BAB1
Apa yang Alkitab Ajarkan
Argumen 19:
Kemuliaan Allah tidak bisa tercemari.
Kamu mungkin khawatir betapa sulitnya menjelaskan kemuliaan Allah terkait semua fakta ini. Kamu mungkin berkata, ”Allah mengapa menghukum mereka yang memang tidak bisa tidak berdosa dan memang dipaksa untuk seperti itu karena Allah memang tidak memilih mereka untuk diselamatkan?” Seperti yang Paulus nyatakan: ”…Pada dasarnya kami adalah orang-orang yang harus dimurkai, sama seperti mereka yang lain” (Efe. 2:3). Namun, kamu harus melihatnya dari sudut pandang yang lain. Allah tetap harus dimuliakan dan dihormati sebagai pihak yang penuh dengan belas kasihan atas orang-orang yang Ia benarkan dan selamatkan, mengingat mereka sama sekali tidak pantas untuk diselamatkan. Kita tahu kalau Allah itu ilahi. Dia juga bijak dan adil. Keadilan-Nya tidaklah sama dengan keadilan versi manusia. Keadilan-Nya melampaui kemampuan manusia untuk sepenuhnya bisa memahami-Nya. Seperti yang dinyatakan Paulus di Surat Roma 11:33, ”Oh, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat, dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya!” Jika kita memang setuju kalau natur Allah, kekuatan-Nya, bijaksana-Nya, dan pengetahuan-Nya jauh melampaui kita, kita seharusnya juga percaya kalau keadilan-Nya jauh lebih adil dan baik ketimbang versi kita. Allah sudah berjanji ketika Ia menyatakan kemuliaan-Nya kelak, kita bisa melihat dengan jelas apa yang seharusnya kita percaya saat ini – bahwa Dia memang adil; selalu dan akan selalu begitu.
Contoh lain. Jika kita menggunakan akal budi manusia untuk memahami cara Allah melakukan ini itu di dunia ini, kita terpaksa harus menyatakan ”Allah itu tidak ada” atau ”Allah itu tidak adil”. Misalnya saja, orang fasik berjaya, sementara orang benar menderita (lih. Ayub 12:6 dan Mzm. 73:12). Itu jelas terlihat tidak adil. Jadi, banyak orang yang menolak keberadaan Allah dan menganggap segala sesuatu terjadi hanya karena faktor kebetulan semata. Jawaban terhadap pergumulan ini adalah fakta mengenai adanya kehidupan setelah kehidupan saat ini. Apa yang tidak dihukum dan dibalas saat ini, akan dihukum dan dibalas saat itu. Hidup kita saat ini tidak lain tidak bukan merupakan persiapan, atau bahkan, awal mula kehidupan yang akan datang. Pergumulan mengenai soal ini sudah dibahas sejak lama dan belum bisa diselesaikan dengan tuntas, kecuali dengan mempercayai pemberitaan Injil yang sejati. Tiga terang Alkitab yang membantu kita memahami pergumulan ini adalah: terang natur (the light of nature), terang kasih karunia (the light of grace), dan terang kemuliaan (the light of glory). Jika menggunakan terang natur, Allah akan terlihat tidak adil karena membiarkan orang baik menderita dan orang fasik berjaya. Terang kasih karunia membantu kita memahami ini, namun tidak bisa menjelaskan mengapa Allah menghukum seseorang, yang dengan kekuatannya sendiri, memang tidak bisa melakukan apa pun selain berdosa dan bersalah. Hanya terang kemuliaan yang bisa menjelaskan soal ini terkait hari di mana Allah akan menyatakan diri-Nya sebagai Allah yang sungguh-sungguh adil, walaupun penghakiman-Nya jelas melampaui pemahaman kita sebagai manusia. Manusia yang beriman (godly man) sungguh-sungguh percaya kalau Allah sudah menentukan dan menetapkan segala sesuatu. Tidak ada sesuatu pun yang bisa terjadi tanpa seijin-Nya. Karena itu, tidak mungkin ada manusia, atau malaikat, atau ciptaan apapun, yang memiliki ”kehendak-bebas”. Iblis adalah penguasa kerajaan angkasa (prince of this world) yang memerintah atas semua manusia sampai mereka dilepaskan dari sana oleh kuasa Allah Roh Kudus.