Mengapa Kita Harus Mengerjakan Keselamatan Kita?
Mengapa kita perlu mengerjakan keselamatan kita kalau perbuatan baiknya kita tidak menyelamatkan?
Jalan, Kebenaran, Hidup Ministries
Mengapa kita perlu mengerjakan keselamatan kita kalau perbuatan baiknya kita tidak menyelamatkan?
”Tuan-dan-Juruselamat” menjadi semacam seruan populer yang dipakai kaum injili pada generasi terakhir ini dengan alasan yang baik. Bisakah orang yang benar-benar lahir baru menerima Yesus sebagai Juruselamat, tetapi menolak-Nya sebagai Tuan? Mungkinkah Anda berdoa, maju ke depan, menuliskan komitmennya Anda, dan menerima-Nya sebagai Juruselamat, tetapi menolak ke-Tuan-an Yesus?
Jika ada orang yang memiliki satu alasan untuk merasa takut, itu adalah Daud. Ketika sedang tidak berperang dengan bangsa lain, ia malah diburu oleh bangsanya sendiri. Nyawanya hampir selalu berada dalam bahaya. Kitab Mazmur dipenuhi dengan kesaksian tentang berbagai ancaman yang dihadapi Daud hari lepas hari.
Selama bertahun-tahun, ketika saya berdoa untuk hati saya sendiri, saya telah mengumpulkan tujuh K yang menurut saya berguna. Mungkin Anda juga akan merasa terbantu dengan ketujuh K ini. Ketujuh cara ini hanyalah sekadar sebuah saran. Allah mungkin menuntun Anda untuk berdoa dengan cara lain. Namun, bagaimanapun cara Allah mengajar kita, apa pun cara yang berguna bagi kita, semoga Allah membuat kita semua bertumbuh dalam iman hingga kita ”tetap berdoa” (1 Tes. 5:17) ”dengan tidak jemu-jemu” (Luk. 18:1).
Kami mendapat 40 pertanyaan di inbox mengenai Kitab Kisah Para Rasul 2:38. Pada dasarnya, ada sejumlah pendengar yang menanyakan, “Apakah kita diselamatkan setelah, sebelum, atau ketika berlangsungnya baptisan air?”
ke-mahatahuan-Nya dan hikmat-Nya yang tak terhingga, tidak ada keraguan kalau Allah sendiri yang telah menetapkan doa sebagai cara untuk merespon permohonan umat-Nya; untuk melakukan berbagai perbuatan yang ajaib. Allah telah menentukan kalau doa umat-Nya akan menjadi penyebab dari banyak kemenangan-Nya dalam berbagai medan pertempuran.
Kita hidup pada zaman ketika secara harfiah kita tidak lagi perlu menunggu tibanya sebuah jawabanKita membawa setiap pertanyaan, ketakutan, atau keingintahuan kita ke Google atau ke media sosial, yang dengan cepat-dan-mudah memuaskan hasrat kita yang menggebu-gebu akan informasi dan bimbingan, baik dengan jawaban atau pengalihan. Namun, Allah tidak menciptakan internet untuk menggantikan diri-Nya sendiri.
Pada 25 September 2017, ketika kalangan Protestan di seluruh dunia mulai merayakan ulang tahun ke-500 Reformasi, Anda menganggu suasana perayaan tersebut dengan sebuah artikel berjudul “Apakah Allah Benar-Benar Menyelamatkan Kita Hanya Karena Iman?” Dalam artikel tersebut, Anda menjawab: ”Tidak.” — kita tidak diselamatkan hanya-karena-iman — membuat beberapa kalangan Protestan tercengang dan kebingungan. Untuk mendapatkan kejelasan lebih lanjut di sini, seorang pendengar podcast, Sam, bertanya kepada kami.
agaimana menemukan kehendak Allah bagi hidup saya? Ini selalu menjadi pertanyaan yang membebani selama kuliah, khususnya pada zaman kita dengan adanya berbagai pilihan yang belum pernah ada sebelumnya. Sebelum bertanya mengenai ”ke mana Allah memanggil saya?”, sebaiknya kita pertama-tama merenungkan mengenai ”di mana Allah telah memanggil saya?”
Ini merupakan salah satu pertanyaan paling penting yang ditanyakan: ”Apa yang harus saya percayai supaya diselamatkan?” Hal ini ditanyakan kepada Pendeta John beberapa tahun yang lalu dalam sebuah sesi tanya-jawab. Berikut ini adalah jawaban Pendeta John: