9 Maret 2022 Artikel oleh Scott Hubbard Editor , desiringGod.org
Jika Anda menelusuri kehidupan awal para hamba Allah yang besar, Anda sering kali akan menemukan diri Anda berada di dalam sebuah kamar yang tersembunyi atau sendirian di bangku gereja ketika seorang ibu berlutut untuk berdoa. Lihatlah ke belakang Agustinus, maka Anda akan menemukan Monica. Lihatlah ke belakang Spurgeon, maka Anda akan menemukan Eliza. Lihatlah ke belakang Hudson Taylor, maka Anda akan menemukan Amelia. Lihatlah setiap ibu ini, maka Anda akan menemukan doa yang sungguh-sungguh.
Mereka yang mengerti Alkitab seharusnya tidak terkejut. Seperti bintang yang dilihat oleh orang majus, kisah tentang pembebasan yang dikerjakan Allah, sering kali membawa kita ke sebuah rumah di mana seorang wanita, tersembunyi dari para pembesar di bumi, mengelus sebuah tumit yang suatu hari akan meremukkan ular. Dalam doa seorang ibu, kebangunan lahir dan orang-orang menang; berhala-berhala ditumbangkan dan Iblis dikalahkan; tulang-tulang yang kering dibangkitkan; dan anak-anak yang hilang diselamatkan.
Berulang kali, sebelum Allah menumpangkan tangan-Nya pada seseorang, Dia menumpangkan tangan-Nya pada ibunya orang tersebut.
Ibu dari Kerajaan
“Kemunculan gerakan baru yang besar dari Allah berulang kali terjadi di dunia perempuan,” tulis Alastair Roberts. Kata berulang kali itu benar. Berulang kali sejarah penebusan diawali dari seorang wanita setia yang tidak sempurna; yang melahirkan seorang anak laki-laki: Sara dan Ishak, Ribka dan Yakub, Rahel dan Yusuf, Rut dan Obed, Elisabet dan Yohanes, Eunike dan Timotius — dan tentu saja Maria dan Yesus.
Namun, di antara semua kisah ini, ada satu kisah yang secara khusus menggambarkan kekuatan seorang ibu yang berdoa. Kitab 1 dan 2 Samuel menceritakan sebuah kisah tentang bagaimana Allah mengubah Israel menjadi sebuah kerajaan — bagaimana Dia mencari ”seseorang yang berkenan di hati-Nya” (1 Sam. 13:14) untuk duduk di atas tahta dan memulai sebuah garis kerajaan yang suatu hari akan sampai pada Yesus (2 Sam. 7:13-14). Namun, dari mana kisah seorang raja dan sebuah kerajaan ini dimulai? Dari seorang wanita mandul yang memohon agar diberikan seorang anak laki-laki.
[Elkana] memiliki dua orang isteri. Yang seorang bernama Hana dan yang lain bernama Penina; Penina mempunyai anak, tetapi Hana tidak (1 Sam. 1:2).
Seorang wanita yang mandul dan saingannya yang subur: kita sudah pernah melihat hal ini (Kej. 16:1-6; 30:1-8). Kondisi ini memungkinkan Allah menyatakan diri-Nya melalui sebuah kelahiran yang ajaib. Doa menjadi sarana yang dipakai-Nya.
Doa Hana
Seperti yang dulu dilakukan Hagar, Penina tidak tahan untuk tidak mengacungkan telunjuknya pada rahim Hana yang kosong: “Tetapi madunya [Hana] selalu menyakiti hatinya supaya ia gusar, karena Tuhan telah menutup kandungannya. Demikianlah terjadi dari tahun ke tahun” (1 Sam. 1:6-7). Namun, tidak seperti yang dulu dilakukan Sara, alih-alih melawan Penina, Hana berpaling kepada Allah.
Dengarkanlah doa sederhana dari seorang wanita yang menderita, yang rindu agar rahimnya dibuka:
”Tuhan semesta alam, jika sungguh-sungguh Engkau memperhatikan sengsara hamba-Mu ini dan mengingat kepadaku dan tidak melupakan hamba-Mu ini, tetapi memberikan kepada hamba-Mu ini seorang anak laki-laki, maka aku akan memberikan dia kepada Tuhan untuk seumur hidupnya dan pisau cukur tidak akan menyentuh kepalanya” (1 Sam. 1:11).
Kita tahu akhir dari kisah ini. Tuhan mendengar doa Hana dan memberinya seorang anak laki-laki. Anak laki-lakinya, Samuel akan mendirikan kerajaan Israel (1 Sam. 16:10-13), mengurapi garis kenabian bangsa Israel (Kis. 3:24; 13:20), dan mendapat kedudukan di samping Musa sebagai perantara umat Allah (Yer. 15:1). Melalui doa, rahim Hana yang dulu mandul melahirkan seorang anak laki-laki untuk menyelamatkan Israel.
Dari doa Hana, apa yang bisa dipelajari oleh para ibu?
1. Kepedihan bisa menjadi guru yang baik
Bertahun-tahun mandul, ditambah dengan ejekan Penina, akhirnya membobolkan bendungan kesedihan Hana. Rasa sakit karena harapan yang tertunda itu membanjiri hatinya dan banjir itu tidak bisa disembunyikan. “… ia menangis dan tidak mau makan… dengan hati pedih” (1 Sam. 1:7,10).
Namun, seperti yang sering kali terjadi, air mata Hana menjadi jalan yang menuntunnya untuk berlutut. ”… setelah mereka habis makan dan minum di Silo, berdirilah Hana,… ia berdoa kepada TUHAN sambil menangis tersedu-sedu” (1 Sam. 1:9-10). Kita tidak tahu bagaimana kehidupan doa Hana sebelum ini. Tetapi di sini, setidaknya, kepedihan menjadi guru terbaiknya.
Namun, di dunia yang rusak seperti kita ini, kepedihan mengurung seorang ibu, dari depan dan dari belakang. Beberapa orang, seperti Hana, merasakan penderitaan yang unik karena pengharapan untuk menjadi seorang ibu. Beberapa orang yang lain merasakan kesakitan karena kehamilan dan persalinan itu sendiri. Sementara beberapa orang yang lain lagi, merasakan kesedihan karena seorang anak yang belum lahir baru. Apa yang Agustinus pernah katakan tentang ibunya berlaku juga bagi ibu-ibu yang lain.
Dia menangis dan meratap, dan tangisan kesakitan ini mengungkapkan apa yang Hawa tinggalkan di dalam dirinya, seperti dalam kepedihan dia menantikan anak yang dalam kepedihan dia lahirkan (Confessions, 5.8.15)
Kepedihan, kita tahu, mungkin membawa seorang ibu ke kepahitan; seperti yang dialami Sara dan Rahel pada saat itu (Kej. 16:5-6; 30:1). Namun, pada bagian ini, Hana mengungkapkan sebuah kebenaran yang mengejutkan: kepedihan sering membawa seorang ibu pada doa yang dirindukan Allah untuk dijawab.
2. Allah senang tangan yang terbuka
Ada dua kata dalam doa Hana yang muncul dalam bentuk pengulangan: TUHAN (dua kali) dan hamba (tiga kali). Dalam kepedihannya, Hana tidak lupa bahwa Allah adalah Tuhannya; tinggi dan bijaksana melampaui dirinya. Ia tidak lupa bahwa dia adalah hamba, terikat untuk melakukan kehendak-Nya.
Perkataan Maria yang terkenal lebih dari seribu tahun kemudian — “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan” (Luk. 1:38) — adalah gema dari perkataannya Hana.
Tangan Hana yang terbuka juga tampak dalam nazarnya: “Jika Engkau … mengaruniakan kepada hamba-Mu ini seorang anak laki-laki, aku akan mempersembahkan dia kepada Tuhan seumur hidupnya, dan pisau cukur tidak akan menyentuh kepalanya” (1 Sam. 1:11, AYT). Janji Hana untuk tidak mencukur rambut anaknya mengacu pada nazar orang nazir , yang mengkhususkan seluruh hidupnya bagi Allah (Bil. 6:1-5). Dengan kata lain Hana seolah-olah berkata, ”Berikan aku seorang anak laki-laki, dan aku akan memberikannya kembali kepada-Mu – hati dan jiwa, tubuh dan akal budi, seumur hidupnya.” Sebagai jawaban, Allah memberikan seorang anak laki-laki untuk dikembalikan kepada Allah.
Tentu saja, kita harus berhati-hati tentu sebelum menarik garis lurus antara hatinya seorang ibu dan bagaimana Allah menjawab doanya. Beberapa ibu berdoa dengan berserah diri seperti Hana, tetapi rahim mereka tetap kosong; atau anak-anak mereka terus pergi ke negeri yang jauh. Namun, kisah Hana mengajari kita bahwa Allah senang menaruh hadiah di tangan yang terbuka. Allah senang ketika seorang ibu, yang dipenuhi dengan kasih sayang keibuan, semakin melimpah dengan keinginan akan Kristus dan kerajaan-Nya.
Dalam kisah Hana, tangan keibuannya yang terbuka mengizinkan Samuel untuk menghabiskan hari-harinya di rumah Tuhan di mana ”dia menyembah Tuhan” (1 Sam. 1:28). Kiranya Allah senang melakukan hal yang sama kepada banyak anak laki-laki lain.
3. Doa seorang ibu bisa mengguncang dunia
Doa yang pedih dalam 1 Sam. 1:11 bukanlah satu-satunya doa yang kita dengar dari Hana. Ketika dia membawa anak laki-lakinya yang baru disapih tersebut ke rumah Tuhan, dia berdoa lagi, kali ini penuh dengan pujian (1 Sam. 2:1-10). Ketika kita mendengarnya, kita akan segera menyadari bahwa kisah Hana dan Samuel menembus empat dinding rumah keluarga yang bahagia.
Perhatikanlah kalimat-kalimat akhir doa Hana yang tepat untuk menjadi penutup doanya yang padat:
Orang yang berbantah dengan Tuhan akan dihancurkan;
atas mereka Ia mengguntur di langit.
Tuhan mengadili bumi sampai ke ujung-ujungnya;
Ia memberi kekuatan kepada raja yang diangkat-Nya
dan meninggikan tanduk kekuatan orang yang diurapi-Nya
(1 Sam. 2:10)
Hana, yang dibawa oleh Roh Kudus, mendapati dirinya berada di dalam sesuatu yang jauh lebih besar dari harapannya sendiri. Di bawah pimpinan Allah, anak laki-lakinya akan membebaskan Israel dari para penindasnya dan akan mendirikan sebuah kerajaan yang suatu hari akan menguasai bumi. Hana hanya berdoa meminta seorang anak laki-laki — tetapi sebagai balasannya, Allah malah memberikan jawaban yang jauh lebih besar daripada yang dia minta.
Allah masih melakukannya. Eliza Spurgeon dan Amelia Taylor mendoakan keselamatan anak laki-laki mereka. Mereka hampir tidak pernah membayangkan bahwa Allah akan memberikan seorang pengkhotbah bagi jemaat dan seorang penginjil bagi bangsa-bangsa. Walaupun tidak setiap anak adalah Samuel, Spurgeon, atau Taylor, siapa tahu orang yang mengasihi para yatim piatu (atau pendeta gereja, para pencari keadilan, ayah dari orang yang terhilang) sedang ditumbuhkan Allah melalui seorang ibu yang setia berlutut? Bersama Allah kita, kita bisa bermimpi dengan berani — dan berdoa.
Ibu untuk Setiap Ibu
Hana yang meratap dan gelisah dalam Kitab 1 Samuel 1 bukanlah seorang wanita yang berada di luar jangkauan seorang ibu. Dia bukanlah wanita yang terkenal. Dia bukan wanita yang suka bergaul. Sejauh yang kami tahu, dia bukanlah wanita yang sangat kuat. Namun, dia adalah seorang wanita yang berdoa. Melalui doa-doanya, Allah menunjukkan kuasa-Nya yang besar.
Allah yang meremukkan kepala ular melalui keturunan wanita itu akan memenangkan lebih banyak pertarungan. Yesus memberikan pukulan maut; pukulan yang tidak dapat dilakukan oleh anak laki-laki lain. Namun, masih ada banyak kerajaan Iblis yang perlu diremukkan. Jika kita melihat di balik orang yang mengangkat tumit mereka, sering kali kita akan menemukan seorang ibu seperti Hana; yang merasa pedih, tetapi tangannya terbuka, berdoa untuk anak-anaknya.
*** Artikel ini diterjemahkan dari desiringgod.org dengan judul "The Power of a Praying Mother"