Rom. 15:20 (AYT)
Demikianlah aku bertekad untuk memberitakan Injil di tempat Kristus belum dikenal supaya aku jangan membangun di atas dasar yang telah diletakkan orang lain.
Di bagian ini, AYT menerjemahkan philotimeomai sebagai “bertekad.” Sementara itu, versi TB menerjemahkannya menjadi “anggaplah sebagai suatu kehormatan.” Kata Yunani ini sebenarnya lebih tepat jika diterjemahkan menjadi “berambisi.”
Mungkin karena kata “ambisi” dipahami sebagai sesuatu yang negatif di Indonesia, para penerjemah memilih menggunakan kata lain. Padahal, kata “ambisi” inilah yang ingin ditekankan Paulus. Apa yang menjadi ambisi orang dunia dan anak Tuhan tidak mungkin sama; pasti berbeda total. Bahkan sangat mungkin malah akan selalu bertentangan.
Orang dunia biasanya berambisi mengejar jumlah/kuantitas; memiliki bangunan mewah dan megah; menjadi dikenal dan terkenal; memiliki kelimpahan materi. Sementara itu, anak-anak Tuhan berambisi ingin supaya mereka yang “belum pernah menerima berita tentang Dia akan melihat; mereka yang tidak pernah mendengar akan mengerti” (Rom 15:21).
Kita yang sudah mengalami Injil pasti hatinya berkobar-kobar ingin memberitakan Injil kepada orang-orang di sekitar kita. Mengapa? Supaya mereka juga bisa hidup di dalam anugerah-Nya. Supaya mereka juga bisa memiliki hidup yang berpengharapan seperti kita. Supaya mereka juga bisa menikmati sukacita dan damai sejahtera yang kita miliki saat ini.
Hati yang berkobar-kobar dari dalam inilah yang membuat kita bersedia mengabarkan Injil di tempat-tempat di mana Kristus belum dikenal. Itulah mengapa di tempat paling terpencil sekalipun di muka bumi ini, kita bisa melihat kalau Injil tetap diberitakan.
“Ambisi” bukanlah sesuatu yang negatif. Ini adalah kata yang netral. Yang perlu dipastikan sebenarnya justru apakah ambisi yang kita miliki saat ini adalah ambisinya orang dunia atau anak Tuhan?