27 Februari 2019 Artikel oleh Marshall Segal Staf penulis, desiringGod.org
Ketika kita mulai merasa putus asa dalam hidup – dalam pernikahan; karena kehilangan orang yang dikasihi; karena sakit-penyakit; karena pekerjaan atau pelayanan – maka kegelapan akan turun bagai kabut.
Secara rohani, kita berjuang untuk memahami lingkungan sekitar kita. Mata hati kita memicing, berusaha mencari meskipun hanya secercah terang Kristus. Pada hari-hari itu (atau minggu, atau tahun), kita akan tergoda untuk mencoba dan mengusir kegelapan — untuk meringankan ketidaknyamanan saat menantikan Allah — dengan menerangi hidup kita dengan berbagai ribuan cara lain. Alih-alih melewati kegelapan dengan sabar mengikuti suara Allah, kita malah menantikan nyala api yang kita buat sendiri.
Yesaya memperingatkan Israel yang tengah mengembara dan merasa putus asa agar tidak berjalan di dalam nyala api yang mereka buat sendiri: ”Sesungguhnya, kamu semua yang menyalakan api dan yang memasang panah-panah api, masuklah ke dalam nyala apimu, dan ke tengah-tengah panah-panah api yang telah kamu pasang! Oleh tangan-Kulah hal itu akan terjadi atasmu; kamu akan berbaring di tempat siksaan” (Yes. 50:11). Peringatan Allah begitu jelas. Jika kita berjalan dengan terang api kita sendiri ketika kegelapan turun, maka kita akhirnya akan dibakar oleh api tersebut.
Nyala Api yang Kita Bawa
Bertahun-tahun yang lalu, saya mengalami musim yang sangat gelap ketika saya terjatuh kembali ke dalam dosa seksual setelah bertahun-tahun mengalahkan godaan. Kejatuhan itu sangat membebani saya dan hal itu (dengan kasih karunia-Nya) membuat saya berada dalam keputusasaan yang belum pernah saya alami sebelumnya. Kepahitan hari-hari itu merupakan kebaikan yang menuntun saya pada pertobatan, kewaspadaan, dan kemurnian yang menetap. Namun, hari-hari tersebut sering kali pahit dan gelap. Saya merasakan konsekuensi dari keberdosaan saya sendiri, terutama bagaimana hal itu menyakiti orang-orang yang saya kasihi. Saya sering mengalami kesulitan untuk bertemu muka dengan Allah (atau siapa pun).
Saya tergoda untuk merasa putus asa. Bagaimana jika saya tidak pernah memenangkan perang ini? Bagaimana jika hubungan ini tidak pernah pulih? Bagaimana jika saya kehilangan pelayanan di masa depan? Bagaimana jika saya terjatuh lagi? Di saat-saat seperti ini, Iblis menginterogasi kita dengan semua pertanyaan yang menyesatkan; mencoba meredam suara Allah dengan ketakutan dan keraguan yang menakutkan. Baik kegelapan yang disebabkan oleh diri sendiri (seperti yang saya alami) atau yang berada di luar kendali kita (seperti yang sering terjadi), maka turunnya kegelapan secara bersamaan dapat membuat kita lebih putus asa dari sebelumnya. Juga, membuat kita tuli terhadap Allah — penyelamat, penolong, dan penasihat yang kita perlukan saat berada dalam kegelapan. Jadi, alih-alih mengandalkan Dia dan firman-Nya, kita seringkali berusaha untuk mengatasinya sendirian; merangkak melalui kegelapan itu sendirian.
Bagaimana Anda menenangkan diri dalam pergolakan yang tak tertahankan? Mungkin Anda mencoba memulihkan diri dengan menciptakan berbagai gangguan; melakukan berbagai kesenangan yang sederhana-dan- bersifat lahiriah yang menjauhkan pikiran Anda dari realitas gelap yang Anda hadapi. Anda menonton, makan, berbelanja, dan apa pun yang diperlukan untuk tidak memikirkan atau merasakannya (bahkan untuk beberapa detik saja). Mungkin Anda lebih suka berkubang dalam perasaan mengasihani diri sendiri; merasa nyaman ketika Anda terobsesi dengan rasa sakitnya Anda. Alih-alih membangun menara Babel, Anda mengukir ngarai untuk mencoba dan bersembunyi dari kenyataan. Mungkin Anda melampiaskan keputusasaan Anda pada orang lain; mengubah pecahan kaca di hati Anda menjadi senjata. Jika Anda melihat orang lain menderita, maka Anda tidak merasa sendirian lagi. Rasanya itu seperti keadilan — atau setidaknya kesetaraan.
Kita tidak bangga dengan nyala api yang kita nyalakan. Semuanya itu tidak hanya mengungkap penyembahan berhala yang diam-diam kita kembangkan, tetapi juga mengungkap betapa tidak siapnya kita akan pencobaan. Semuanya itu menerangi berbagai dosa dan kelemahan yang senantiasa mengejar kita. Dan, seperti yang diperingatkan oleh Yesaya, maka semuanya itu mengutuk kita jika kita bergantung padanya. Kita malu akan semuanya itu, tetapi kita memercayai semuanya itu. Setidaknya, itu terjadi ketika kita sudah merasa putus asa.
Kegelapan dalam Hidup
Mengapa kita meninggalkan Allah dalam kegelapan? Ketika hidup tidak berjalan seperti yang kita harapkan atau inginkan, kita dapat tergoda untuk menjadi pahit (atau setidaknya curiga) terhadap Allah. Ketika hidup berubah menjadi lebih baik, kita dapat dengan senang hati berlari ke dalam tangan-Nya yang berdaulat dan Mahatahu. Namun, ketika hidup berubah menjadi lebih buruk, maka kuasa dan kebijaksanaan tak terbatas yang sama bisa jadi tiba-tiba tampak berbahaya, sembrono, asing. Dia benar-benar dan sepenuhnya berdaulat. Jadi, bukankah pada akhirnya Dia yang harus disalahkan? Pikiran tersebut bisa membuat kita menyalakan api.
Ketika umat Allah mulai membenci bagaimana Dia berkuasa, maka mereka menggerutu, mengeluh, dan terjatuh ke dalam keputusasaan, lalu Dia menjawab, ”Mengapa ketika Aku datang tidak ada orang, dan ketika Aku memanggil tidak ada yang menjawab?” (Yes 50:2). Aku memperingatkanmu, dan Aku sabar menghadapimu. Di mana engkau ketika Aku memanggil? Penderitaan mereka sama sekali bukan karena kelalaian Allah. Tidak. ”Sesungguhnya, oleh karena kesalahanmu sendiri kamu terjual dan oleh karena pelanggaranmu sendiri ibumu diusir” (Yes 50:1). Kegelapan hidup disebabkan oleh hitamnya dosa. Sering kali disebabkan oleh dosa kita sendiri, bukan karena kesalahan Allah.
Ketika hidup menjadi sulit, Allah tidak ingin kita menyesali rencana-Nya. Dia ingin kita mengandalkan kasih-Nya. ”Sesungguhnya, tangan TUHAN tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaran-Nya tidak kurang tajam untuk mendengar; tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu” (Yes. 59:1-2). Allah mampu menyelamatkan kita dari apa pun yang kita hadapi. Dia ingin menanggung kegelisahan kita karena Dia peduli pada kita (1 Pet. 5:6-7).
Telinga-Nya tidak tertutup bagi kita. Hatinya tidak tumpul terhadap kita. Namun, kita menolak untuk memiliki-Nya karena kegelapan di dalam kita dan di sekitar kita telah menyembunyikan-Nya dari kita.
Hidup (Bukan) Karena Melihat
Ketika banyak orang menutup telinga mereka terhadap undangan dan peringatan-Nya Allah, menyalakan api mereka yang membenci Allah, Yesaya mengatakan seorang pendengar akan muncul dari antara orang tuli – seorang hamba yang cukup kuat untuk menderita ketidakadilan dan cukup berbelas kasih untuk merawat dan menopang yang lemah.
Sementara begitu banyak orang, yang dikecewakan oleh keputusasaan, menutup telinga mereka dan membenci Allah mereka sendiri di dalam hati mereka, hamba ini dengan berani berkata, “Tuhan ALLAH telah memberikan kepadaku lidah seorang murid, supaya dengan perkataan aku dapat memberi semangat baru kepada orang yang letih lesu. Setiap pagi Ia mempertajam pendengaranku untuk mendengar seperti seorang murid” (Yes. 50:4). Sementara yang lain sedang menyalakan api, maka dia mengikuti telinganya, melalui kegelapan pekat, untuk mendengar kata-kata kehidupan. Ketika dia tidak bisa melihat terang, dia mendengarkan-Nya sebagai gantinya.
Kemudian dia berkata di ayat berikutnya, ”Tuhan ALLAH telah membuka telingaku” (Yes. 50:5). Di saat tergelap, Allah akan melakukannya untuk hamba Tuhan. Di masa yang jauh lebih gelap, Dia melakukan hal yang sama dan terlebih untuk Kristus (Yoh. 17:8). Jika Anda dapat mendengar suara-Nya di saat-saat tergelapnya Anda, itu karena Dia melakukannya (Mat. 11:15). Dia telah membuka telinga hatimu. Jangan meremehkan suara-Nya; jangan meraih api yang Anda buat sendiri. Tidak, biarkan saat kegelapan yang luar biasa ini mengajari Anda bagaimana hidup karena percaya; bukan karena melihat (2 Kor. 5:7).
Hidup dengan Terang yang Lain
Jika kita berjalan dengan terang api kita sendiri, maka kita akan terbakar. Lalu, bagaimana kita bertahan dalam kegelapan keputusasaan kita? Yesaya memberitahu caranya. ”Siapa di antaramu yang takut akan TUHAN dan mendengarkan suara hamba-Nya? Jika ia hidup dalam kegelapan dan tidak ada cahaya bersinar baginya, baiklah ia percaya kepada nama TUHAN dan bersandar kepada Allahnya!” (Yes. 50:10). Percayalah pada-Nya; andalkanlah Dia; dengarkanlah Dia. Singkirkanlah api yang Anda coba percayai; dan berjalanlah dengan terang suara-Nya — suara yang hanya kita dengar dalam firman-Nya. Bertobat, percaya, dan ambil langkah berikutnya.
Jika Anda dapat mendengar suara-Nya, Dia telah membangunkan telinga Anda untuk mendengar. Di antara semua hal yang dikatakan-Nya kepadamu, Dia berjanji, ”Apabila engkau menyeberang melalui air, Aku akan menyertai engkau, atau melalui sungai-sungai, engkau tidak akan dihanyutkan; apabila engkau berjalan melalui api, engkau tidak akan dihanguskan, dan nyala api tidak akan membakar engkau” (Yes. 43:2). Tidak peduli betapa gelapnya hidupmu, Aku akan bersamamu. ”Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau” (Yes. 41:10).
Ketika kita duduk dalam kegelapan, dikelilingi oleh rintangan dan musuh, dan bahkan kegagalan kita sendiri, maka kita dapat berkata, “Janganlah bersukacita atas aku, hai musuhku! Sekalipun aku jatuh, aku akan bangun pula, sekalipun aku duduk dalam gelap, TUHAN akan menjadi terangku” (Mik 7:8). Ketika kita direndahkan dan dibuat putus asa, bahkan ketika kita tergoda untuk putus asa, Dia akan menjadi terang yang kita butuhkan.
***
Artikel ini diterjemahkan dari desiringgod.org dengan judul "How Not to Be Desperate."