudas yang memperdaya. Yang satu menuntun pada tindakan keselamatan terbesar dalam Perjanjian Lama (peristiwa keluarnya bangsa Israel dari Mesir). Yang satunya lagi mengarah pada tindakan keselamatan terbesar dalam sejarah umat manusia (kematian Kristus untuk dosa-dosa kita).

Ketika Allah berkata, ”Aku, TUHAN yang menggoda nabi itu” (Yeh. 14:9), yang Dia maksudkan adalah Allah bisa-dan-memang yang mengatur pikirannya si nabi yang berdosa sehingga si nabi mempercayai kebohongan. Namun, Allah melakukannya sedemikian rupa sehingga Dia sendiri tidak berbohong. Allah mampu mengawasi seribu keadaan dan pengaruhnya sehingga seorang nabi yang berdosa akan memikirkan sebuah kebohongan, tanpa Allah sendiri yang berbohong atau dengan cara apa pun mencemari kebenaran-Nya yang sempurna.

Biarlah firman Allah tentang firman Allah berdiri teguh:

  • “Allah bukanlah manusia, sehingga Ia berdusta bukan anak manusia, sehingga Ia menyesal. Masakan Ia berfirman dan tidak melakukannya, atau berbicara dan tidak menepatinya? (Bil. 23:19).
  • “Lagi Sang Mulia dari Israel tidak berdusta” (1 Sam. 15:29).
  • “Sebab firman TUHAN itu benar, segala sesuatu dikerjakan-Nya dengan kesetiaan” (Mzm. 33:4).
  • “Adapun Allah, jalan-Nya sempurna; sabda TUHAN itu murni” (2 Sam. 22:31).
  • “Semua firman Allah adalah murni” (Ams. 30:5).
  • “Janji TUHAN adalah janji yang murni, bagaikan perak yang teruji, tujuh kali dimurnikan dalam dapur peleburan di tanah” (Mzm. 12:7).

Allah bisa dipercaya. Namun, jangan main-main dengan-Nya. Jangan sembrono dengan kebenaran. Jangan ”suka kejahatan” dan ”tidak percaya akan kebenaran”. Jika melakukannya, maka Anda mungkin akan mengalami kesesatan yang luar biasa dan tidak akan pernah bisa ”melihat” lagi.

Demi kebenaran Allah dan keselamatanmu,

Pendeta John

***

Artikel ini diterjemahkan dari desiringgod.org dengan judul 'Does God Lie?'

You may also like...

Tinggalkan Balasan