Bagaimana Penderitaan Membuat Kita Kuat
23 April, 2020 Artikel oleh Scott Hubbard Editor, desiringGod.org
Beberapa pengalaman mengungkapkan jati diri kita, seperti misalnya pengalaman dalam penderitaan. Ketika pencobaan datang, kita hampir tidak bisa menahan diri untuk tidak membuka hati kita dan membiarkan orang lain melihatnya.
Beberapa orang yang sedang mengalami penderitaan menundukkan kepala mereka dan memuji Allah, sementara yang lain mengutuki Allah. Sambil menangis beberapa orang berkata, ”Saya memercayai Engkau.” Sementara itu, yang lain menolak untuk berdoa. Beberapa orang tersungkur di hadirat Allah dan belajar untuk mengasihi Dia dengan hati yang hancur, sementara yang lain membalikkan badan dan pergi menjauh.
Apa yang membuat perbedaan di antara orang-orang yang sedang mengalami penderitaan tersebut? Tentu saja ada lusinan faktor. Namun, satu hal yang paling signifikan adalah mengenai apa yang kita ketahui tentang penderitaan. Yakobus menulis surat kepada orang-orang Kristen yang sedang hancur hati karena pencobaan, mendorong mereka untuk menderita dengan setia, karena mereka tahu bahwa: ”Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu …” (Yak. 1:2-3).
Yakobus menyerukan mereka untuk berbahagia karena mereka tahu sesuatu tentang penderitaan. Apa yang mereka ketahui? Mereka tidak tahu banyak tentang hal-hal spesifik yang sedang Allah kerjakan melalui pencobaan yang mereka alami. Mereka tidak tahu mengapa berbagai pencobaan ini harus terjadi sekarang. Mereka juga tidak tahu berapa lama pencobaan ini akan berlangsung. Namun, mereka tahu kalau ada sebuah janji yang sederhana; yang penuh dengan kuasa: ”… sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketabahan” (Yak. 1:3, AYT).
Ujian menghasilkan ketabahan. Jika tiga kata ini bisa menancapkan akarnya ke dalam jiwa kita, maka kita mungkin akan menghadapi pencobaan dengan respon yang paling radikal, yaitu dengan berbahagia.
Diuji dengan Api
Yakobus memulai janjinya dengan sebuah kata yang diambil langsung dari dunia pengolahan logam: ”Ujian…menghasilkan ketabahan.” Sama seperti perak dan emas dimurnikan dalam tungku pembakaran (Maz. 12:6; Ams. 27:21), orang Kristen juga dimurnikan atau diuji melalui pencobaan (lihat juga 1 Pet. 1:7).
Gambaran pengujian ini – ketika logam dibersihkan dengan api – keduanya membuktikan-dan-menunjukkan mengenai apa yang kita rasakan dalam penderitaan. Hal itu membuktikan mengenai fakta dasar bahwa penderitaan menempatkan kita dalam api. Kita tidak perlu berpura-pura bahwa panas dari pencobaan yang kita alami tidak menyakiti kita; atau bahwa jiwa kita tidak lagi menanggung bekas tanda-tanda nyala api itu bahkan bertahun-tahun sesudahnya. Pencobaan adalah api. Api membakar bahkan ketika iman kita kuat seperti perak.
Namun, kata ujian yang dinyatakan Yakobus juga menunjukkan dengan penuh kasih mengenai berapa banyak dari yang kita rasakan dalam penderitaan. Jika pencobaan yang kita alami memang adalah sebuah ujian, maka pencobaan yang kita alami tersebut tidak bersifat acak atau tanpa tujuan. Sebaliknya, semuanya itu berasal dari Sang Penguji. Bukan sembarang Penguji, tetapi Allah dan Bapa-Nya Tuhan kita Yesus Kristus – Allah yang baik, Allah yang murah hati, Allah yang sudah memahami bagaimana rasanya nyala api tersebut.
Meskipun pencobaan menimpa kita, kita masih tetap menjadi biji mata-Nya (Ula. 32:10). Meskipun penderitaan membuat kita merasa tidak berarti, kita masih dibungkus dalam kebaikan dan rencana-Nya yang sempurna (Efe. 1:11). Meskipun nyala apinya semakin besar, kita masih tersembunyi dengan aman dalam tangan-Nya (Yes. 43:2).
Hasil Dari Rasa Sakit
Dalam penderitaan, seringkali mata kita hanya melihat apa yang diambil dari kita. Kita melihat, tapi tidak bisa berkata apa-apa, ketika api tersebut melahap banyak hal yang kita sayangi. Namun, di balik abunya, pencobaan yang kita alami menghasilkan sesuatu. “Ujian… menghasilkan ketabahan.” Jika kita percaya kepada Allah dan menunggu dengan sabar, apa yang kita dapat dari pencobaan tersebut akan jauh lebih banyak daripada apa yang terhilang.
Ya, tetapi bagaimana kita tahu bahwa pencobaan yang kita alami menghasilkan sesuatu yang mulia? Itu adalah pertanyaan yang muncul berulangkali pada malam-malam ketika kita tidak bisa tidur; yang mengganggu di tengah-tengah jam kerja kita sepanjang hari; yang membawa kemuraman bagi iman kita yang goyah.
Kita tahu bahwa penderitaan menghasilkan ketabahan bukan karena selalu bisa melihat hasil dari proses tersebut. Biasanya, pada saat itu, yang bisa kita lihat hanyalah penderitaan: hasil diagnosis, perceraian, kesendirian, penantian yang panjang. Namun, kita tahu bahwa penderitaan kita menghasilkan sesuatu karena Allah tidak hanya berjanji, tetapi juga menunjukkan pola ini dalam kehidupan umat-Nya – tanpa terkecuali.
Jika kita menyelidiki Alkitab, dan sejarah hidup semua orang kudus, kita akan menemukan banyak Ayub yang dipenuhi bisul; banyak Rut yang sedang menjanda dan jauh dari rumahnya; banyak Heman yang diliputi kegelapan dalam Mazmur 88. Namun, jika kita menelusuri kisah mereka, kita pasti akan menemukan ”maksud Tuhan pada akhirnya, bahwa Tuhan itu penuh belas kasih dan murah hati” (Yak. 5:11, AYT). Tidak pernah ada anak Allah yang penderitaannya sia-sia. Tidak akan pernah ada.
Dalam setiap pencobaan – dari sakit kepala hingga patah hati – Allah melukai anak-anak-Nya hanya untuk menyembuhkan mereka (Hos. 6:1); Dia menjatuhkan mereka hanya untuk mengangkatnya (Yes. 30:26); Dia mengirimkan api-Nya hanya untuk memurnikan mereka. Maka, kita bisa mendengar Allah bernyanyi untuk kita melalui kata-kata dalam himnenya John Rippon,
Ketika pencobaan berat terbentang di hadapanmu, Kasih karuniaKu cukup bagimu. Nyala api tidak akan menyakitimu, Aku hanya merancang agar kotoranmu dimusnahkan dan emasmu dimurnikan.
Orang yang Tabah
Seperti apa penampakan emas yang sudah dimurnikan? Ujian dari Allah menghasilkan sepuluh ribu kebaikan di dalam kita, di mana banyak di antaranya hanya bisa terlihat ketika kita menengok ke belakang dengan kacamata surgawi. Namun, di sini Yakobus menunjukkan satu dari sepuluh ribu hal itu: “Ujian… menghasilkan ketabahan.”
Ketabahan – yang juga diterjemahkan sebagai ketahanan atau ketekunan – mungkin tidak menarik perhatian kita sebesar iman, pengharapan dan kasih, tetapi ketabahan merupakan salah satu lencana karakter Kristen yang paling indah. Dengan ketabahan, kita bertahan menanggung beban; mengangkat hati kita ke surga; berlari menuju ke kehidupan yang kekal meskipun ada berbagai halangan dan rintangan.
Jika kita ingin melihat kemuliaan dari ketabahan, Yakobus mengatakan, ”turutilah teladan penderitaan dan kesabaran para nabi yang telah berbicara demi nama Tuhan” (Yak. 5:10). Orang Kristen yang tabah adalah Mikha pada zaman modern; yang dapat menolak Iblis sekalipun mereka duduk dalam gelap (Mik. 7:8-9). Mereka adalah Habakuk yang sabar; yang bisa melihat ladang yang tidak berbuah dan berkata, ”Namun, aku akan bersukacita” (AYT Hab. 3:18, AYT). Mereka adalah Sadrakh yang kuat; yang tidak takut lagi akan nyala api seperti dulu karena mereka tahu Allah bersama mereka (Dan. 3:25).
Orang Kristen yang tabah semakin berani dalam kesengsaraan (Rom. 12:12). Mereka merasakan adanya dosa yang melekat begitu kuat dan tidak ragu-ragu untuk membuangnya (Ibr. 12:1). Mereka berjalan dalam padang gurun penderitaan tanpa menjadi lemah (2 Kor. 1:6); menantikan pembebasan tanpa mengeluh (Rom. 8:25); dicemooh tanpa terjatuh (Mat. 10:22). Mata mereka menceritakan mengenai kisah peperangan yang dimenangkan; godaan yang dikalahkan; dan mahkota kemuliaan yang menanti (Yak. 1:12). Mereka adalah pohon oak kebenaran di tengah-tengah kita; batang lapuk yang kuat menahan angin kencang (Rom. 5:3-4). Mereka adalah orang-orang kudus yang memasang wajahnya seperti batu kemuliaan sehingga kita terkadang menangkap secercah cahaya Kristus.
Dari rasa sakit karena berbagai pencobaan yang kita alami, Allah menghasilkan ketekunan. Dari nyala api berbagai penderitaan kita, Allah menciptakan ketabahan.
Sukacita yang Kompleks
Jika kita tahu mengenai janji yang menyatakan bahwa ujian menghasilkan ketabahan, kita mungkin mendapat kekuatan tidak hanya untuk menahan penderitaan, tetapi juga untuk menelusuri garis dari rasa sakit kita pada saat ini hingga ketabahan kita pada masa depan – keajaiban demi keajaiban hingga mendapati diri kita menganggap setiap pencobaan adalah kebahagiaan (Yak. 1:2).
Sukacita yang demikian bukanlah suatu sukacita yang sederhana. Itu bukan senyum yang dilukis oleh Pollyanna atau semangat seorang motivator. Itu adalah sebuah sukacita yang kompleks; sebuah sukacita yang bercampur dengan airmata dan dukacita hingga ke dasarnya (2 Kor. 6:10). Dengan kata lain, ini adalah sebuah sukacita yang berasal dari dunia lain; suatu sukacita yang hanya berasal dari dukacitanya orang itu sendiri. Karena berasal dari dirinya sendiri, suatu hari dukacita itu akan kembali padanya dari sisi lain nyala api tersebut, yaitu ”sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apa pun” (Yak. 1:4).
Untuk sampai ke sana, kita perlu mengenali penderitaan kita seperti apa. Bukan seorang pencuri yang mencuri tahun-tahun terbaiknya kita, atau seorang pembunuh yang membunuh mimpi terindahnya kita, atau orang gila yang mengacungkan senjatanya secara sembarangan. Namun, penderitaan kita adalah hamba yang berasal dari Allah; diutus untuk membuat kita menjadi tabah.
***
Artikel ini diterjemahkan dari desiringgod.org dengan judul "Fortified by Fire How Suffering Makes Us Strong."