7 September 2017 Artikel oleh Jon Bloom Staf penulis , desiringGod.org
Tidak ada seorang pun yang mengikuti kata hatinya. Saya tahu pernyataan ini terdengar aneh mengingat semboyan populer pada zaman ini yang menyerukan: ”Ikuti kata hatimu.” Jika kita memikirkan dengan saksama apa yang dimaksud dengan ”hati”, bagaimana hati ini berfungsi, kita bisa melihat mengapa semboyan ini tidak masuk akal; mengapa semboyan ini sampai membingungkan-dan-menyesatkan banyak orang.
Beberapa tahun yang lalu, saya menulis sebuah artikel yang berjudul ”Jangan Ikuti Kata Hatimu”. Mengingat hati secara alami adalah egois, saya berargumen dalam artikel tersebut kalau hati bukanlah pemimpin yang boleh diikuti.
Beberapa pembaca merasa keberatan. Mereka berargumen kalau hatinya orang Kristen, yang tadinya keras, telah digantikan dengan hati-yang-baru (Yeh. 36:26) sehingga layak untuk diikuti. Saya memahami poin tersebut meskipun saya memandangnya sebagai kenaifan. Surat Roma pasal 7 (dan banyak bagian lain dalam Perjanjian Baru) menyatakan – pengalaman dan pengamatan pribadinya saya sendiri, sampai tahap tertentu, ikut mendukung pernyataan tersebut – kalau natur dosa yang aktif-dan-memperdaya masih menginfeksi orang yang sudah dilahirbarukan sehingga menuntut kita untuk tetap waspada dan berhati-hati.
Supaya semakin jelas apa yang saya maksudkan, saya akan memberikan argumen tambahan dengan menyatakan: ”Tidak ada seorang pun yang mengikuti kata hatinya.” Allah tidak merancang hati untuk bekerja dengan cara tersebut.
Apakah ”Hati” Itu?
Apakah yang dimaksud orang-orang ketika mereka berkata: ”Ikuti kata hatimu”? Saya ragu kebanyakan orang benar-benar memikirkan pernyataan ini dengan saksama. Adalah hal yang bijak untuk tahu siapakah yang sedang memimpin sebelum kita memutuskan apakah bijak-dan-aman untuk mengikutinya. Karena itu, kita mesti bertanya mengenai apakah benda tak kasat mata yang kita sebut sebagai ”hati” ini?
Pernahkah Anda secara sederhana mencoba menjawab pertanyaan ini? Pertama-tama, pertanyaan ini akan terlihat sebagai sesuatu yang sudah jelas jawabannya – hingga Anda terus merenungkannya dan menyadari kalau pertanyaan ini sangat mendalam-dan-menjebak alih-alih sesuai dengan apa yang Anda sudah ketahui. Inilah jawabannya saya: ”Hati adalah metafora alkitabiah untuk merujuk pada bagian dalamnya (jiwa) manusia yang menjadi sumber kasih sayangnya.”
Kasih-sayang (afeksi) adalah kecenderungan yang kuat terhadap (atau melawan) seseorang atau sesuatu. Kita terbiasa menyebut kecenderungan ini sebagai ”menyukai” dan ”membenci”. Afeksi adalah alat pengukur dalam jiwa yang memberitahu kita seberapa banyak atau sedikitnya kita dalam menghargai seseorang atau sesuatu.
Jadi, kita bisa bisa berkata kalau hati adalah bendaharanya jiwa karena Yesus menyatakan ”di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada” (Mat. 6:21). Karena Allah adalah harta terindahnya kita yang pernah ada, maka afeksi terbesarnya kita pasti untuk-Nya. Kita mengasihi-Nya dengan segenap hati (Mat. 22:37).
Waspadalah dengan Kuasa Dari Sebuah Frasa
Hati kita menginginkan apa yang dianggap sebagai harta. Dengan kata lain, hati kita adalah si pengingin. Jadi, ketika seseorang menyatakan, ”Ikuti kata hatimu,” yang mereka maksudkan sebenarnya adalah: ”Kejarlah apa yang kamu inginkan.” Namun, dengan menyatakannya seperti ini akan menerangi-dan-menyingkirkan sebagian kabut asap yang mengaburkan makna sesungguhnya dari semboyan pada zaman ini.
Kata-kata sangat berkuasa. Mereka bisa menghilangkan-dan-memunculkan kebenaran yang agung atau dusta yang memperdaya. Kata-kata juga bisa menggelapkan, memanipulasi, dan memperdaya. Frasa ”ikuti kata hatimu” dan ”kejarlah apa yang kamu inginkan” adalah contoh yang saya maksudkan.
Frasa ”ikuti kata hatimu” terdengar mulia, heroik, penuh petualangan, dan meneguhkan. Frasa ini seperti memiliki kewajiban moral. Seolah-olah, mereka yang tidak melakukannya seperti mengkhianati dirinya sendiri. Frasa ini terdengar suci. Jika seseorang dalam perjalanan hidupnya mengikuti kata hatinya, maka hampir terdengar sebagai sebuah pelanggaran jika mempertanyakan apakah mereka sebaiknya melakukan hal itu atau tidak.
Namun, frasa ”kejarlah apa yang kamu inginkan” terdengar kasar dan memiliki bahaya yang melekat dari apa yang sudah terlihat. Ketika mendengar frasa tersebut, secara alami kita mengenali adanya ketidakjelasan nilai moralnya dan merasa mendua hati karena melihat adanya keegoisan yang mempengaruhi motifnya kita. Kita mungkin tidak sepakat mengenai apa yang harus dikejar, tetapi kita sepakat kalau memang tidak semua hal seharusnya dikejar. Kita tahu kalau hati kita menginginkan banyak hal yang tidak bagi hatinya kita.
Lebih dari itu, frasa ”kejarlah apa yang kamu inginkan” memperjelas mengenai hal-hal yang mengikuti ”apa”. Kata kunci dalam frasa ini adalah ”apa” dan ”inginkan”. Hal-hal yang kita ”inginkan” mengikuti ”apa”. Jika hati kita adalah ”si pengingin”, maka hati kita mengikuti ”apa” yang diinginkannya. Jika hati kita adalah si bendahara, maka hati kita akan mengikuti (atau mengejar) apa saja yang dianggap sebagai harta olehnya. Dengan kata lain, kita tidak mengikuti si bendahara. Si bendahara yang memberitahu kita mengenai harta apa yang layak untuk diikuti.
Jangan Pernah Mengikuti Kata-Hatimu
Inilah sebabnya mengapa frasa ”ikutilah kata hatimu” sangat membingungkan-dan-menyesatkan. Kita seolah-olah menyuruh seseorang untuk ”ikutilah pengikutmu”; atau ”hargailah bendaharamu”; atau ”inginkan si pengingin”.
Sesungguhnya, Anda sebenarnya tidak pernah mengikuti kata hatimu. Hati adalah bagian dari Anda yang justru mengikuti apa yang Anda inginkan. Itulah sebabnya mengapa Alkitab tidak pernah memerintahkan Anda untuk mengikuti kata hati. Alkitab hanya memerintahkan hatinya Anda untuk melakukan apa yang dirancang Allah untuk dilakukan, yaitu untuk merasakan afeksi-yang-benar. Allah menyuruh hatinya Anda untuk menghargai apa yang benar-benar berharga (Mat. 13:44); mengasihi apa yang benar dengan alasan yang benar (Mat. 22:37-39); memercayai apa yang benar (Ams. 3:5-6); dan membenci apa yang jahat (Mzm. 97:10).
Apa yang Anda ikuti – apa yang Anda kejar – adalah objek yang mengarahkan afeksinya hati Anda. Seruan untuk ”jangan ikuti kata hatinya Anda” layak diulang-ulang karena saya percaya Iblis menggunakan semboyan ”ikuti kata hatimu” untuk mengaburkan kebenaran dan memanipulasi orang-orang hingga terperdaya.
”Ikuti kata hatimu” bukanlah sesuatu yang tidak berbahaya. Semboyan ini didengungkan secara maksimal, namun juga sekaligus samar-samar, sebagai sebuah gagasan impresionis yang terdengar sangat mungkin benar untuk diterima begitu saja (jika kita tidak waspada). Lantas, semboyan ini kemudian menjadi semacam norma yang menuntun kita dalam perihal bagaimana membuat keputusan dan membawa kita menuju berbagai langkah yang egois-dan-merusak. Semuanya itu terjadi sambil kita berusaha meyakinkan diri sendiri kalau kita hanyalah mencoba bersikap jujur pada diri kita sendiri. Jika Iblis bisa membuat mata kita menatap pada apa yang kita pikir sebagai impian suci dari hatinya kita, Iblis juga tahu bagaimana caranya supaya kita tetap buta terhadap harta-yang-sejati.
Namun, Allah tidak ingin mata kita tertuju pada hatinya kita karena hati tidak dirancang untuk diikuti. Hati dirancang untuk dipimpin-dan-diarahkan (2 Tes. 3:5). Allah ingin supaya mata hati kita menjadi terang supaya bisa melihat harta-yang-sejati dan berusaha mengejarnya (Efe. 1:18). Itulah sebabnya mengapa Allah memerintahkan mata kita untuk tertuju pada Yesus, Sang Pencipta dan Penyempurna iman kita (Ibr. 12:2, AYT). Allah tidak ingin kita salah berpikir sampai-sampai mengikuti kata hatinya kita. Allah ingin supaya kita mengikuti Yesus.
***
Artikel ini diterjemahkan dari desiringgod.org dengan judul 'No One Follows Their Heart.'