Terlahir sebagai Budak – Bab Tiga – Argumen 7

BAB 3

Apa yang Luther Tolak dari Ajaran Erasmus


Argumen 7:
Erasmus memelintir Surat Roma 9:15-33

 

Kamu benar-benar memelintir bagian ini dengan semena-mena. Kamu berusaha membenarkan ”kehendak-bebas” dengan segala upaya sampai-sampai bersedia menyatakan hal-hal yang saling bertentangan, terutama yang terkait pengetahuan Allah di masa kekekalan (foreknowledge). Mari kita buka-bukaan soal ini. Sebagai contoh, Allah sudah tahu kalau Yudas Iskariot akan berkhianat sehingga ia yang menjadi pengkhianatnya. Yudas tidak memiliki kemampuan untuk melakukan hal yang lain. Tentu saja, ia melakukannya seturut kehendak dan kebebasannya, yang memang selaras dengan naturnya. Sejak semula, Allah mengetahui bahwa Yudas yang akan berkhianat dan kemudian mengijinkannya melakukannya ketika saatnya sudah tiba.

 

Percuma kamu membahas soal pengetahuan Allah di masa kekekalan, karena kita tidak akan pernah sanggup memahaminya. Sebagai contoh, kita tahu kalau peristiwa gerhana pasti akan terjadi. Namun, gerhana itu tidak terjadi karena kita sudah tahu mengenainya. Sebaliknya, ketika Allah mengetahui sesuatu, itu memang yang akan terjadi karena Ia memang sudah mengetahuinya. Jika kamu tidak bisa menerima kebenaran ini, maka kamu menyepelekan janji dan ancaman Allah. Kamu sama saja menolak keberadaan Allah.

 

Satu sisi kamu terlihat seolah-olah mengakui kalau Paulus mengajarkan kalau kehendak Allah memang berdasarkan atas apa yang Ia ketahui sebelumnya sehingga itu memang harus terjadi. Namun, kamu lantas menyatakannya sebagai sesuatu yang sukar untuk diterima. Kamu mencoba memelintir kebenaran ini dengan menyatakan kalau Paulus tidak sedang mencoba menjelaskan soal ini melainkan sedang menegur mereka yang bertentangan dengannya (Rom. 9:20). Ini bukanlah cara yang pantas untuk memperlakukan ayat yang suci seperti ini. Sekilas pandang kita sudah tahu kalau Paulus sedang menjelaskan kebenaran ini. Apalagi, tidak ada alasan untuk menegur jika tidak ada orang yang menentang penjelasan di bagian ini. Paulus mengutip dari Kitab Keluaran 33:19, ”Tetapi firman-Nya: ’Aku akan melewatkan  segenap kegemilangan-Ku dari depanmu dan menyerukan nama TUHAN di depanmu: Aku akan memberi kasih karunia kepada siapa yang Kuberi kasih karunia dan mengasihani siapa yang Kukasihani’”. Paulus kemudian menjelaskan tindakan Allah dalam mengampuni ataupun mengeraskan hati manusia sama sekali tidak tergantung dari kehendak manusia melainkan tergantung pada kehendak-Nya semata. Paulus menjelaskan dengan terang benderang kalau pengetahuan Allah di masa kekekalan yang memastikan tindakan apa yang akan diambil seseorang. Ketika kita berusaha membuktikan pengetahuan Allah di masa kekekalan dan ”kehendak-bebas” manusia itu sama-sama benar tentu saja akan menimbulkan pertentangan – seperti seolah-olah harus menjelaskan kalau angka sembilan dan sepuluh merupakan angka yang sama!

 

Paulus menentang mereka yang tidak menerima kebenaran ini, yaitu mereka yang menyatakan kalau mereka memiliki ”kehendak-bebas”. Paulus menyatakan kalau segala sesuatu bergantung pada kehendak Allah semata. Inilah bagian di mana kita harus terkagum-kagum dengan kemuliaan Tuhan yang dinyatakan kepada kita, yang luar biasa, dan penghakiman-Nya yang adil adanya sehingga kita hanya bisa berkata: ”… jadilah kehendak-Mu, di bumi seperti di surga” (Mat. 6:10).


TERLAHIR SEBAGAI BUDAK

Sebuah versi sederhana dan ringkas dari buku klasik “Belenggu Kehendak” yang ditulis oleh Martin Luther, diterbitkan pertama kali pada tahun 1525.

Versi Inggris
Dikerjakan oleh:
Clifford Pond
Diedit oleh:
J.P. Arthur M.A
H.J. Appleby
Versi Indonesia
Diterjemahkan oleh:
Yonghan
Diedit oleh:
Suriawan Surna

You may also like...

Tinggalkan Balasan