BAB 3
Apa yang Luther Tolak dari Ajaran Erasmus
Argumen 2:
Erasmus memelintir ayat-ayat Alkitab.
Kamu telah menemukan cara baru untuk mengabaikan arti yang sudah begitu jelas dari sebuah ayat. Kamu bersikeras kalau ayat Alkitab yang dengan jelas menentang ”kehendak-bebas” pastilah memiliki ”penjelasan” yang akan mengungkapkan arti sesungguhnya dari ayat itu. Pemikiran seperti ini hanya mungkin dipegang kalau memang ayat itu tidak bisa dipahami apa adanya. Jika ayat itu sudah jelas, maka kita harus memegang arti yang sederhana dan alami dari ayat itu, sesuai dengan kaidah berbahasa dan berkomunikasi seperti yang diciptakan Allah bagi kita. Jika tidak seperti itu, kita tidak akan bisa memastikan arti dari ayat yang mana pun. Tidaklah cukup untuk menyatakan kalau suatu ”penjelasan” diperlukan. Ketika kita menyatakan suatu ayat perlu-atau-harus ada ”penjelasan” lebih lanjut, maka kita harus bisa membuktikannya.
Firman Tuhan harus dipahami apa adanya dengan arti yang sewajarnya (its plain meaning), seperti halnya kata itu sewajarnya dan biasanya dipahami.
Contoh ”penjelasan” yang kamu maksud misalnya saja terkait caramu menjelaskan pernyataan di Kitab Keluaran 4:21: ”…Aku akan mengeraskan hatinya”. Kamu menyatakan kalau arti sebenarnya adalah: ”Aku mengijinkan hatinya dikeraskan”. Kamu menganggap kalimat di bagian ini sama seperti ketika kita menyatakan kalau ”Saya sudah menghancurkanmu” (I ruined you), yang sebenarnya merupakan cara lain bagi kita untuk menyatakan ”Saya tidak mengoreksimu ketika kamu salah”. Namun, arti kalimat ini sendiri sudah jelas dan terang benderang. Kalimat seperti ini tidak memerlukan ”penjelasan” apa pun lagi. Firman Tuhan harus dipahami apa adanya dengan arti yang sewajarnya (its plain meaning), seperti halnya kata itu sewajarnya dan biasanya dipahami. Kita tidak boleh mengubah arti sebuah ayat sesuai selera kita. Kita tidak boleh mengartikan kalimat ”Allah menciptakan langit dan bumi” menjadi ”Dia memang yang menempatkannya, tetapi Dia tidak menciptakannya dari ketiadaan!”. Jika metode seperti ini diterapkan dalam memaknai ayat Alkitab, maka setiap orang di dunia ini bisa menjadi seorang teolog ketika mulai membaca Alkitab!