Kamu Tidak Perlu Mengerti Sekarang

21 Maret 2021
Artikel oleh Jon Bloom
Editor Eksekutif, desiringGod.org

Yesus mengucapkan banyak perkataan yang mendalam-dan-penting kepada para murid-Nya pada malam sebelum penyaliban-Nya. Namun, ada satu pernyataan-Nya yang mungkin dengan mudahnya kita abaikan disebabkan konteks saat Ia mengucapkannya. Namun, perkataan itu sarat dengan makna-yang-pribadi bagi kita semua yang mengikuti Dia: ”Apa yang Kuperbuat, engkau tidak tahu sekarang, tetapi engkau akan mengertinya kelak” (Yoh. 13:7).

Melalui satu kalimat itu, Yesus menangkap realitas mendalam yang sering (dan sampai batas tertentu terus-menerus) kita alami sebagai orang Kristen: ”Kita tidak memahami apa yang dilakukan Allah (atau yang tidak dilakukan-Nya) dan mengapa.” Sangat penting bagi kita untuk memahami implikasi yang lebih luas dari apa yang Yesus katakan di sini. Jika kita memahaminya, itu akan sangat membantu ketika kita bertanya-tanya mengapa Sang Gembala-yang-Baik menuntun kita ke jalan yang membingungkan-dan-menyakitkan seperti pada saat ini.

Kita sering tidak tahu apa yang sedang dilakukan Allah sekarang. Kebenaran yang krusial adalah kita memang tidak perlu tahu apa yang dilakukan Allah sekarang untuk berjalan mengikuti-Nya dalam iman.

Engkau Tidak Mengerti Sekarang

Selama Perjamuan Malam Terakhir itu, Yesus melakukan sesuatu yang janggal. Dia menanggalkan jubah-Nya, mengikatkan kain lenan di pinggang-Nya, mengambil baskom berisi air, dan mulai membasuh kaki setiap murid. Saya ragu jika hal ini akan mengejutkan kita sebagaimana para murid merasa terkejut pada saat itu karena perbedaan adat istiadat dan budaya yang begitu jauh-dan-asing bagi kita. Namun, bagi para murid, peristiwa itu terasa sangat aneh; terasa tidak pantas.

Pastinya, itulah yang dirasakan Petrus. Sepanjang hidupnya, dia memahami bahwa urusan membasuh kakinya orang lain adalah pekerjaan yang begitu rendah — pekerjaan yang hanya cocok untuk dilakukan oleh seorang budak atau anak-anak (jika tidak ada budak di rumah tersebut). Pekerjaan itu akan begitu memalukan jika dilakukan oleh orang-orang yang terhormat. Jadi, ketika dia melihat Yesus, Pribadi yang paling mulia di dunia, merendahkan diri-Nya dengan mengambil rupa seorang budak, membasuh berbagai kenajisan (hanya Allah yang tahu kenajisan seperti apa yang menempel di kaki itu) dengan tangan-Nya sendiri yang kudus. Petrus merasa marah. Ini benar-benar kebalikan dari apa yang seharusnya terjadi! Jika harus terjadi, Petrus-lah yang seharusnya berlutut membasuh kaki Tuhannya.

Ketika Yesus sampai kepada Petrus, murid-Nya yang dipenuhi dengan kesungguhan hati ini menarik kakinya ke belakang dan bertanya, “Tuhan, Engkau hendak membasuh kakiku?” Yesus memandang Petrus dan dengan sabar menjawab, ”Apa yang Kuperbuat, engkau tidak tahu sekarang, tetapi engkau akan mengertinya kelak” (Yoh. 13:7).

Inilah prinsip utama untuk kehidupan iman setiap orang Kristen (yang menjadi sebuah ringkasan dari sebuah motif yang dijalin dalam seluruh isi Kitab Suci dari awal sampai akhir) yang tertuang dalam jawaban sederhana atas sebuah pertanyaan dari seorang murid yang sedang kebingungan.

Warisan Ketidakmengertian

Petrus, dalam ketidakmengertiannya mengapa Yesus melakukan apa yang dilakukan-Nya pada saat itu, tidak sendirian. Sejarah penebusan menceritakan kisah demi kisah tentang orang-orang kudus yang menemukan diri mereka dalam posisi yang membingungkan ini; dipaksa untuk mempercayai Allah kalau segala sesuatunya kelak bisa masuk akal bagi mereka. Renungkan tentang:

  • Abraham, yang menunggu begitu lama untuk Ishak, hanya untuk diperintahkan oleh Allah untuk mempersembahkan anak laki-lakinya itu sebagai korban bakaran (Kej. 22);
  • Yakub bergulat dengan Allah, hingga pincang karena pangkal pahanya, tepat sebelum dia bertemu Esau (Kej. 32);
  • Yusuf bertanya-tanya mengenai apa yang sedang dilakukan Allah ketika masa mudanya terbuang di penjara Mesir (Kej 37-41);
  • Musa tidak mengerti mengapa Allah memilihnya untuk memimpin bangsa Israel keluar dari Mesir (Kel. 3–4);
  • Gideon diberikan jauh lebih banyak daripada yang bisa ditanganinya (Hak. 7);
  • Yosafat diperintahkan untuk mengirim paduan suara sebagai garda terdepan militernya saat melawan musuh yang luar biasa (2 Taw. 20);
  • Nehemia harus menghadapi begitu banyak kesulitan, hambatan, dan ketidakefisienan yang tampaknya tidak perlu yang memperlambat pekerjaan dalam membangun kembali tembok Yerusalem (Neh. 4);
  • Yusuf mencoba melewati begitu banyak jalan memutar yang tidak terduga dan membingungkan dalam beberapa tahun pertama kehidupannya Yesus (Mat. 1-2);
  • Orang yang buta sejak lahir, yang tidak tahu apa tujuan Allah dalam penderitaannya sampai usia paruh baya (Yoh. 9);
  • Kesedihan Marta dan Maria yang bercampur dengan kebingungan mengapa Yesus tidak datang untuk menyembuhkan Lazarus (Yoh. 11).

Tentu saja, semua itu hanyalah contoh kecil. Tidak mengerti mengenai apa yang dilakukan Allah sekarang (dan harus menunggu hingga kelak untuk mengerti) adalah pengalaman, pada tingkat yang lebih tinggi atau rendah, dari setiap orang kudus pada setiap zaman — apakah ”kelak” itu artinya dalam beberapa menit ke depan, seperti yang dialami Petrus selama Perjamuan Malam Terakhir. Atau pada zaman yang akan datang, seperti yang terjadi pada rekan sesama rasul lainnya, yaitu Yakobus yang tidak dibebaskan dari hukuman mati (Kis. 12:1-2). Ini merupakan bagian yang perlu-dan-harus diterima dengan rendah hati sebagai bagian dari ”hidup oleh iman, bukan oleh penglihatan” (2 Kor. 5:7, AYT).

Engkau Harus Mempercayai Aku

Merasa puas untuk tidak mengerti sekarang tidak muncul secara alami pada kita. Petrus pun tidak merasa puas. Dia merasa bahwa jawaban Yesus membingungkan. Kesabaran bukanlah kelebihannya. Dia tidak ingin menunggu sampai kelak untuk mengerti. Jadi, dia mengatakan, “Engkau tidak akan membasuh kakiku sampai selama-lamanya” (Yoh. 13:8).

Bagi saya, Petrus tampak sama sekali tidak ingin mempermalukan Tuhannya. Maksudnya memang baik, tetapi salah arah. Menanggapi dengan cara ini, Petrus sebenarnya menjadi bersalah atas apa yang coba dihindarinya: tidak menghormati Yesus. Kesalahan besar Petrus bukanlah membiarkan Yesus membasuh kakinya, tetapi karena tidak mempercayai apa yang Yesus katakan. Ini adalah poin penting untuk diperhatikan: ”Tidak ada situasi yang lebih berbahaya selain percaya bahwa kita bisa sanggup mengerti lebih baik ketimbang Allah.”

Saya pikir Yesus sepenuhnya memahami motif Petrus yang bermaksud baik. Namun, Dia juga melihat bahaya dari kecenderungan Petrus yang salah arah dan terlalu percaya diri untuk memercayai pengertiannya sendiri. Itulah sebabnya mengapa tanggapan Yesus begitu serius. Hal itu begitu mengejutkan Petrus. ”Jikalau Aku tidak membasuh engkau, engkau tidak mendapat bagian dalam Aku” (Yoh 13:8). Tidak mendapat bagian dalam Aku. Ketidakpercayaan dalam hal ini berarti pengecualian. Petrus langsung mengerti maksudnya dan bertobat dengan berseru, ”Tuhan, jangan hanya kakiku saja, tetapi juga tangan dan kepalaku!” (Yoh 13:9).

Apa sebenarnya maksud Yesus? Yesus seolah-olah berkata: ”Petrus, kamu harus percaya pada-Ku. Kamu harus hidup dengan amsal kuno. Percayalah kepada-Ku dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri (Ams. 3:5). Satu-satunya cara bagimu sebagai ranting supaya bisa tinggal dan berbuah dalam Pokok Anggur yang benar ini adalah jika kamu percaya pada firman-Ku (Yoh. 15:1-5, 7). Jika kamu bersikeras harus mengerti sekarang sebelum percaya pada-Ku, kamu akan seperti ranting yang patah. Kamu akan layu dan mati secara rohani” (Yoh. 15:6).

Engkau Tidak Perlu Mengerti Sekarang

Banyak pengalaman yang membuat kita bingung saat mengikuti Yesus yang terasa jauh lebih menyakitkan-dan-membingungkan ketimbang urusan membasuh kaki. Petrus akan bersimpati pada kita. Sebagian besar pengalamannya yang membuatnya bingung juga jauh lebih menyakitkan-dan-membingungkan ketimbang itu. Pikirkan saja mengenai apa yang akan terjadi pada Petrus dalam masa-masa setelah waktu perjamuan malam yang singkat ini. Kadang-kadang, pelajaran yang didapatkan pada saat-saat yang tidak terlalu ekstremlah yang memberikan kelegaan yang paling jelas dan membantu menstabilkan kita pada momen yang lebih ekstrem.

Faktanya adalah: ”Kita sering tidak mengetahui apa yang sedang dilakukan Allah sekarang.” Kebenaran yang krusial adalah: ”Kita tidak perlu tahu apa yang dilakukan Allah sekarang untuk mengikuti Dia dalam iman.” Allah memiliki alasan untuk menyembunyikan tujuan-Nya. Kadang-kadang, itu terkait erat dengan waktu-Nya (seperti yang terjadi pada Petrus). Kadang-kadang, karena jalan dan pikiran Allah memang berada di luar jangkauan kita (Yes. 55:8-9). Kita tidak diberitahu semata-mata karena Allah berbelas kasihan kepada kita sehingga Ia menahan pengetahuan yang terlalu berat untuk kita tanggung.

Kita tidak perlu mengerti tujuan-Nya Allah sekarang. Apa yang perlu kita lakukan adalah mempercayai tujuan-Nya Allah sekarang. Karena melalui iman percayanya kita, bukan pengertiannya kita sendiri, Allah akan terus mengarahkan kita dalam sepanjang jalan yang membingungkan (Ams. 3:6). Kita dapat mempercayai-Nya bahwa kelak (ketika waktunya tepat, baik dalam waktu dekat atau masih lama) Dia akan memberi kita semua pengertian yang dibutuhkan.

***

Artikel ini diterjemahkan dari desiringgod.org dengan judul 'You Don't Need to Understand Now.'

You may also like...

Tinggalkan Balasan