Kita sedang Berhutang

Rom. 15:27 (AYT)
Mereka sangat senang melakukannya, sebab itu memang kewajiban mereka. Karena jika bangsa-bangsa bukan Yahudi telah menerima bagian dalam hal-hal rohani milik orang Yahudi, maka mereka juga harus melayani orang Yahudi dalam kebutuhan jasmani mereka.



Di bagian ini, AYT dan TB menerjemahkan opheiletes sebagai “kewajiban.” Kata Yunani ini sebenarnya lebih tepat diterjemahkan sebagai “berhutang budi.”

Jika Saudara berhutang pada saya uang senilai Rp 10 juta, Saudara “wajib” membayar Rp 10 juta sehingga lunaslah hutang Saudara. Namun, jika karena saya memberitakan Injil dan Saudara menjadi diselamatkan karena pendengaran oleh firman Kristus (Rom. 10:17), bagaimana Saudara bisa melunasi hutang budi ini? 

Berapa nilai keselamatan Saudara? Jika Saudara tidak bisa mengkuantifikasi keselamatan Saudara, bagaimana mungkin Saudara bisa pernah melunasinya? Karena itu, di bagian ini, Paulus berusaha mengingatkan jemaat mula-mula mengenai peran bangsa Yahudi terhadap bangsa non-Yahudi. 

Mereka tidak boleh melupakan “hutang budi” ini sehingga mereka dengan senang hati mau-dan-bersedia “melayani orang Yahudi dalam kebutuhan jasmani mereka.” Dalam konteks kita hari ini, para pekerja di gereja lokal kita juga harus dilayani kebutuhan jasmaninya. Kita berhutang budi pada berkat-berkat rohani yang telah mereka berikan pada kita.

Jika ada gembala yang terpaksa harus bekerja sampingan sebagai tukang ojek untuk menghidupi keluarganya, maka itu bisa dipandang sebagai kesalahan jemaat lokalnya atau sinode/arasnya. Kasih mereka begitu dingin pada gembalanya (2 Tim. 3:1-4). Mereka tidak peduli pada nasib saudara seimannya. Gedung gereja mereka megah dan mewah, tetapi kasih mereka mungkin bukan kasih Kristus.

Padahal, kita tahu kalau apa yang kita tabur itulah yang akan kita terima. Jika seorang gembala harus bekerja sebagai tukang ojek dari Senin-Sabtu, berkat rohani seperti apa yang akan Saudara terima di hari Minggunya?

You may also like...

Tinggalkan Balasan