28 Februari 2017 Artikel oleh Jon Bloom Staf penulis , desiringGod.org
Ada masa tertentu untuk segala sesuatu, dan ada waktu yang tepat untuk segala sesuatu di bawah langit. Ada waktu untuk lahir, dan ada waktu untuk mati. Ada waktu untuk menanam, dan ada waktu untuk mencabut yang ditanam… Ada waktu untuk mencari, dan ada waktu untuk menghilangkan. (Pkh 3:1-2, 6, AYT)
Ketika seorang bayi lahir; ketika suatu benih ditanam; atau ketika kita sedang mengejar sebuah proyek, fase, pangkat, karier, persahabatan, resolusi, pernikahan, rumah yang baru, maka kita merasakan kegembiraan-dan-harapan yang segar. Kita memasuki musim yang baru dengan perasaan penuh harapan akan masa depan. Kita menginvestasikan banyak mimpi, perencanaan, energi, dan seringkali uang di awal segala sesuatu (yang menjelaskan mengapa ada begitu banyak buku, video, dan pengajar yang menawarkan untuk membantu kita untuk memulai dengan baik).
Namun, tidak banyak bantuan yang tersedia untuk mengajari kita bagaimana mengakhiri dengan baik. Mungkin karena permintaannya jauh lebih rendah. Kita biasanya tidak suka memikirkan atau merencanakan bagian akhir, karena akhir berarti perpisahan. Akhir merupakan penutup babak yang sering kali membuat kita merasa menyesal, sedih, atau bingung tentang siapa diri kita dan apa tujuan kita ke depannya — atau campuran dari hal-hal di atas.
Apakah Awal Itu Lebih Baik?
Namun, akhir musim seringkali lebih penting ketimbang awalnya. Ketika seseorang meninggal, kita dapat melihat dengan lebih jelas siapa dia sebenarnya, yang selalu sangat penting. Saat panen, kita tahu yang sebenarnya dihasilkan dari musim dan ketekunan saat bertani. Ketika musim kehidupan berakhir, kita melihat, setidaknya sampai taraf tertentu, buah sejati dari semua impian, perencanaan, kerja keras, dan investasi kita.
Inilah sebabnya mengapa Alkitab berkata, “Akhir suatu hal lebih baik dari pada awalnya” (Pkh 7:8). Pada awalnya, ketika kita melihat ke depan, kita membayangkan masa depan yang masih berupa kemungkinan; bukan masa depan yang nyata. Visi kita selalu berupa beberapa campuran motif baik dan buruk; kasih-dan-ambisi yang egois; melayani Yesus dan melayani diri kita sendiri. Namun, melihat ke belakang, kita melihat kenyataan dengan lebih jelas bagaimana berbagai faktor — dosa kita yang berdiam dan kebaikan yang dipenuhi Roh, kekuatan dan kelemahan kita, kesia-siaan yang terjalin dalam zaman yang telah tercipta ini (Rom. 8:20-21), dan lain-lain — memengaruhi apa yang telah dimulai oleh kita.
Dengan kata lain, titik akhir biasanya lebih jujur ketimbang titik awal. Evaluasi harian yang dilakukan di malam hari lebih jujur ketimbang optimisme intensi di pagi hari yang sudah tercampur kafein.
Jadi, mengapa takaran yang serius dari retrospeksi yang realistis lebih baik ketimbang harapan yang tinggi dari prospek yang optimistis?
- Karena hikmat tidak ingin membangun rumahnya di atas pasir fantasi. Ia ingin membangun di atas batu kebenaran yang kokoh.
- Karena pada akhir suatu hal, lebih dari pada awalnya, kita melihat kebutuhan kita akan harapan yang lebih baik dan lebih kekal ketimbang apa pun yang dapat kita bangun di sini (Ibr 13:14).
- Karena seringkali sebuah akhir, lebih dari sebuah awal, memperlihatkan berhala-berhala kita — hal-hal atau orang-orang di mana kita telah menaruh harapan palsu dan dari siapa kita telah menarik makna identitas yang salah tempat.
Titik akhir sering kali lebih baik ketimbang titik awal karena mereka lebih berkuasa untuk mengarahkan kita kepada Allah sebagai satu-satunya harapan kita.
Mentor bagi ‘Waktu untuk Menghilangkan’
Untuk setiap “waktu untuk mencari”, ada “waktu untuk menghilangkan” (Pkh 3:6, AYT). Belajar untuk mengakhiri dengan baik, melepaskan dengan baik, merupakan salah satu topik yang paling diabaikan dalam pemuridan Kristen Barat. Hanya ada sedikit pengajaran dan panduan untuk menavigasi perairan yang rumit ini. Mungkin tidak mengherankan bahwa para pemimpin Kristen sering kali bergumul untuk keluar dari kepemimpinan, dan gereja-gereja bergumul dengan transisi kepemimpinan, dan orang Kristen, secara umum, sering mengalami kebingungan dan disorientasi pada akhir berbagai musim kehidupan dan pelayanan.
Namun, Allah akan menolong kita. Salah satu cara untuk mempersiapkan “waktu untuk menghilangkan” kita, dan menolong orang lain melakukan hal yang sama, adalah dengan sengaja mendoakannya. Allah dapat membuat transisi kita keluar dari sebuah musim sangat berkuasa dalam memuliakan Yesus.
Model dan mentor favorit saya untuk “waktu untuk menghilangkan” adalah Yohanes Pembaptis. Di akhir musim panggilannya, sang suara di padang gurun (Yoh 1:23), Elia yang akan datang (Mat 11:13-14), manusia terbesar yang lahir dari perempuan (Mat 11:11), yang berkobar di seluruh Israel seperti komet kenabian, berkata saat dia melihat pelayanannya yang agung tertutupi oleh bintang timur yang gilang-gemilang (Why 22:16),
“Itulah sukacitaku, dan sekarang sukacitaku itu penuh. Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.” (Yoh 3:29-30)
Kata-kata tersebut, sebagaimana perkataan Yohanes yang lain, mengungkapkan hati yang membuat dia begitu besar. Dia mengerti tentang apa makna hidupnya: Yesus! Awal pelayanannya adalah tentang Yesus dan, terlebih lagi, pada akhir pelayanannya.
Itulah yang terpenting dari setiap akhir dari setiap musim kehidupan kita: ”Yesus harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.”
Bagaimanapun Caranya, Tuhan
Akan ada waktu yang diberikan Allah untuk keluar dari setiap peran yang kita mulai. Beberapa akhir akan terasa manis dan jelas. Beberapa akan terasa pahit dan membingungkan. Karena itu, diperlukan hikmat yang berbeda untuk mengakhiri-dengan-baik ketimbang memulai-dengan-baik. Hal ini menuntut kerendahan hati yang ditempa oleh Roh dan iman yang diberdayakan oleh Roh untuk mempercayai kedaulatan, hikmat, dan kebaikan Allah dalam transisi tersebut.
Kita harus bersiap untuk momen-momen tersebut (atau harus meminta Allah untuk mempersiapkan kita) sehingga ketika setiap momen berakhir, kita akan mengatakan hal yang sama seperti Yohanes Pembaptis, ”Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.”
Bagaimanapun caranya, Tuhan, perbesar kasihku pada supremasi-Mu dan keyakinanku pada tujuan-Mu yang bijaksana sehingga, ketika tiba saatnya bagiku untuk melangkah keluar dari sesuatu yang telah Kau tunjuk untukku selama satu musim, aku akan menerima berkurangnya pengaruh yang kumiliki dengan iman yang penuh sukacita.
***
Artikel ini diterjemahkan dari desiringgod.org dengan judul "Lord, Prepare Me to End Well."