Bagaimana Melihat Allah dalam Kegelapan Rohani
28 Oktober 2023
Artikel oleh Jon Bloom
Staf penulis, desiringGod.org
Beberapa tahun yang lalu, saya sedang makan malam bersama seorang teman baik yang sedang mengalami masa kegelapan rohani yang signifikan. Dia sedang bergumul dengan keraguan. Dia belum melepaskan imannya, tetapi dia merasakan tarikannya. Secara internal, dia bergumul dengan apa yang menurutnya merupakan berbagai klaim kebenaran yang sukar. Secara eksternal, dia sedang bergumul mengatasi kehancuran dan penderitaan dunia yang mendalam; yang beberapa di antaranya tiba-tiba muncul dalam keluarganya.
Kami sangat mirip, saya dan temanku itu. Kami berdua memandang kehidupan dengan sangat serius dan memproses berbagai informasi, pengamatan, dan pengalaman melalui pendeteksi realitas batin yang serupa; yang diawasi oleh inspektur batin kami yang skeptis. Kami berdua mempunyai sifat melankolis. Karena kami sama-sama adalah musisi amatir, kami berdua tertarik pada penulis lagu yang komposisinya mencerminkan dan mengartikulasikan mengenai persepsi rumit kami tentang realitas.
Jadi, ketika teman saya menggambarkan pergumulannya, dia membacakan pada saya beberapa kutipan dari penulis lagu yang pernah menjadi orang Kristen namun kemudian kehilangan imannya. Liriknya adalah deskripsi yang mentah-dan-jujur tentang kehidupan di dunia seperti yang dilihat oleh penulis lagu sekarang — seperti isi Kitab Pengkhotbah, tetapi tanpa pengharapan bahwa Allah itu ada dan akan memberikan keadilan atau penebusan apa pun. Temannya saya mengakui liriknya kelam, namun pada saat itu liriknya sepertinya menggambarkan kenyataan secara lebih akurat dibandingkan lagu-lagu bernuansa Injil yang kami nyanyikan bersama di gereja.
Dia tahu bahwa, bertahun-tahun sebelumnya, saya telah bergumul dengan pertanyaan serupa selama masa gelap rohaninya saya. Jadi, dia ingin tahu mengenai apa yang saya pikirkan. Hal pertama yang terlintas di benaknya saya adalah judul frasa dari lagu lamanya Switchfoot: “The Shadow Proves the Sunshine” (Bayangan Membuktikan Adanya Sinar Matahari) Lima kata tersebut membawa kita ke dalam diskusi yang bermanfaat tentang sifat terang dan kegelapan rohani.
Apa Itu Terang dan Gelap?
Bayangkan Anda dan saya sedang duduk di sebuah bilik di sebuah restoran dan saya menanyakan pertanyaan-pertanyaan berikut kepada Anda. Jika bisa, berhentilah sejenak setelah setiap pertanyaan dan cobalah menjawabnya sebelum melanjutkan membaca.
Di dunia fisik, apakah yang dimaksud terang itu — sesuatu yang dipancarkan oleh matahari; atau api; atau bola lampu?
Jika Anda mencoba menjawabnya, tebakannya saya adalah, meskipun Anda merasa jawabannya lebih sulit dari perkiraannya Anda, maka Anda akan mendapatkan satu atau lebih deskripsi yang cukup akurat tentang apa itu terang.
Jika Anda merujuk pada kegelapan dalam jawaban Anda sebelumnya, sekarang coba jelaskan apa itu terang tanpa mengacu pada kegelapan .
Jika Anda mencobanya, tebakannya saya adalah, mungkin setelah merasa sedikit lebih menantang, kemungkinan besar jawaban Anda pada dasarnya sama.
Sekarang, jelaskan kepada saya apa itu kegelapan tanpa mengacu pada terang sama sekali. Namun Anda harus mengatakan lebih dari sekadar “kegelapan itu gelap”; maka Anda harus mendeskripsikan apa itu kegelapan tanpa membandingkannya sama sekali dengan terang.
Bisakah Anda melakukannya? Bisakah Anda mendefinisikan secara bermakna apa itu kegelapan tanpa mengacu atau merujuk pada terang sama sekali? Jika bisa, silakan bagikan definisinya Anda kepada saya karena menurut saya itu tidak mungkin. Berikut ini adalah alasannya.
Mengapa Kita Memiliki Mata
Terang, seperti yang kita alami di dunia, adalah radiasi elektromagnetik. Dengan kata lain, terang sebenarnya adalah sesuatu . Namun, kegelapan adalah tiadanya terang. Dengan kata lain, kegelapan bukanlah sesuatu , melainkan ketiadaan akan sesuatu. Mencoba mendeskripsikan kegelapan tanpa merujuk pada terang sama saja dengan mencoba mendeskripsikan ketiadaan tanpa merujuk pada sesuatu . Ketiadaan merupakan negasi dari sesuatu (tidak ada sesuatu). Tanpa sesuatu , istilah ketiadaan tidak akan ada artinya sama sekali. Menurut saya, hal yang sama juga berlaku pada kegelapan ; itu adalah negasi dari terang . Tanpa terang , istilah kegelapan tidak akan ada artinya sama sekali.
Fakta bahwa terang itu ada merupakan alasan mengapa kita memiliki mata. Kita tidak akan memilikinya jika kita hidup di alam semesta yang tidak ada terangnya. Meskipun jutaan orang dapat bertahan hidup dan berkembang di dunia ini; meskipun kemampuan mereka untuk melihat dinonaktifkan karena alasan tertentu, mereka hanya dapat melakukannya dengan bantuan orang lain yang dapat melihat.
Apa yang benar tentang mata juga berlaku untuk semua kemampuan persepsi-fisiknya kita. Sebagai spesies, alasan kita memilikinya adalah karena kenyataan di mana kita hidup memang memerlukannya.
Nah, jika kita terlalu banyak berpikir dan merenungkan secara filosofis bagaimana kita mengetahui apa yang benar-benar nyata, maka kita mungkin terjebak dalam solipsisme skeptis. Kita akan eperti Descartes yang meragukan segalanya; yang mengarah ke tempat-tempat yang sangat gelap. Karena suatu realitas lebih kompleks-dan-multidimensi daripada yang dapat dideteksi oleh daya nalar kita sendiri. Inilah salah satu cara indra fisik kita dapat membuat kita mendarat: keberadaan dari kemampuan persepsi kita menjadi saksi dari naturnya realitas fisik . Alasan kita memiliki mata adalah karena terang itu ada.
Mengapa Kita Memiliki Mata Rohani
Semua ini membawa saya ke baris lagu Switchfoot: “Bayangan membuktikan adanya sinar matahari.” Selain berbagai persepsi-fisik, kita juga memiliki berbagai persepsi-rohani. Kita mempunyai persepsi-rohani ini dengan alasan yang sama seperti halnya mengapa kita mempunyai persepsi-fisik: karena kehidupan yang kita jalani memerlukan persepsi tersebut. Kita tidak akan memilikinya jika kita tidak membutuhkannya.
Bagaimana kita bisa menyebut kegelapan rohani sebagai kegelapan ? Ketika kita menganggap kenyataan dan keberadaan kita sendiri sebagai sesuatu yang gelap dan penuh firasat, mengapa kita menggambarkannya sebagai sesuatu yang gelap dan mengapa hal itu terasa seperti sebuah firasat? Mengapa hal ini membuat kita tertekan dan membuat kita merasa cemas dan takut? Menurut saya, hal ini terjadi karena, meskipun daya nalar kita saja tidak dapat memahami segala sesuatu, persepsi-rohani kita – yang Paulus sebut sebagai “mata hati [kita]” (Efe. 1:18) – memberi tahu kita bahwa terang rohani itu memang ada.
Kegelapan bukanlah sebuah sesuatu; itu adalah ketiadaan akan sesuatu. Kita mengetahui apa itu kegelapan karena kita mengetahui apa itu terang. Terang, di sisi lain, tidak bergantung pada kegelapan untuk bisa ada. Itu sebabnya mengapa Rasul Yohanes berkata, “Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya” (Yoh. 1:5). Sesuatu dapat menghalangi cahaya matahari dan menghasilkan bayangan yang membuat lingkungan kita menjadi redup. Namun, penghalang tersebut tidak bisa memadamkan (mengatasi) matahari.
Apa yang Dibuktikan oleh Bayangan
Seperti yang saya ceritakan kepada temannya saya pada malam itu, kenyataan ini tidak menjawab semua pertanyaan yang sulit; atau mengatasi setiap keraguan. Sebagai apologetik, ini bahkan bukan sesuatu yang terdengar Kristen secara spesifik. Namun, saya yakin ini adalah petunjuk tentang hakikat dari realitas tertinggi; dan sangat berharga bagi mereka yang mendapati diri mereka sedang berjalan melewati kegelapan.
Kita mempunyai mata karena ada matahari. Lalu mengapa kita mempunyai “mata” rohani yang merindukan terang rohani? Ketika kita berjalan melewati lembah kekelaman, bagaimana kita bisa membedakan bayangan? Jika kita berkata, “Biarlah kegelapan saja melingkupi aku, dan terang sekelilingku menjadi malam” (Maz. 139:11), bagaimana kita masih dapat membedakan siang dan malam?
Saya yakin, hal ini terjadi karena pengalaman kita dalam kegelapan rohani memberikan kesaksian akan adanya terang rohani. Bayangan itu sendiri membuktikan adanya sinar matahari. Jika itu benar; jika kita mencari matahari dibandingkan bayangan dan semua pertanyaan yang ditimbulkannya, maka yang kita temukan adalah terang dunia, yaitu terang kehidupan (Yoh. 8:12).
Ini telah membantu saya dalam masa-masa kegelapannya saya. Ini membantu temannya saya dalam masa kegelapannya. Mungkin ini akan memberikan pencerahan yang diperlukan dalam hidupnya Anda; atau kehidupan seseorang yang Anda kasihi.
***
Artikel ini diterjemahkan dari desiringgod.org dengan judul "‘The Shadow Proves the Sunshine’: How to See God in Spiritual Darkness."