Tentang Hukum: Kegagalan dan Ketaatan

Yak. 2:10 (AYT)
Siapa pun yang menaati semua hukum, tetapi gagal menaati satu bagiannya saja, dia bersalah terhadap seluruh hukum itu.



Referensi bacaan: klik di sini.

Ajaran Agustinus bahwa orang Kristen bisa “posse non peccare” (dapat tidak berdosa) terbantahkan oleh ayat ini. Siapakah yang sanggup menaati semua perintah Tuhan dengan sempurna? Ibarat sedang ujian, ketika kita salah mengerjakan satu soal saja maka kita langsung akan dianggap tidak lulus. 

Ketika diundang berkhotbah di tempat yang baru, saya biasa bertanya kepada jemaat adakah di antara mereka yang pernah membunuh seperti saya? Suasana biasa berubah menjadi hening dan tegang. Saudara bisa mendengar suara jarum terjatuh.

Langsung saya ajak mereka membuka Surat 1 Yohanes 3:15. Berdasarkan standar ini, adakah di antara kita yang bukan pembunuh? Setelah itu mereka senyam-senyum sendiri menyadari apa yang saya maksud. 

Ya, memang benar kita tidak akan tersentuh oleh hukum dunia. Namun, benar di hadapan hukum dunia tidak berarti otomatis benar di hadapan hukum Tuhan. Maka, di hadapan Tuhan, apa bedanya kita dengan para pembunuh yang saat ini sedang ada di penjara? 

Ajaran “posse non peccare” seringkali menimbulkan sikap basa-basi dan munafik di dalam lingkungan gereja. Semua orang berusaha meyakinkan orang lain kalau ia “dapat tidak berdosa”. Karena “jauh tercium harum, dekat tercium bau”, maka ada jurang dan tembok yang tak terlihat di antara para jemaat. Semua menjadi pemain sandiwara yang handal.

Terkait pernikahannya dengan Puput, Ahok secara tersirat menampilkan kesan kalau ia melakukannya sebagai orang benar. Ahok mengaku tidak pernah berzinah dengan Puput ketika ia masih menjadi ajudannya Vero. Ya, perzinahan fisik bisa saja memang tidak pernah terjadi. Namun, bagaimana dengan perzinahan yang dilakukan dengan pikiran?; dengan hati? 

Apakah orang yang berzinah dengan hatinya lebih benar daripada mereka yang berzinah fisik? Itulah yang diyakini orang Farisi dan para pemimpin agama di zaman Yesus. Akankah kita menjadi sama bodohnya dengan mereka?

Yakobus membongkar kebusukan hati kita melalui bagian ini. Percuma kita berusaha meyakinkan orang-orang kalau kita adalah orang benar yang sanggup menjalankan semua perintah Tuhan dengan sempurna. Kita menjadi “orang benar” karena iman, bukan karena kesalehan kita. Kita disebut “orang kudus” karena darah Kristus, bukan karena sanggup menjalankan seluruh hukum Tuhan dengan sempurna.

Mari kita sudahi sandiwara kita. Tuhan bisa mengampuni setiap orang berdosa, tetapi tidak dengan orang munafik. Lah, apanya yang mau diampuni? Merasa bersalah saja tidak.

You may also like...

Tinggalkan Balasan