1 Pet. 4:19 (AYT)
Karena itu, biarlah mereka yang menderita karena kehendak Allah, mempercayakan jiwanya kepada Sang Pencipta yang setia, sambil terus melakukan apa yang baik.
Petrus kembali mengingatkan kita kalau “menderita karena kehendak Allah” adalah hal yang baik bagi pertumbuhan iman kita. Hanya di dunia ini kita perlu menderita. Setelah ini, kita tidak akan pernah lagi mengenal apa arti menderita.
Penderitaan juga bisa memurnikan kita. Allah “seperti api pemurni emas dan seperti sabun orang yang mencuci. Dia akan duduk bagaikan orang yang memurnikan dan membersihkan perak” (Mal. 3:2-3).
Penderitaan adalah sarana yang Dia gunakan untuk “memurnikan dan membersihkan” kita supaya semakin hari kita semakin serupa dengan Tuhan Yesus (Rom. 8:29). “Menderita karena kehendak Allah” ini perlu-dan-penting bagi kita.
Kita pasti akan diuji dan dimurnikan. Mungkin kita gagal berkali-kali, namun anugerah Allah akan menopang dan meneguhkan kita. Tujuh kali orang benar jatuh, namun dia akan bangkit lagi (Ams. 24:16).
Tuhan yang memurnikan, maka biarkanlah Ia yang menghibur dan menguatkan kita. Kita bisa mempercayakan jiwa kita kepada “Sang Pencipta yang setia” ini.
Meskipun kita babak belur dihajar dan dimurnikan-Nya, kita tetap harus “sambil terus melakukan apa yang baik”. Dua proses ini akan berjalan paralel dalam hidup setiap orang percaya. Sambil “menderita karena kehendak Allah”, kita “sambil terus melakukan apa yang baik”.
Jika kita setia memikul salib dan menyangkal diri, Tuhan sendiri yang berjanji, “Kamu akan kembali dan melihat perbedaan antara orang benar dengan orang jahat, antara orang yang melayani Allah dengan orang yang tidak melayani-Nya” (Mal. 3:18).