Yak. 2:12 (AYT)
Berbicara dan bertindaklah sebagai orang-orang yang akan dihakimi dengan hukum yang membebaskan.
Injil adalah “hukum yang membebaskan”; hukum yang memerdekakan”; “hukum yang sempurna” (Yak. 1:25). Percaya pada Injil berarti kita sama sekali tidak bersandar pada pekerjaan/perbuatan kita sendiri untuk menjadi benar di hadapan Allah. Kita menyandarkan diri kita sepenuhnya pada pekerjaan/perbuatan Yesus Kristus sebagai Anak Domba Allah.
Bukan karena baik maka saya diselamatkan. Karena sudah diselamatkan, barulah kini saya mau-dan-bisa berbuat baik. Bukan karena saleh maka saya diselamatkan. Karena sudah diselamatkan, barulah kini saya mau-dan-bisa mengejar kekudusan.
Perbuatan baik dan kesalehan kita menjadi bukti kalau hati kita sudah disunat; sudah dilahirbarukan. Perbuatan baik dan kesalehan kita tidak lagi dijadikan topeng untuk menutupi kejahatan dan kebusukan hati kita.
“Berbicara sebagai orang-orang yang akan dihakimi dengan hukum yang membebaskan” berarti kita tidak berusaha memegahkan segala kesalehan dan perbuatan baik kita dalam pembicaraan sehari-hari.
Jika berbicara, pastikan Kristus yang ditinggikan, bukan diri kita sendiri. Ia harus semakin besar, saya semakin kecil. Self-centered kini berubah menjadi Christ-centered. Dari yang tadinya hanya mengenai “saya, aku, dan diriku”, kini semata-mata mengenai “Yesus, Anak Manusia, dan Anak Allah”.
“Bertindak sebagai orang-orang yang akan dihakimi dengan hukum yang membebaskan” berarti kita melakukan segala sesuatu semata-mata untuk menyenangkan hati-Nya; untuk memuliakan nama-Nya. Kita tidak melakukan ini itu untuk dilihat-dan-dipuji orang lain. Juga, bukan karena hal itu menyenangkan hati kita.
Sebaliknya, kita senantiasa mencari tahu apa yang berkenan pada-Nya dan menyenangkan hati-Nya. Apa pun yang menyenangkan hati-Nya, kita kerjakan (Efe. 5:10). Apa pun yang mendukakan hati-Nya, kita menolak untuk kerjakan (Efe. 4:30). Tindak tanduk kita harus menunjukkan tanda-tanda sebagai hamba-hamba yang tidak berguna yang hanya melakukan apa yang kita harus lakukan (Luk. 17:10).
Perkataan dan perbuatan kita harus selaras. Keseharian kita harus memancarkan kasih dan belas kasihan Kristus. Orang-orang sekitar kita harus bisa melihat kalau kita sungguh-sungguh sudah hidup sebagai “orang yang akan dihakimi dengan hukum yang membebaskan”.