4 November 2023
Artikel oleh David Mathis
Editor Eksekutif, desiringGod.org
“Katakan pada Bud, pelayanan bukanlah segalanya. Yesus itu sendiri yang adalah segala-galanya.”
Ray Ortlund Jr menceritakan kisah mengenai kata-kata terakhir ayahnya untuknya. Ray dan istrinya berada di luar negeri pada tanggal 22 Juli 2007 ketika Ray Sr. terbangun di kamar rumah sakitnya di Pantai Newport, California dan menyadari bahwa hari itu akan menjadi hari terakhirnya. Anggota keluarga lainnya berkumpul untuk membaca Kitab Suci dan bernyanyi. Kemudian bapak yang sedang sekarat itu berkeliling ruangan sambil menyapa orang-orang terkasihnya dengan berbagai berkat dan nasihat terakhir.
“Bud” tidak berada di dalam ruangan itu sehingga Ray Sr. meninggalkan kata-kata terakhir yang berkesan dan indah ini untuk disampaikan kepada putranya yang telah mengikutinya dalam pelayanan penuh waktu.
Selama dua dekade, dimulai pada akhir tahun lima puluhan, Ray Sr. pernah menjadi gembala di Gereja Jemaat Lake Avenue di Pasadena, di mana dia pernah menggembalakan seorang seminaris muda bernama John Piper dan meyakinkan dia bahwa (terlepas dari perbincangan di akhir tahun enam puluhan) gereja lokal punya masa depan dan akan selalu begitu. Nama dan tanda tangannya Ray Sr. dibubuhkan pada sertifikat penahbisannya Piper tertanggal 8 Juni 1975.
Ray Sr. mencintai gereja dan mengabdikan puluhan tahun hidupnya untuk pelayanan Kristen penuh waktu. Jadi, di ranjang kematiannya pada tahun 2007, dia bukanlah kritikus yang melemparkan bayang-bayangnya pada putra kesayangannya. Namun, dia adalah pria yang tahu isi hatinya sendiri dan hati putranya. Dia mengetahui betapa menyenangkannya pekerjaan penggembalaan itu dan bahaya yang menyertainya. Dia tahu di mana nasihat terakhirnya harus diakhiri: yaitu pada Dia yang adalah Sang Sukacita yang berdaulat itu.
Pekerjaan yang Baik, Sukacita yang Besar
Terkait kualifikasi untuk seorang gembala-penatua, Rasul Paulus berbicara tentang sukacita : “… Orang yang menghendaki jabatan penilik jemaat menginginkan pekerjaan yang indah” (1 Tim. 3:1). Pekerjaan ini terikat dengan kehendak, keinginan, dan sukacita.
“Pekerjaan yang indah” di sini secara harfiah berarti “pekerjaan yang baik”. Dia menginginkan pekerjaan yang baik . Pelayanan Kristen adalah pekerjaan yang baik — dan pekerjaan yang harus dilakukan oleh mereka yang menginginkannya . Pelayanan bukan untuk mereka yang tidak merasa sungguh-sungguh ingin melakukannya, melainkan untuk mereka yang bisa menggunakan kemauannya untuk berkorban bagi Yesus. Sebaliknya, dalam panggilan ini, kehendak dan keinginan mereka akan sukacita tidak bisa ditawar-tawar.
Dalam panggilan penggembalaan, berbeda dari panggilan lainnya, bekerja dari sukacita, dengan sukacita, dan karena sukacita adalah hal yang penting. Menurut Surat Ibrani 13:17, para gembala harus melakukannya “dengan gembira, bukan dengan keluh kesah” jika mereka ingin membawa “keuntungan” bagi iman para dombanya, alih-alih merugikan mereka. Demikian pula Petrus mensyaratkan agar para gembala-penatua bekerja tidak “dengan paksa, tetapi dengan sukarela sesuai dengan kehendak Allah, dan jangan karena mau mencari keuntungan, tetapi dengan pengabdian diri” (1 Pet. 5:2).
Pelayanan Kristen adalah pekerjaan yang baik (yang sering kali dipenuhi sukacita) yang dilakukan oleh mereka yang menginginkan-dan-mengharapkan sukacita yang akan membuat banyak kesulitan mereka menjadi dapat ditanggung. Namun, dalam pekerjaan yang baik; dan yang memberi sukacita ini memiliki bahaya. Yang baik, lebih sering dibandingkan yang jahat, yang sedikit demi sedikit mengabaikan Kristus itu sendiri sebagai yang paling utama dalam hatinya para hamba Kristen.
Sukacita Pelayanan, Amin
Yesus sendiri menunjukkan hal ini, melalui kata-kata yang sangat berkuasa, tepat pada poin ini dalam Injil Lukas 10:20.
Yesus telah mengutus enam lusin murid “yang lain”, selain kedua belas murid, “mendahului-Nya ke setiap kota dan tempat yang hendak dikunjungi-Nya” (Luk. 10:1). Dia menugaskan ke-72 orang ini dengan penuh keseriusan; memperingatkan mereka tentang adanya penolakan; dan mereka yang akan “seperti anak domba ke tengah-tengah serigala” (Luk. 10:2–16). Namun, pelatihan mereka tersebut memang terbukti jauh lebih bermanfaat daripada yang mereka perkirakan dan mereka menjadi sangat senang. Mereka kembali dengan gembira dan berkata: “Tuhan, juga setan-setan takluk kepada kami demi nama-Mu” (Luk. 10:17).
Yesus, sang guru utama, memanfaatkan pentingnya momen ini. Inilah kesempatan untuk meninggalkan kesan seumur hidup bagi mereka; dan bagi gereja di sepanjang masa. Yang pasti, tidak ada salahnya bersukacita atas buah pelayanan; menemukan kegembiraan dari apa yang dipilih oleh Allah Yang Maha Kuasa untuk dicapai melalui umat-Nya dalam kehidupan orang lain baik melalui berkhotbah dan mengajar; atau menawarkan segelas air sejuk; atau mengusir setan.
Pada bagian ini, ke-72 orang tersebut menjadi terkagum-kagum, sebagian dari mereka, pada “bahkan setan-setan.” Sukacita mereka bukan hanya karena pelayanan biasa yang mengalir terus-menerus, melainkan juga karena adanya sensasi yang luar biasa; kegembiraan yang tak terduga; perasaan akan adanya kuasa supernatural . Jelas, pelayanan mereka membuahkan hasil. Ke-72 orang tersebut memang tidak salah terkait dengan apa yang mereka amati dan laporkan itu. Yesus meneguhkan hal itu, termasuk untuk sukacitanya mereka: “Sesungguhnya Aku telah memberikan kuasa kepada kamu untuk menginjak ular dan kalajengking, dan kuasa untuk menahan kekuatan musuh” (Luk. 10:19). “Ya,” Yesus seolah-olah berkata, “Ini memang adalah sukacita yang nyata dan hal yang baik. Adalah benar untuk bersukacita melihat Kerajaan Allah berkembang dan jiwa-jiwa yang tertindas dibebaskan.”
Lalu muncullah intinya.
Sepuluh Ribu Kali Lebih Baik
Yesus mengejutkan para pelayan yang sedang bergembira itu dengan mengubah nada lagu mereka ke nada yang berbeda. Dia menghormati sukacitanya pelayanan; melakukannya dengan mengangkat mereka ke surga; menjadikan momen itu mengakar dengan menarik perhatian mereka pada hal yang bahkan lebih penting:
“Namun demikian janganlah bersukacita karena roh-roh itu takluk kepadamu, tetapi bersukacitalah karena namamu ada terdaftar di sorga” (Luk. 10:20)
Meskipun mungkin terdengar mengejutkan, urusan roh-roh itu takluk kepadamu sebenarnya merupakan hal yang sepele menurut pandangan-Nya Yesus. Bahkan yang lebih besar dari apa yang Allah kerjakan melalui para hamba-Nya, bahkan melebihi perihal berbagai kuasa supranatural, adalah mengenai apa yang Dia kerjakan bagi mereka. Jauh melebihi namanya seorang hamba di bawah ini adalah nama mereka yang terukir di atas . Dengan pernyataan “namamu ada terdaftar di sorga, Yesus menempatkan sukacitanya pelayanan – bagi ke-72 orang dan bagi kita – bukan dengan meremehkan hal tersebut, namun dengan membicarakan sesuatu yang lebih baik.
Seberapa jauh lebih baik? Betapapun baik-dan-benarnya untuk menikmati buah pelayanan, pada bagian ini Yesus ingin kita merasakan kekuatan dari perbedaan tersebut. Ia berkata, “ Janganlah bersukacita karena [hal ini]… ” Yesus tidak menentang sukacitanya pelayanan, atau memerintahkan kita, secara universal, untuk tidak pernah bersukacita atas hal itu. Sebaliknya, Lukas 10:20 adalah sebuah pernyataan yang sangat komparatif , yang disampaikan melalui berbagai istilah yang sederhana dan tegas ini untuk menekankan betapa besarnya sukacita kita (yang seharusnya akan terjadi) atas apa yang dikerjakan Allah bagi kita dibandingkan atas apa yang Ia pilih untuk dikerjakan melalui kita.
Itulah sebabnya “nama-nama yang tertulis di surga” sangat berarti.
Di Mana Kita Menikmati Allah Itu Sendiri
“Nama-nama yang tertulis di surga” sangatlah penting karena Allah itu sendiri, di dalam Kristus, adalah Sang Sukacita yang berdaulat; Sang Sukacita dari segala sukacita. Surga adalah tempat di mana Dia berada. “Nama-nama yang tertulis di surga” adalah sukacita yang jauh lebih besar bukan karena surga memberi kita semua yang diinginkan hati kita selain dari Allah itu sendiri, melainkan karena di sana (dalam kehadiran langsung-Nya Allah) maka kita mendapatkan kedekatan dengan-Nya; kedekatan dengan-Nya; kenikmatan tanpa adanya hambatan akan Dia.
Di surga kita mendapatkan Allah itu sendiri. Surga adalah tempat di mana, pada akhirnya, banyak hambatan dan gangguan serta tabir duniawi akan disingkirkan, sehingga kita (tanpa adanya halangan dan distorsi lebih lanjut) dapat lebih mengenal-dan-menikmati apa yang telah kita kenal dan nikmati.
Hal ini membawa kita kembali pada bahaya yang menyertai sukacitanya pelayanan betapa pun baik-dan-pentingnya hal itu.
Dibuat Untuk Melebihi Urusan Pelayanan
Ketika berkarya untuk Kristus [akan membuat kita] menggantikan Kristus itu sendiri sebagai kenikmatan utama dalam jiwa, maka perubahannya tidaklah kentara dan signifikan. Serangan bertahap ini mungkin sangat sepele sehingga sulit dikenali pada awalnya. Namun, jika pola ini terus berlanjut, dampak jangka panjangnya akan sangat menghancurkan – baik bagi si gembala itu sendiri maupun bagi dombanya. Paulus berpikir bahwa hal itu cukup berbahaya sehingga ia memberikan peringatan berulang-ulang kepada para gembala agar memberikan perhatian yang cermat tidak hanya pada jemaat dan pengajaran mereka tetapi juga pada diri mereka sendiri. “…. jagalah dirimu…” (Kis. 20:28). “Awasilah dirimu sendiri…” (1 Tim. 4:16).
Pelayanan Kristen menjadi tak berarti (dan segera rusak dan hancur) ketika pelayanan itu sendiri menjadi yang pertama-dan-terutama di dalam jiwa. Natur pelayanan Kristen yang seperti itu tidak dapat bertahan lama dan pada akhirnya tidak akan membuahkan hasil (tidak peduli seberapa sukses kelihatannya pada saat itu) jika pelayanan tersebut berubah menjadi sukacita yang berdaulat itu sendiri. Natur alaminya pelayanan Kristen adalah Pribadi-dan-karya-Nya Kristus itu sendirilah yang menjadi asal mula dan esensinya, bukan pribadi-dan-karya dari para hamba-Nya. Karyanya para hamba memang penting, tetapi hanya sebagai prinsip kedua. Karya-Nya Kristus, dan Kristus itu sendiri, sangat penting sebagai prinsip yang pertama-dan-final.
Pelayanan bagi Sang Raja bisa menjadi pengkhianatan jika kita menjadi pengganti dari Sang Raja itu sendiri . Bahayanya terletak pada betapa halus-dan-umumnya perubahan ini, bahkan bagi para pekerja Kristen yang paling sehat rohaninya sekalipun. Namun, kita mempunyai pengharapan ini: betapa mudahnya hati para hamba yang sehat rohani itu untuk terbang kembali ke kasih mula-mula mereka ketika mereka tersadar oleh tanda-tanda perubahan yang tidak kentara tersebut.
Praktisnya, pertobatan dapat terjadi setiap pagi, dengan kata-kata dan doa yang merendahkan hati. Hal ini dicapai dengan mengetahui dosa kita; dan bersikap jujur mengenai kegagalan, kelemahan, dan kebutuhan kita akan perubahan. Maka, hal ini terjadi dengan tidak pernah membiarkan beban-dan-keajaiban yang mengubah dunia dalam Matius 9:2 menjadi usang: “Percayalah, hai anak-Ku; dosamu sudah diampuni.” Terlepas dari inisiatif kita, hal ini datang melalui pemeliharaan Allah yang istimewa dalam hidup kita; dalam berbagai momen, musim, dan kondisi-Nya yang merendahkan hati kita masing-masing. Dia punya berbagai cara-Nya sendiri. Bagi sebagian orang, cara-Nya melalui pernikahan atau mengasuh anak. Bagi yang lain, cara-Nya melalui keuangan. Bagi yang lain, cara-Nya melalui sakit-penyakit, kecacatan, rasa sakit kronis, kemunduran yang menghancurkan.
Pelayanan Bukanlah Segala-galanya
Kata-kata terakhir Ray Sr. pada “Bud” sangat perseptif. Mirip dengan perkataan-Nya Yesus pada ke-72 orang tersebut. Setiap gembala, hamba, dan misionaris – semua yang memiliki panggilan pelayanan penuh waktu dan seterusnya, di semua posisi pekerjaan formal dan informal – sebaiknya memperhatikan hal-hal tersebut dari Ray Sr., seperti yang dilakukan Bud. Terlebih lagi mengenai apa yang dinyatakan Yesus. Yesus adalah Sang Sukacita dari semua sukacita kita. Jika Dia bukan sebagai pusat; dan yang tertinggi, maka sukacitanya pelayanan akan segera menjadi hampa dan rusak. Namun, dengan Raja dari segala raja itu sendiri yang bertakhta di jiwa kita, maka sukacita dari pelayanan karena membagikan Dia dengan orang lain menjadi nyata-dan-penting; dan terus membawa kita kembali kepada-Nya.
***
Artikel ini diterjemahkan dari desiringgod.org dengan judul "Jesus Is Better Than Working for Jesus’."