BAB 3
Apa yang Luther Tolak dari Ajaran Erasmus
Argumen 6:
Allah mengeraskan hati Firaun.
Dengan semua pemahaman di atas, mari kita kembali membahas soal Firaun. Karena Allah tidak mengubah natur Firaun melalui karya Roh Kudus, maka Firaun akan tetap fasik dan jahat. Dia memang orang yang kuat dan berkuasa saat itu. Jadi, ketika Allah menimbulkan sesuatu yang menyinggung dan menyakitinya, dia hanya akan membalasnya dengan yang jahat. Dia akan terus menerus mengeraskan hatinya dan menolak untuk mendengarkan.
Firman Tuhan harus dipahami menurut arti yang memang dimaksudkan bagi kita untuk dipahami (plain meaning). Ketika Allah menyatakan: ”Aku akan mengeraskan hati Firaun”, itu memang berarti: ”Aku yang akan menyebabkan hati Firaun dikeraskan”. Allah yang Mahatahu dan Mahakuasa yang menyatakan kalau hati Firaun memang harus dikeraskan. Allah tahu kalau Firaun tidak bisa mencegah tindakan-Nya pada dirinya. Allah tahu kalau Firaun hanya akan menjadi semakin jahat. Yang jahat hanya akan melakukan apa yang jahat. Meskipun Allah menawarkan apa yang baik – seperti misalnya Injil – yang jahat hanya akan menjadi semakin jahat. Hatinya malah akan semakin keras.
Mengapa Allah tidak berhenti memberi tekanan sehingga tidak menimbulkan dampak yang buruk? Ini sama saja dengan meminta Allah berhenti menjadi Allah. Kita tidak bisa membayangkan Allah berhenti melakukan apa yang baik karena orang-orang fasik hanya akan bereaksi dengan buruk.
Mengapa Allah tidak mengubah kehendak jahat dari orang-orang seperti Firaun? Pertanyaan seperti ini terkait dengan kehendak Allah yang dirahasiakan-Nya dari kita, yang jalan-jalan-Nya sungguh tak terselami oleh pemahaman kita (Rom. 11:33). Jika ada yang tidak bisa menerima kebenaran ini, maka biarkanlah saja. Mengomel tidak akan mengubah apa pun. Orang-orang pilihan Allah tetap akan berdiri teguh. Kita mungkin juga harus bertanya mengapa Allah sampai membiarkan Adam terjatuh dalam dosa! Kita tidak boleh mencoba mengatur Allah. Apa yang Allah lakukan itu tidak menjadi benar karena kita menyetujuinya, tetapi semata-mata karena itu adalah kehendak-Nya. Cara lain untuk menolak kebenaran ini hanyalah dengan menciptakan pencipta lain selain Allah!
Mari kembali kepada pembahasan kita. Kamu mengabaikan arti yang memang dimaksudkan untuk kita pahami ini karena kamu tidak menyukainya dan kemudian menggantikannya dengan ”penjelasan” versimu sendiri. Namun, kita harus menguji sebuah teks dalam konteksnya untuk memahami arah dan tujuan dari penulisnya. Arti yang memang dimaksudkan untuk kita pahami dari bagian ini adalah Allah memang ingin mengeraskan hati Firaun dengan mengirimkan tulah-tulah itu. Namun, kamu menyatakan kalau Allah menggunakan panjang sabar-Nya sehingga tidak segera menghukum Firaun. Lihat lagi konteksnya. Allah sudah menanti dengan sabar untuk waktu yang lama tatkala Firaun menindas bangsa Israel. Sudah jelas ketika Allah menyatakan kalau Ia akan mengeraskan hati Firaun, Dia memang bermaksud melakukan sesuatu yang berbeda – sebuah perubahan dari yang tadinya berupa kesabaran. Kita tahu mengapa perubahan ini terjadi. Allah memang bermaksud untuk membebaskan umat-Nya dari Mesir. Dia ingin memberi alasan bagi umat-Nya untuk percaya sepenuhnya kepada-Nya. Kekerasan hati Firaun akan menyebabkan timbulnya semakin banyak tulah. Namun, setiap tulah hanya akan menyatakan kuasa Allah. Bukan hanya itu saja, setiap kali tulah itu berlalu, Musa menyatakan kalau ”Firaun dikeraskan hatinya, seperti yang telah difirmankan TUHAN”. Pernyataan seperti ini yang akan menguatkan hati bangsa Israel.
Karena kamu menginginkan Firaun memiliki kehendak yang bisa tunduk dan memberontak, maka kamu bersikeras menyatakan kalau Firaun yang memilih mengeraskan hatinya ketimbang Allah yang melakukannya. Jika memang benar seperti itu, maka berarti Allah yang akan tergantung pada ”kehendak-bebas” Firaun. Dia tidak bisa memberitahu Musa dan umat-Nya apa yang akan terjadi. Namun, yang sesungguhnya terjadi adalah Allah sendiri yang mengeraskan hati Firaun. Dia yang menggerakkan Firaun. Firaun hanya bisa melakukan apa yang memang selaras dengan naturnya. Jadi, bagian ini tidak bisa digunakan untuk mendukung ajaran mengenai ”kehendak-bebas”. Bagian ini dengan tegas akan menentangnya.