Sesudah Virus Berlalu
Kehidupan Sehari-hari Dalam Terang Kekekalan

30 April 2020
Artikel oleh Scott Hubbard
Editor, desiringGod.org

Ketika ada dua ratus ribu orang masuk ke dalam kekekalan, dan ada dua ratus ribu keluarga yang merasakan perihnya kehilangan orang-orang yang mereka kasihi, doa Musa yang tidak membuat nyaman akan menekan diri kita: ”Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana” (Mzm. 90:12).

Ajarlah kami, ya Allah, untuk melihat dua ratus ribu kematian ini sebagai bayangan kematiannya kami sendiri. Ajarlah kami untuk merasakan bahwa hidup kami, tidak peduli berapa lama, hanyalah “seperti mimpi, seperti rumput yang … lisut dan layu” (Mzm. 90:5-6). Ketika nafas kehidupan masih ada pada kami, ajarlah supaya kami mendapat hati yang bijaksana sehingga bisa mengerjakan satu-satunya pekerjaan yang akan berarti dalam kekekalan.

Pada sisi lainnya virus Corona, orang-orang yang paling bijaksana bukanlah mereka yang sudah mendiversifikasi portofolio keuangannya (atau mereka yang telah menimbun masker dan tisu toilet sebagai persiapan potensi datangnya gelombang kedua), melainkan mereka yang telah belajar untuk berkata dari dalam hatinya, ”Hanya ada satu kehidupan. Ini pun akan segera berlalu. Hanya apa yang dilakukan untuk Kristus yang akan bertahan.”

Teguhkanlah Perbuatan Tangan Kami

Sebagai makhluk yang memiliki kekekalan dalam hati kita (Pkh. 3:11), kita lambat menyadari bahwa hidup ini hanyalah seperti uap. Saat ini, hidup terasa kokoh dan aman. Kita sering bertindak seolah-olah selamanya akan seperti demikian sehingga kita jarang melihat perbuatan dalam hidup kita dengan mengingat kalau hidup ini singkat. 

Namun, bencana membawa kematian mendekat. Bulan-bulan sebelumnya mempertajam Mazmur 90 dan menjadikannya fokus yang tidak menyenangkan: ”Engkau mengembalikan manusia kepada debu, dan berkata: “Kembalilah, hai anak-anak manusia!… Engkau menghanyutkan  manusia… segala hari kami berlalu karena gemas-Mu, kami menghabiskan tahun-tahun kami seperti keluh” (Mzm. 90:3, 5, 9). Di Amerika Serikat saja, ada lebih dari lima puluh ribu orang yang mati (hanya dalam waktu satu bulan). Perkataan C.S Lewis tentang Perang Dunia II benar: 

Perang tidak menciptakan situasi yang sama sekali baru; itu hanya memperburuk situasi manusia yang sudah permanen sehingga kita tidak bisa lagi mengabaikannya. Kehidupan manusia selalu berada di tepi jurang (“Learning in War Time,” 49). 

Kita selalu hidup di tepi jurang yang sudah hampir longsor di bawah kaki kita. Kehancuran yang disebabkan oleh virus Corona hanyalah gambaran mengenai apa yang suatu hari akan terjadi pada kita dan semua yang kita cintai. Berbagai bangsa dan ekonomi, kesehatan dan berbagai relasi pada akhirnya akan menyerah; dihancurkan oleh waktu. Ngengat dan karat akan menghancurkan harta yang kita pikir aman tersendiri. Hidup, yang berkembang hijau di pagi hari, akan layu pada sore hari.  

Tidak heran jika Musa mengakhiri refleksinya tentang kematian dengan doa keputusasaan: ”Kiranya kebaikan Tuhan, Allah kami, ada atas kami, dan teguhkanlah pekerjaan tangan kami, ya, teguhkan perbuatan tangan kami.” (Maz. 90:17, AYT). Hanya Allah yang bisa mengambil benih-yang-sekarat tersebut, yang disebut kehidupan, dan membuatnya menghasilkan buah yang bertahan hingga pada masa kekekalan

Berjerih Payah di Dalam Tuhan

Setelah genap waktunya, Allah menjawab doa Musa. Dia yang ”dari selamanya sampai selamanya” (Maz. 90:2) turun ke dalam dimensi waktu dan menyelubungi dirinya dengan bumi. Dia mencicipi kutuk dari singkatnya kehidupan dan kemudian kembali menjadi debu sama seperti anak-anak Adam.

Namun, Dia kemudian bangkit sebagai buah sulungnya ciptaan baru yang bebas dari kutuk (1 Kor. 15:20, 23). Sekarang, di dalam Yesus Kristus, hidup-dan-pekerjaan kita tidak dilenyapkan, tetapi akan tetap bertahan: ”berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan!  Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia” (1 Kor. 15:58).

Di luar Tuhan, pekerjaan kita yang paling mengagumkan tidak berarti apa-apa – peradaban dibangun di pantai waktu, di mana air pasang naik dengan cepat. Karir, rekening bank, reputasi, warisan, keluarga, jika dibangun di atas nama kita alih-alih di atas nama Kristus, pasti akan lenyap pada waktunya. Mereka mungkin saja bisa lolos dari virus, api, dan banjir (bahkan mungkin bertahan lebih lama dari kehidupan kita yang singkat ini), tetapi akan tiba waktunya di mana ”bumi dan segala yang ada di atasnya akan hilang lenyap” dan setiap pekerjaan di luar Kristus akan lenyap (2 Pet. 3:10-11). 

Namun, di dalam Tuhan, tidak ada pekerjaan yang sia-sia. Kekuatan kita mungkin kecil. Hidup kita singkat. Kita tidak memiliki reputasi apa-apa. Namun, jika kita mendedikasikan hari-hari kita untuk hidup ”dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur  oleh Dia kepada Allah, Bapa kita” (Kol. 3:17), maka Allah sendirilah yang akan meneguhkan pekerjaan tangan kita.

Orang Biasa Yang Radikal

Apa maksudnya berjerih payah di dalam Tuhan? Kita perlu berulang-ulang mengajukan pertanyaan ini sepanjang hidup kita, tidak hanya di tengah-tengah pandemi. Namun, saat-saat seperti ini memberi berbagai pilihan yang sangat jelas di hadapan kita. Hari-hari kita dihitung, kekekalan segera datang, dan satu-satunya jerih payah yang penting adalah jerih payah di dalam Tuhan. Jadi, apa yang harus kita lakukan?

Menghitung hari akan membawa banyak orang-yang-biasa mengambil berbagai langkah yang radikal. Barangkali virus corona memang diperlukan untuk mengungkapkan betapa banyak hal sepele yang menyita waktu kita dan membuat kita merasa betapa mendesaknya berbagai pekerjaan baik yang sudah lama ingin kita kerjakan. Barangkali sekarang memang adalah waktunya untuk bertindak; untuk memulai sebuah kelas studi Alkitab bagi para narapidana; untuk melepaskan beberapa tanggungjawab di sini sehingga bisa pindah ke luar negeri; untuk lebih serius dalam penginjilan.

Orang yang radikal tidak perlu menunggu kehidupan untuk kembali ”normal”. Ingatlah, apa yang kita sebut ”kehidupan normal” merupakan kehidupan di tepi jurang yang tidak jauh berbeda dengan kehidupan seperti yang kita bayangkan sekarang. Beberapa orang Kristen, dengan hati yang penuh kebijaksanaan, memberikan waktu mereka untuk mengirimkan makanan segar kepada tetangga – secara gratis. Yang lain mengasuh anak-anak yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga. Beberapa orang yang sudah pensiun kembali ke ICU di mana mereka melayani orang yang sakit dan sekarat.

Hidup ini terlalu singkat, sementara kekekalan terlalu panjang, bagi kita untuk tidak menceburkan diri kita ke dalam sesuatu yang rasanya besar, penuh resiko dan penuh potensi untuk memuliakan Kristus.

Keseharian yang Radikal 

Hidup terlalu singkat, sementara kekekalan terlalu panjang, bagi kita untuk menyia-nyiakan momen sehari-hari. Menghitung hari tidak hanya membuat para orang-yang-biasa mengambil langkah yang radikal, tetapi juga akan membawa kita mengambil semua langkah biasa secara radikal. Jerih payah kita tidak perlu luar biasa agar memenuhi syarat untuk disebut berjerih payah ”di dalam Tuhan”. Tindakan yang paling kecil, yang dilakukan melalui-dan-untuk Kristus, tidak akan kehilangan upahnya (Mat. 10:42).

Lewis melanjutkan lagi, ”Pekerjaan seorang Beethoven dan pekerjaan seorang wanita pembantu rumah tangga menjadi rohani pada kondisi yang persis sama jika pekerjaan tersebut dipersembahkan kepada Allah; dilakukan dengan rendah hati ’seperti untuk Tuhan’” (55-56). Jerih payah kita di dalam Tuhan kebanyakan memang seperti pekerjaannya si wanita pembantu rumah tangga ini, yaitu tindakan yang kecil, tetapi penting; yang selaras dengan panggilan yang Allah berikan kepada kita. Namun, di dalam iman, setiap pekerjaan tersebut kita dedikasikan kepada Allah. 

Kita memasak untuk keluarga; menulis surat untuk teman; terlibat dalam pelayanan berkunjung; memberkati anak-anak sebelum tidur: merupakan contoh berbagai ketaatan-yang-dilupakan dalam momen-yang-dilupakan di tempat-yang-dilupakan. Begitulah. Dilupakan oleh kita – tetapi tidak dilupakan oleh Allah. ”Kamu tahu, bahwa setiap orang, baik hamba, maupun orang merdeka, kalau ia telah berbuat  sesuatu yang baik, ia akan menerima balasannya dari Tuhan.” (Efe. 6:8). Bersama Allah, perbuatan yang terkecil sekali pun yang dilakukan di dalam Tuhan akan meninggalkan jejak yang akan bertahan lebih lama daripada langit.

Kekekalan di Masa Sekarang

Dalam anugerah yang tiada bandingannya, Allah memberi kita kehormatan dengan meneguhkan perbuatan tangan kita. Dia mengambil ”segenggam kabut” ini (sebagaimana David Gibson menyebutnya) dan menciptakan sesuatu yang jauh dari jangkauan berbagai virus atau bencana apapun. Namun, semuanya itu hanya terjadi jika kita hidup dalam terang kekekalan. Semuanya itu dimulai dengan hidup dalam terang kekekalan pada hari ini.

Menghitung hari dimulai dengan menghitung hari ini. Hari ini tidak bisa diulangi, yaitu masa 24 jam pemberian Allah, yang dipenuhi dengan berbagai kesempatan untuk berjerih payah di dalam Tuhan. Kita belum mendapat hati-yang-bijaksana hingga kekekalan masuk ke dalam kekinian dan mengajar kita untuk menghidupi hari ini dalam terang kekekalan untuk selamanya. Tidak masalah jenis pekerjaan apa yang akan kita hadapi hari ini – radikal atau biasa saja, menyenangkan atau pahit. Yang penting, apakah kita melakukannya di dalam Tuhan. 

Jika kita melakukannya di dalam Tuhan, maka Allah sendiri yang akan meneguhkan perbuatan tangan kita yang lemah-dan-sekarat tersebut. Ya, Dia akan meneguhkan perbuatan tangan kita.

***

Artikel ini diterjemahkan dari desiringgod.org dengan judul "After the Virus Has Passed Ordinary Life in Light of Eternity"

You may also like...

Tinggalkan Balasan