Rom. 15:30-32 (AYT)
Sekarang, aku meminta kepadamu, saudara-saudara, demi Tuhan Kita Yesus Kristus dan demi kasih Roh, untuk bergumul bersama-sama denganku dalam doa kepada Allah untuk diriku, supaya aku dilepaskan dari orang-orang yang tidak taat di Yudea, dan supaya pelayananku demi Yerusalem berkenan bagi orang-orang kudus. Dan, supaya oleh kehendak Allah aku dapat datang kepadamu dengan sukacita, serta beroleh kesegaran di antara kamu.
Isi doa orang benar/kudus pasti sangat berbeda dengan orang dunia. Doanya akan terfokus dengan usahanya memuliakan Allah. Ujung-ujungnya pastilah terkait keselamatan jiwa-jiwa. Doanya sama sekali bukan lagi mengenai kepentingan “aku, saya, dan diriku” lagi, tapi semata-mata demi kepentingan Kerajaan Allah.
Kehendaknya akan tunduk pada kehendak Allah. Keinginannya akan selaras dengan keinginan Roh. Hidup ini bukan lagi miliknya. Hidup adalah untuk Kristus. Waktu, tenaga, kekayaan, kecerdasan, dan kesehatan kita dikelola dengan sebaik-baiknya demi kepentingan Kerajaan Allah semata.
Bagian ini juga mengingatkan kita untuk tidak mengilahkan pendeta/hamba Tuhan mana pun. Mereka adalah saudara rohani kita yang juga butuh didoakan. Daging mereka sama lemahnya dengan daging kita. Mereka tidak lebih superior dibandingkan kita.
Paulus dengan jelas meminta didoakan karena ia sungguh-sungguh menyadari kerapuhan dan kekurangannya. Ia sama sekali tidak merasa lebih superior dibandingkan orang Kristen lainnya.
Jika Paulus saja tahu diri meminta didoakan, apalagi kita?
Ada banyak orang yang mengilahkan pendeta/hamba Tuhan tertentu dengan cara meminta mereka mendoakan sesuatu. Seolah-olah mereka lebih superior. Seolah-olah kalau doa itu dipanjatkannya, maka akan dikabulkan. Jadilah mereka dicari-cari seperti dukun sakti jadinya.
Bagian ini mengingatkan kita untuk tidak melakukan hal seperti itu. Mendoakan para pekerja di gereja kita adalah hal yang baik-dan-alkitabiah untuk dilakukan orang Kristen.