Apakah Saya Akan Percaya Pada Allah?

Doa yang Sederhana Dalam Masa-masa yang Sukar

3 Maret 2022
Artikel oleh Jon Bloom
Staf penulis
, desiringGod.org

Seandainya Anda juga berada di sana pada saat itu, melihat dari kejauhan, Anda tidak akan melihat sesuatu yang dramatis. Saya berbicara tentang peristiwa ketika Abraham (yang masih bernama Abram pada saat itu) melangkah keluar dari tendanya dan menatap ke langit; menatap bintang-bintang. 

Anda mungkin pernah mendengar dia menggumamkan sesuatu atau hal lainnya. Mungkin pada titik tertentu, ia mengangkat tangannya atau membungkuk ke tanah. Berbagai gerakan ini tidak akan tampak aneh karena semua orang tahu Abram adalah orang yang sangat saleh. Karena lelah, karena memang sudah tengah malam, Anda mungkin akan meninggalkan Abram untuk apa pun yang sedang dia lakukan dan pergi tidur.

Anda tidak akan tahu bahwa ini adalah momen yang menentukan dalam kehidupan Abram. Anda tentu tidak akan menduga ini adalah momen yang menentukan dalam sejarah dunia yang akan berdampak pada miliaran orang. Karena semuanya itu tampak begitu tidak dramatis.

Namun, begitulah saat-saat seperti ini – saat-saat yang sangat mengarahkan dan menentukan busur sejarah – sering muncul pada awalnya. Dalam hal ini, apa yang membuat menit-menit yang mengubah dunia dari pengamatan bintang yang begitu tenang menjadi monumental karena si orang tua ini, di relung dalam hatinya, percaya pada Allah. 

Didesak Hingga Hampir Tidak Percaya

Namun, untuk memahami kedalaman makna dari momen-yang-menentukan ini, kita perlu melihat bagaimana keyakinannya si orang tua tersebut telah didesak hingga sampai di ambang batas. 

Semuanya dimulai dalam Kitab Kejadian 12 ketika Allah menyampaikan kepada Abram sebuah janji yang luar biasa, terlepas dari fakta bahwa Abram (sudah berusia 75) dan Sarai (sudah berusia 66) yang belum memiliki anak: 

”Berfirmanlah TUHAN kepada Abram: ’Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu. Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat. Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat’” (Kej. 12:1-3).

Jadi, ”karena iman Abraham taat”, berkemas-kemas dan siap berangkat meskipun ”ia berangkat dengan tidak mengetahui tempat yang ia tujui” (Ibr. 11:8). Ketika ia dan suku kecilnya tiba di Sikhem, Allah berfirman lagi padanya dan berkata: ”Aku akan memberikan negeri ini kepada keturunanmu” (Kej. 12:7).

Waktu berlalu. Berkat Allah sungguh tercurah pada Abram dan sukunya, termasuk atas rumah tangga keponakannya Lot. Harta dan kawanan ternak gabungan mereka berkembang begitu pesat – begitu banyak hingga Abram dan Lot harus berpisah menjadi dua suku. Namun, Abram tetap tidak memiliki keturunan – kunci untuk penggenapan janji terbesar-Nya TUHAN padanya. Meskipun demikian, TUHAN sekali lagi menegaskan janji-Nya (Kej. 13:14–16).

Waktu terus berlalu. Allah terus memberkati apa pun yang dikerjakan Abram. Sekali lagi, TUHAN menampakkan diri kepadanya dan berkata:

”Janganlah takut, Abram, Akulah perisaimu; upahmu akan sangat besar” (Kej. 15:1). 

Namun, bagi Abram (yang sekarang berusia delapan puluhan) dan Sarai (yang sudah berusia tujuh puluhan), masalah pelik yang sama masih tetap ada. Di tengah semua berkat kemakmuran yang telah dicurahkan Allah secara berlimpah-limpah kepadanya, ada satu tempat kemiskinan yang mencolok-dan-penting, yaitu Abram masih belum memiliki keturunan.

Doa Orang Beriman Pada Masa Sukar 

Pada titik inilah Abram tidak dapat menahan kebingungannya yang menyedihkan akan jurang dari inti berbagai janji-Nya Allah. Dalam masa sukar, ia mencurahkannya melalui: 

”’Ya Tuhan ALLAH, apakah yang akan Engkau berikan kepadaku, karena aku akan meninggal dengan tidak mempunyai anak, dan yang akan mewarisi rumahku ialah Eliezer, orang Damsyik itu.’ Lagi kata Abram: ’Engkau tidak memberikan kepadaku keturunan, sehingga seorang hambaku nanti menjadi ahli warisku’” (Kej. 15:2-3).

Rasul Paulus di kemudian hari menulis, ”Tetapi terhadap janji Allah ia [Abram] tidak bimbang karena ketidakpercayaan, malah ia diperkuat dalam imannya dan ia memuliakan Allah dengan penuh keyakinan, bahwa Allah berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia janjikan” (Rom. 4:20-21). Namun, melalui doanya Abram di atas, apakah kita melihat iman Abram menjadi goyah?

Tidak. Apa yang kita lihat bukanlah ketidakpercayaan, tetapi kebingungan-yang-tulus. Ada perbedaan di antara kedua hal tersebut. Kebingungan Abram mirip dengan kebingungan perawan muda Maria ketika Gabriel mengatakan kepadanya bahwa dia akan ”mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki”. Dia menjawab, ”Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?” (Luk. 1:30, 34). Ini adalah pertanyaan yang masuk akal. Seorang perawan tidak hamil. Pertanyaan Abram juga masuk akal berkaitan dengan hukum alam, yaitu: wanita mandul yang telah melewati masa suburnya tidak akan bisa hamil.

Allah tidak tersinggung atau merasa tidak dihormati oleh kebingungan Maria atau Abraham yang tulus tersebut. Itulah sebabnya Ia menanggapi keduanya dengan kebaikan yang murah hati. Jawaban Allah juga masuk akal meskipun kewajaran-Nya sering kali memang melampaui batas-batas akal manusia (”Adakah sesuatu apa pun yang mustahil untuk TUHAN?”, Kej. 18:14).

Jadi, sebagai jawaban atas doa Abram yang sungguh-sungguh dalam masa sukar tersebut, Allah dengan murah hati mengundangnya untuk melangkah keluar.

Malam yang Dipenuhi Bintang-bintang

Allah berkata pada Abram: 

”Coba lihat ke langit, hitunglah bintang-bintang, jika engkau dapat menghitungnya.” Maka firman-Nya kepadanya: ”Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu” (Kej. 15:5).

Tiba-tiba, ini menjadi saat-yang-menentukan bagi Abram. Jawaban Allah tidak termasuk mengenai bagaimana Abram akan mendapatkan keturunan. Yang Allah lakukan hanyalah menegaskan kembali, dan bahkan memperluas ruang lingkup, mengenai apa yang telah dijanjikan-Nya. Dengan kata lain, Allah seolah-olah berkata: ”Aku akan memberi engkau lebih banyak keturunan daripada yang dapat engkau hitung atau bayangkan. Apakah engkau percaya pada-Ku?”

Abram yang sudah renta (dengan seorang istri yang sudah uzur dan tenda yang tidak memiliki anak di dalamnya) melihat ke langit malam yang dipenuhi bintang-bintang sehingga tampak seperti awan cahaya (dengan firman Tuhan yang berbicara dalam pikirannya; sambil menyadari bahwa apa pun yang dilakukan Allah adalah mengenai sesuatu yang jauh lebih besar dibandingkan yang bisa dipahaminya),  Abram kemudian memutuskan untuk percaya ”bahwa Allah berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia janjikan” (Rom. 4:21). 

”Lalu percayalah Abram kepada TUHAN, maka TUHAN memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran” (Kej. 15:6).

Tidak seorang pun, bahkan Abram, bisa melihat bagaimana peristiwa ketika seorang pria dibenarkan, diperhitungkan benar di mata Allah hanya karena dia percaya pada Allah, merupakan peristiwa yang membentuk sejarah; menentukan takdir. Hanya karena seseorang percaya pada janji-Nya Allah berdasarkan persepsinya sendiri; karena seseorang percaya kepada Allah dan tidak bersandar pada pemahamannya sendiri (Ams. 3:5), maka dunia tidak akan pernah sama lagi setelah peristiwa tersebut; pada malam yang dipenuhi dengan bintang-bintang itu. 

Sukacita Setelah Percaya

Saya tidak bermaksud menyatakan kalau selanjutnya akan berjalan lancar-lancar saja sejak si orang saleh tersebut berganti nama menjadi Abraham, ”bapa sejumlah besar bangsa” (Kej. 17:5). Tidak sama sekali. Peristiwa Hagar dan Ismael, serta berbagai peristiwa lainnya, masih akan terjadi pada masa mendatang. Ishak, yang pertama dari keturunan yang dijanjikan, baru akan lahir lima belas tahun (atau lebih) kemudian. Allah masih memiliki momen lain yang menentukan bagi Abraham di lereng Gunung Moria. Jalan iman adalah jalan yang kasar; yang hampir selalu lebih menuntut ketimbang yang kita harapkan.

Namun, setelah malam itu, Abraham tidak goyah dalam keyakinannya bahwa Allah akan, entah bagaimana, melaksanakan apa yang telah dijanjikan-Nya. Allah memang melaksanakannya. Dia membuat Abraham, Sara, dan semua orang yang mengenal mereka tertawa kegirangan – ”sukacita yang mulia dan yang tidak terkatakan” (1 Pet. 1:8) – ketika Ishak akhirnya lahir. Karena memang di situlah berada; di jalan-iman yang kasar tersebut, jalan-yang-sempit yang menuju pada kehidupan (Mat. 7:14) yang pada akhirnya mengarah pada ”sukacita berlimpah-limpah… nikmat senantiasa” (Mzm.16:11).

Allah menuntun sebagian besar anak-anak-Nya, yang adalah anak-anak Abraham karena mereka hidup dari iman Abraham (Rom. 4:16), hingga tiba pada berbagai momen-iman-yang-menentukan; saat-saat ketika iman kita didesak hingga hampir tiba di titik tidak percaya (atau seperti begitulah tampaknya bagi kita). Saat-saat seperti ini mungkin tidak tampak dramatis bagi orang lain. Namun, bagi kita, di relung hati kita yang terdalam, semuanya tampak muncul bersamaan. Pada saat-saat seperti ini, semuanya bermuara pada pertanyaan yang sederhana, namun mendalam (dan mungkin menyedihkan): Apakah saya akan percaya pada Allah?

Apa yang biasanya tidak jelas bagi kita adalah betapa pentingnya momen itu bagi sejumlah orang lain yang tak terhitung jumlahnya kelak. Karena memang benar bahwa dalam mencapai tujuan iman kita, yaitu keselamatan jiwa kita (1 Pet. 1:9), apa yang akan dihasilkan setelah bertahun-tahun dan berabad-abad kemudian adalah keselamatan orang lain – begitu banyak, mungkin, hingga akan mengejutkan pikiran kita andaikan kita bisa melihatnya.

Ketika Anda percaya kepada Allah, Dia memperhitungkannya sebagai kebenaran; sebagai penerimaan penuh dari Allah sendiri. Ketika Anda percaya kepada Allah, itu akan berakhir pada tertawa-kegirangan-melihat-Ishak dari sukacita yang tak terkatakan karena Anda juga pada akhirnya akan melihat Allah melakukan apa yang telah dijanjikan-Nya bagi Anda. Ketika Anda percaya kepada Allah, Anda akan berbagi sukacita-yang-tak-terkatakan tersebut (karena Anda percaya) dengan orang-orang yang akan tertawa-dalam-sukacita bersama-sama dengan Anda.

***

Artikel ini diterjemahkan dari desiringgod.org dengan judul "Will I Trust God?"

You may also like...

Tinggalkan Balasan