Terlahir sebagai Budak – Bab Dua – Argumen 1

BAB 2

Apa yang Erasmus Ajarkan


Argumen 1:
Definisi ”kehendak-bebas” menurut Erasmus.

 

Supaya berimbang, saya akan mengutip definisimu sendiri mengenai ”kehendak-bebas”. Kamu menyatakan: ”Saya memahami ’kehendak-bebas’ sebagai kuasa kehendak dalam diri seseorang di mana ia bisa menggunakannya untuk hal-hal yang menuntunnya pada hidup kekal atau berpaling menjauh darinya”.

 

Kamu tidak layak menyebut pernyataan seperti ini sebagai sebuah definisi! Sebuah definisi hendaklah terang benderang. Namun, setiap bagian dari pernyataan ini masih butuh dijelaskan lebih lanjut untuk membuatnya terang benderang. Juga, kamu memulai mendefinisikan satu hal dan kemudian berakhir mendefinisikan hal lain yang jauh berbeda. Hanya Allah yang memiliki ”kehendak-bebas” yang kamu gambarkan melalui definisimu itu, tetapi kamu malah menyatakannya sebagai milik manusia. Seorang manusia itu seperti seorang budak yang kebebasannya hanyalah untuk tunduk pada tuannya. Manusia hanya bisa bertindak menurut perintah Allah. Apakah itu yang kamu definisikan sebagai ”kehendak-bebas”?

 

Hanya Allah yang memiliki ”kehendak-bebas” yang kamu gambarkan melalui definisimu itu, tetapi kamu malah menyatakannya sebagai milik manusia. Seorang manusia itu seperti seorang budak yang kebebasannya hanyalah untuk tunduk pada tuannya. Manusia hanya bisa bertindak menurut perintah Allah.

 

Sekarang, saya akan coba mengupas definisimu. Beberapa bagian memang sudah cukup jelas, namun saya harus membongkar bagian lain sebelum saya bisa menyerangnya. Bagian itu seperti ketakutan pada terang karena mereka seolah-olah bersalah karena sedang menyembunyikan sesuatu! Saya akan memulainya dengan menganggap ”kehendak-bebas” yang kamu maksudkan adalah kuasa untuk memilih atau menolak sesuatu; kuasa untuk menyetujui atau menolak sesuatu. Ini memang merupakan fungsi dari kehendak manusia. Namun, kamu menambahkan definisimu dengan: ”di mana ia bisa menggunakannya…”. Kamu mencoba memisahkan manusia dari kehendaknya. Kamu menyatakan manusia memiliki kuasa untuk mengarahkan kehendaknya. Namun, kehendak manusia itu sendiri merupakan bagian dari dirinya – itu merupakan bagian dari dirinya sendiri yang membuat pilihan itu. Jelas, memisahkan manusia dari kehendaknya dan memberinya kuasa atas kehendaknya itu adalah hal yang konyol! Jika saya salah memahami maksudmu, itu merupakan kesalahanmu sendiri karena tidak menyatakannya dengan jelas!

 

Nah, sekarang apa maksudmu dengan pernyataan ”untuk hal-hal yang menuntunnya pada hidup kekal”? “Hal-hal” itu pastilah merujuk pada firman Tuhan dan karya Tuhan. Di luar itu, tidak ada yang bisa menuntun kita pada hidup kekal. Namun, pikiran manusia tidak bisa memahami apa arti keselamatan. Paulus menyatakan: Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia” (1 Kor. 2:9). Paulus melanjutkan uraiannya dengan menyatakan kalau ”Allah telah menyatakannya kepada kita melalui Roh-Nya”. Berarti, tanpa karya Roh Kudus kita tidak akan pernah mengenal keselamatan ini sehingga kita tidak mungkin mencarinya.

 

Beberapa orang yang sangat terpelajar di dunia ini menganggap hal-hal rohani sebagai omong kosong. Kenyataannya, semakin cerdas mereka, semakin konyol kebenaran rohani terlihat bagi mereka. Manusia hanya bisa mengenali realitas kebenaran rohani di hati mereka karena Allah Roh Kudus yang mencelikkan mata mereka.

 

Lalu, kamu menyatakan kalau ”kehendak-bebas” itu adalah kuasa untuk memutuskan untuk menerima ataupun menolak firman Tuhan dan karya Tuhan. Ini sama saja dengan menyatakan kalau manusia bisa memilih mau ke surga atau ke neraka. Ini sama saja tidak memberi ruang bagi karya Roh Kudus ataupun kasih karunia Allah. Ini sama saja dengan menempatkan kehendak bebas manusia setara dengan Allah.

 

Mereka yang disebut kelompok Pelagian juga mengajarkan ini. Namun, kamu bahkan melampaui apa yang mereka ajarkan! Mereka mengelompokkan ”kehendak-bebas” menjadi dua bagian – kuasa untuk memahami berbagai pilihan dan kuasa untuk memilih opsi yang mana. Namun, ”kehendak-bebas” versimu mampu memilih hal-hal kekal yang sama sekali tidak bisa dipahami. Kamu menciptakan ”kehendak-bebas” versimu sendiri.

 

Definisimu juga bertentangan dengan dirimu sendiri, Kamu pernah menyatakan kalau ”kehendak-bebas” tidak bisa melakukan apa pun terlepas dari kasih karunia. Namun, ketika mendefinisikan ”kehendak-bebas”, kamu memberi kebebasan yang sepenuhnya kepada ”kehendak-bebas” itu. Kamu benar-benar aneh!

 

Saya lebih memilih pemikiran para filsuf kuno ketimbang pemikiranmu. Mereka menyatakan kalau manusia hanya bisa memilih yang salah jika mereka diminta memilih. Manusia hanya bisa memilih yang baik dengan bantuan kasih karunia. Mereka menyatakan kalau manusia memang bebas untuk terjatuh, tetapi memerlukan bantuan untuk bisa bangun kembali! Namun, adalah hal yang konyol menyebutnya sebagai ”kehendak-bebas”. Jika hal seperti ini disebut ”kehendak-bebas”, maka saya bisa menyebut batu memiliki ”kehendak-bebas”. Karena ketika batu terjatuh, harus ada seseorang yang mengangkatnya ke atas! Ajaran para filsuf ini bahkan jauh lebih baik ketimbang ajaranmu. Soalnya, batumu bisa memilih untuk jatuh ke bawah atau naik ke atas!

 


 

TERLAHIR SEBAGAI BUDAK

Sebuah versi sederhana dan ringkas dari buku klasik “Belenggu Kehendak” yang ditulis oleh Martin Luther, diterbitkan pertama kali pada tahun 1525.

Versi Inggris
Dikerjakan oleh:
Clifford Pond
Diedit oleh:
J.P. Arthur M.A
H.J. Appleby
Versi Indonesia
Diterjemahkan oleh:
Yonghan
Diedit oleh:
Suriawan Surna

You may also like...

Tinggalkan Balasan