24 Mei 2018 Artikel oleh David Mathis Editor Eksekutif, desiringGod.org
Bagaimana menemukan kehendak Allah bagi hidup saya? Ini selalu menjadi pertanyaan yang membebani selama kuliah, khususnya pada zaman kita dengan adanya berbagai pilihan yang belum pernah ada sebelumnya. Tidak seperti pada masa sebelumnya, dalam sebuah anomali sejarah dunia, para pelajar saat ini ketika terlepas dari komunitas asalnya, ketika ”lepas landas” ke perguruan tinggi, harus membuat keputusan bagi masa depan mereka dengan tuntunan yang minimal atau dengan keterbatasan kondisi mereka sebagai remaja yang sedang beranjak dewasa.
Sebelum bertanya mengenai ”ke mana Allah memanggil saya?”, sebaiknya kita pertama-tama merenungkan mengenai ”di mana Allah telah memanggil saya?” – bukan berarti panggilan Anda pada saat ini tidak akan berubah atau menuju ke arah yang baru dalam musim kehidupan yang selalu berkembang ini. Namun, bagi orang Kristen, panggilan objektifnya Allah selalu mendahului kesadaran kita mengenai hal itu. Jika panggilan itu memang berasal dari Allah, Dialah yang akan memulai. Allah yang akan memulai langkah pertama. Benar bahwa kita dipanggil untuk diselamatkan. Juga, memang benar Allah yang memberikan berbagai tugas ”pekerjaan” kepada kita di dunia ini.
Pertimbangkan Tiga Faktor
Bagi para mahasiswa atau kaum dewasa muda yang mungkin merasa seperti para atlet bebas transfer – yang bisa mempertimbangkan berbagai pilihan dan menentukan sendiri (yang seringkali memang diputuskan oleh mereka sendiri) arah mana yang harus diambil – penting untuk mengakui bahwa Anda sudah bergerak ke suatu arah, tidak sedang diam saja. Anda sudah memiliki panggilan ilahi – sebagai orang Kristen; anggota gereja; anak; saudara atau saudari; teman. Dalam kerangka panggilan yang sedang berlangsung dan sudah aktif itu, Anda sekarang sedang mencari pimpinan Allah untuk mengetahui ke arah mana Anda harus melangkah.
Kemudian, mengingat bahwa Anda sudah melekat dalam sebuah konteks, dengan sebuah panggilan yang konkret, bagaimana seharusnya Anda memahami pimpinan Allah setelah lulus kuliah kelak? Bagaimana menemukan kehendak Allah untuk kariernya Anda? Orang Kristen sebaiknya memegang tiga faktor penting berikut ini.
1. Apa Jenis Pekerjaan yang Saya Inginkan?
Pertama, bertentangan dengan kecurigaan yang mungkin masih melekat pada ketidakpercayaan kita, kita menyadari kalau Allah adalah Allah yang-maha-bahagia (1 Tim 1:11), bukan Pribadi kosmik yang suka merusak kesenangan. Di dalam Putra-Nya, oleh Roh-Nya, Dia ingin membentuk-dan-menata hati kita supaya berhasrat pada pekerjaan yang ditetapkan-Nya sebagai panggilan bagi kita (dalam arti yang baik), di dunia yang telah terjatuh dalam dosa ini, dan benar-benar menikmati pekerjaan tersebut.
Keinginan yang diberikan-dan-dikuduskan Roh tersebut bukanlah merupakan suatu beban, melainkan sebuah aset dalam menemukan kehendak Allah. Perjanjian Baru dengan jelas menyatakan kalau Allah berkehendak agar para gembala menginginkan pelayanan pastoral. Sebagai titik awal, kita dapat berasumsi bahwa Allah menginginkan hal yang sama untuk anak-anak-Nya yang bekerja di luar gereja.
Dalam Surat 1 Petrus 5:2, kita menemukan kabar baik yang luar biasa ini mengenai bagaimana hati-Nya Allah bagi sukacitanya kita yang baik-dan-terus-bertahan berada di balik pimpinan-Nya bagi kita terkait perihal pekerjaan. Ayat ini memang berbicara tentang panggilan penggembalaan, tetapi kita dapat melihat di baliknya mengenai Allah yang memanggil kita ke setiap perhentian yang telah ditetapkan-Nya dengan hati-hati. Allah menginginkan para gembala melayani ”jangan dengan paksa, tetapi dengan sukarela sesuai dengan kehendak Allah.” Betapa luar biasa bahwa kita bisa bekerja sesuai dengan keinginan-dan-kesukaannya kita, bukan karena kewajiban-dan-tugas. Ini ”sesuai dengan kehendak Allah”. Ini adalah Allahnya kita – Allah yang menginginkan para pekerja yang menginginkan (bukan sekadar melakukan) pekerjaan itu. Allah ingin umat-Nya, seperti para gembalanya mereka, melakukan pekerjaan mereka ”dengan gembira, bukan dengan keluh kesah, sebab hal itu tidak akan membawa keuntungan bagimu” (Ibr. 13:17) dan bagi siapa pun yang dilayaninya.
Begitu juga, ketika Rasul Paulus membahas mengenai kualifikasi seorang penilik, yang pertama disebutkan adalah mengenai ”menginginkan”. ”Benarlah perkataan ini: ’Orang yang menghendaki jabatan penilik jemaat menginginkan pekerjaan yang indah’” (1 Tim. 3:1). Allah menginginkan para pekerja yang menginginkan pekerjaan tersebut, bukan para pekerja yang sekadar melakukannya semata-mata karena kewajiban. Lihatlah Allahmu, yang pola-Nya adalah dengan membimbing hatimu, bukan memelintir tanganmu.
Bagaimanapun, keinginan bukanlah panggilan. Merupakan kesalahan umum untuk menganggap bahwa keinginan yang tampaknya diberikan Allah secara otomatis merupakan sebuah ”panggilan”. Menginginkan (aspirasi) memang merupakan faktor penting untuk dipertimbangkan, tetapi aspirasi bukanlah panggilan. Dua faktor tambahan ditemukan melalui peneguhan (afirmasi) dari orang lain dan kesempatan yang diberikan Allah.
2. Apakah Ada Orang Lain yang Meneguhkan Arah Ini?
Selanjutnya, pertanyaan kedua yang harus diajukan setelah faktor-yang-subjektif terkait aspirasi adalah pertanyaan yang lebih objektif mengenai kemampuan yang kita miliki. Pernahkah saya melihat bukti, sekecil apa pun pada awalnya, bahwa saya dapat memenuhi kebutuhan orang lain dengan bekerja dalam bidang tersebut? Faktor yang bahkan lebih penting dibandingkan penilaiannya saya sendiri: ”Apakah orang lain yang mengasihi saya, yang tampaknya berkata jujur kepada saya, mengonfirmasi arah ini? Apakah mereka memang berpikir kalau saya cocok untuk jenis pekerjaan yang saya inginkan tersebut?”
Di sini, keinginan subjektifnya hati kita bertemu dengan kebutuhan objektifnya orang lain yang konkret di dunia nyata. Baik dalam dunia pelayanan Kristen atau bukan, tugas pekerjaan kita di dunia ini bukan untuk aktualisasi diri atau untuk mendapatkan kepuasan pribadi kita sendiri, melainkan untuk memenuhi kebutuhan orang lain.
Keinginan (aspirasi) kita memang memberi pengaruh, tetapi ”panggilan” kita yang sebenarnya bukan dibentuk oleh hati internalnya kita. Panggilan kita dibentuk oleh dunia yang berada di luar kita. Begitu seringnya kita mendengar ungkapan ”ikuti kata hatimu” dan ”jangan merasa puas dengan apa pun yang lebih kecil dari impianmu” di lingkungan sekitar kita dan bahkan di gereja. Yang paling penting, bertentangan dengan ungkapan populer pada zaman ini, jangan membawa keinginan hatinya Anda ke dunia, tetapi biarlah kebutuhan orang lain dalam kehidupan nyata yang membentuk hatinya Anda.
Dalam mencari kehendak Allah bagi pekerjaan kita, kita mencari di mana aspirasi kita berkembang sesuai dengan kemampuan kita yang juga berkembang dalam memenuhi kebutuhan orang lain. Seiring waktu, kita berusaha untuk mengembangkan semacam dialog (dengan diri kita sendiri dan dengan orang lain) mengenai apa yang ingin kita lakukan dengan apa yang mahir kita lakukan untuk kepentingan orang lain. Minat kita dalam jenis pekerjaan tertentu biasanya tumbuh ketika orang lain meneguhkan upaya kita dan kita memang melihat mereka menerima bantuan yang tulus dari kita.
3. Pintu Mana yang Telah Dibukakan Allah?
Faktor terakhir, dan mungkin faktor yang paling sering diabaikan-dan-dilupakan dalam pembahasan tentang panggilan, adalah mengenai pintu yang dibukakan oleh Allah di dunia nyata. Anda mungkin merasa terpanggil, orang lain mungkin meneguhkan kemampuan Anda, tetapi Anda belum dipanggil sepenuhnya sampai Allah yang membuka pintu.
Di sini kita memuliakan kebenaran mengenai pemeliharaan Allah, tidak hanya secara hipotetis, tetapi juga secara nyata. Dunia nyata tempat kita hidup, dengan berbagai pilihan yang disajikan kepada kita, tidaklah terjadi secara acak atau kebetulan. Allah mengatur segala sesuatu – ”dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia” (Rom. 11:36). Ketika pilihan yang disajikan dalam kehidupan nyata (tawaran pekerjaan) memenuhi aspirasi dalam diri kita, dikonfirmasi oleh orang lain, kita dapat menganggapnya sebagai konfirmasi bagi ”panggilan” Allah. Bukan berarti panggilan seperti itu tidak akan pernah berubah. Namun, pada saat ini, ketika perasaan pribadi Anda tentang pimpinan Allah, juga mengenai perspektif dan bimbingan yang baik dari orang lain, selaras dengan peluang di dunia nyata (dalam bentuk tawaran pekerjaan di hadapan Anda), maka Anda mendapat panggilan dari Allah.
Kita dapat menyatakan panggilan semacam ini berasal dari Allah karena Allah sendiri, dalam tangan pemeliharaan-Nya, telah melakukan karya yang paling penting. Allah yang memulai prosesnya dengan menanamkan keinginan-yang-benar untuk membantu orang lain dalam diri kita. Juga, Allah yang meneguhkan arah tersebut melalui kemampuan yang kita miliki dan konfirmasi dari teman sekitar kita. Sekarang, Allah mengonfirmasi panggilan itu dengan membuka pintu-yang-tepat pada saat-yang-tepat. Akhirnya, Allah sendirilah, bukan manusia, yang memberikan tawaran pekerjaan tersebut.
Allah tidak hanya menetapkan penilik (Kis. 20:28), memberikan gembala (Efe 4:11-12), mengirimkan para pekerja untuk tuaian di dunia (Mat 9:37-38), mengutus para pemberita Injil (Rom 10:15), dan menetapkan para pengurus rumah yang bijaksana (Luk 12:42), tetapi Allah juga yang menetapkan dokter gigi dan tukang pipa. Seperti biasa, dalam kebaikan-Nya, Allah mengirimkan para guru sekolah, pengusaha, dan pekerja sosial bagi orang benar dan orang yang-tidak-benar. Allah yang mengirimkan para eksekutif dan penyedia jasa. Allah yang mengirimkan Anda ke dunia untuk melayani orang lain.
***
Artikel ini diterjemahkan dari desiringgod.org dengan judul 'Where Does God Want Me to Work?'