BAB 3
Apa yang Luther Tolak dari Ajaran Erasmus
Argumen 3:
”Penjelasan” Erasmus mengenai hati Firaun yang dikeraskan.
Kamu menafsirkan pernyataan ”Aku akan mengeraskan hatinya” sebagai: ”Panjang sabarku, yang Kutahan karena para pendosa dan yang menuntun orang pada pertobatan, hanya membuat Firaun semakin mengeraskan hati dalam kefasikannya”. Kamu memperlakukan Surat Roma 9:18 dan Kitab Yesaya 63:17 dengan cara yang sama. Namun, saya hanya bisa memegang perkataanmu yang menyatakan kalau ini merupakan penjelasan yang benar mengenai bagian ini. Benar, kamu memang mengutip pemikiran Origen dan Jerome. Namun, siapa yang bisa meyakinkan saya kalau mereka memang benar?
Singkat kata, upayamu dalam ”menjelaskan” bagian ini justru dengan memelintirnya. Allah berkata: ”Aku akan mengeraskan hatinya”. Kamu malahan menafsirkan Allah berkata: ”Firaun akan mengeraskan hatinya”. Kamu menyatakan hati Firaun yang dikeraskan itu disebabkan belas kasihan Allah. Jika kamu menafsirkan dengan cara seperti ini, kamu akan mengubah belas kasihan (mercy) Allah menjadi murka (wrath) Allah dan murka Allah menjadi belas kasihan Allah. Walaupun begitu, belas kasihan Allah memang bisa mengeraskan hati orang. Begitu juga dengan murka-Nya. Kita juga tahu kalau belas kasihan Allah bisa melembutkan hati orang-orang, begitu pula dengan murka-Nya. Namun, tidak ada alasan untuk menyesatkan orang mengenai mana yang merupakan murka Allah dan mana yang merupakan belas kasihan-Nya. Allah menyatakan kalau Ia akan mengeraskan hatinya Firaun dan menghukumnya dengan sepuluh tulah. Namun, penafsiranmu membuat tulah-tulah ini terlihat sebagai belas kasihan Allah! Apa tidak semakin aneh ini semua! Belas kasihan Allah memang tercurah ketika Ia menghentikan setiap tulah itu setiap kali Firaun bertobat. Namun, semua tulah ini merupakan alat/sarana yang digunakan-Nya untuk menghukum Firaun dan mengeraskan hatinya.
Mari berandai-andai kalau Allah mengeraskan hati seseorang karena panjang sabar-Nya sehingga Ia menahan hukuman yang seharusnya diberikan. Hati seseorang tetap tidak akan dilembutkan kecuali oleh karya Roh Kudus. Karena itu, apa pun proses yang digunakan, hati seseorang bisa dikeraskan atau dilembutkan semata-mata karena kehendak Allah.
Kamu menyatakan: ”Karena matahari yang sama, lumpur dikeraskan dan lilin dicairkan. Seperti halnya karena hujan yang sama, tanah yang baik akan menghasilkan buah, sementara tanah yang tidak baik akan menghasilkan semak duri. Jadi, oleh panjang sabar Allah yang sama, beberapa orang dikeraskan hatinya, sementara yang lainnya dipertobatkan”. Namun, ilustrasi seperti ini tidak mendukung pemikiranmu. Kamu bersikeras menyatakan semua orang itu sama – memiliki ”kehendak bebas”. Namun, pemilihan Allah yang membuat adanya pembedaan di antara manusia. Jika bukan karena Allah yang memilih, maka semua manusia hanya akan bebas untuk melawan Allah. Namun, kamu menyatakan kalau konsep pemilihan itu tidak ada. Karena itu, kamu harus menerima konsep Allah yang tak berdaya; manusia diselamatkan ataupun dihukum tanpa perlu melibatkan-Nya. Allah hanya bisa menyatakan kebaikan-Nya. Lantas, Allah karena itu tidak bisa melakukan apa pun selain makan-makan di perjamuan! Pemikiran seperti inilah yang terbaik yang bisa dihasilkan akal budi manusia. Apalagi, kamu semakin membingungkan perihal ini dengan menyatakan ada dua jenis ”kehendak-bebas” – lilin dan lumpur; tanah yang baik dan yang tidak baik. Ilustrasi ini tidak akan mendukung pemikiranmu. Ilustrasi ini hanya masuk akal jika kita menganggap hujan dan mataharinya sebagai Injil; lumpur dan tanah yang tidak baik sebagai orang-orang yang tidak dipilih; lilin dan tanah yang baik sebagai orang-orang yang dipilih. Mereka yang tidak dipilih hanya akan dibuat menjadi lebih buruk oleh pemberitaan Injil. Mereka yang memang sudah dipilih sejak semula akan dibuat menjadi lebih baik oleh pemberitaan Injil.
Kamu sudah memelintir ayat Alkitab dengan ”penjelasan” ini. Kamu menyatakan kalau Firaun yang dikeraskan hatinya oleh Allah yang baik tidaklah masuk akal. Siapa yang bilang tidak masuk akal? Hanya akal budi manusia yang tidak bisa menerima kebenaran ini. Apakah kita akan menghakimi tindakan Allah dengan akal budi kita yang buta, tuli, dan fasik? Jika memang demikian, maka seluruh iman Kristen juga tidak masuk akal. Seperti yang Paulus nyatakan di Surat 1 Korintus 1:23; pemberitaan bahwa Allah menjadi manusia, lahir dari seorang perawan, disalibkan, dan duduk di sisi kanan Allah adalah kebodohan bagi bangsa Yunani dan batu sandungan bagi bangsa Yahudi. Dengan akal budi, sudah jelas tidak masuk akal untuk beriman percaya pada hal-hal seperti ini.
Kamu belum bisa dengan meyakinkan menjelaskan perihal bagaimana manusia dianggap bertanggung jawab karena mengeraskan hatinya. Kamu masih harus menjelaskan bagaimana Allah bisa menuntut ”kehendak-bebas” untuk melakukan hal yang tidak mungkin seperti ini. Bagaimana Allah bisa mempersalahkan ”kehendak-bebas” karena memilih dosa, meskipun ”kehendak-bebas” memang hanya bisa melakukan apa yang jahat? Kamu kan katanya ingin bergantung pada akal budi. Hal-hal seperti ini sama halnya tidak masuk akal bagi akal budi manusia.
Faktanya adalah: ”kehendak-bebas” tidak bisa menghentikan manusia mengeraskan hatinya. Hanya karya Roh Kudus yang bisa melakukan itu.
Kamu menyatakan kalau Allah tidak mungkin menjadi pihak yang mengeraskan hati Firaun karena Ia adalah Allah yang menyatakan semua ciptaan-Nya itu sungguh baik adanya. Namun, pernyataan Allah ini merujuk pada ciptaan-Nya sebelum kejatuhan Adam ke dalam dosa (the Fall). Sejak saat itu, kita semua, termasuk Firaun, menjadi ciptaan yang fasik dan rusak. Sekalipun jika pernyataan ini merujuk pada karya Allah setelah Kejatuhan, pernyataan ini harus dipahami sedang merujuk pada cara Allah melihat segala sesuatu, bukan cara manusia. Banyak hal yang baik di mata Allah, namun terlihat jahat di mata kita. Sebagai contoh – penderitaan, kesedihan, kesalahan, neraka, dan segala yang baik di mata Allah terlihat jahat di mata manusia. Injil adalah hal terbaik yang bisa ditawarkan pada manusia, namun Injil ini juga yang paling dibenci dunia.