Yak. 1:2-3 (AYT)
Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu sukacita jika kamu jatuh ke dalam berbagai pencobaan. Sebab, kamu tahu bahwa ujian terhadap imanmu menghasilkan ketabahan.
Bagian ini terasa saling bertolak belakang dengan Doa Bapa Kami. Di satu sisi kita diperintahkan untuk “anggaplah sebagai suatu sukacita jika kamu jatuh ke dalam berbagai pencobaan”. Namun, di sisi lain, kita diajarkan untuk berdoa meminta supaya “janganlah membawa kami ke dalam pencobaan” (Mat. 6:13). Yang mana yang benar?
Untuk bisa memahami ini, kita harus membedakan “pencobaan” (temptation/peirasmos) dan “ujian”(testing/dokimion). Di bagian ini, Yakobus mengontraskan kedua hal ini. Terlihat serupa, namun tidak sama.
Allah memang akan menguji iman kita (1 Tes. 2:4; Why. 2:23). Ketika hati-dan-iman kita sudah diuji, barulah kita bisa tahu iman yang kita miliki saat ini iman-yang-menyelamatkan atau malahan iman yang palsu/mati. Saat itu, kita berlari pada Tuhan?; atau melarikan diri dari Tuhan?
Lantas, bagaimana cara-Nya menguji kita? Yaitu dengan membawa kita ke dalam pencobaan, sama seperti halnya “Yesus dibawa oleh Roh ke padang gurun untuk dicobai Iblis” (Mat. 4:1). Meskipun Allah yang membawa kita, bukan berarti Allah yang mencobai kita, melainkan dengan mengijinkan Iblis yang melakukannya (Ayub 1:6-12, 2:1-7; Yak. 1:13).
Tidak seperti Yesus di padang gurun, kebanyakan dari kita gagal uji setiap kali dibawa ke dalam pencobaan. Daging kita lemah. Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat (Rom. 7:15, 19). Karena itu, kita berdoa supaya “janganlah membawa kami ke dalam pencobaan”. Kita tahu diri.
Meskipun sering gagal uji, namun, ujian terhadap iman ini akan “menghasilkan ketabahan”. Pertama, kita menjadi lebih tahu “keinginan daging”, “keinginan mata”, dan “keangkuhan hidup” mana saja yang membuat kita gagal uji (Yoh. 2:16).
Kedua, kita semakin mengerti kesetiaan-Nya (1 Kor. 10:13). Tujuh kali orang benar jatuh, namun ia akan bangun kembali (Ams. 24:16).
Ketiga, kita semakin mengerti kasih karunia-Nya (2 Kor. 12:9-10). Seperti Nabi Mikha, sambil meratapi dosa dan kelemahan kita, kita akan berseru: “Siapakah Allah yang seperti Engkau, yang mengampuni dosa, yang memaafkan pelanggaran, sisa-sisa milik pusaka-Nya? Yang tidak menahan murka-Nya untuk seterusnya, melainkan berkenan kepada kasih setia. Dia akan kembali mengasihani kita, menghapuskan kesalahan-kesalahan kita, dan melemparkan segala dosa kita ke kedalaman laut” (Mik 7:18-19).
Dalam konteks ketiga hal ini, kita bisa memandangnya “sebagai suatu sukacita jika kamu jatuh ke dalam berbagai pencobaan”.