BAB1
Apa yang Alkitab Ajarkan
Argumen 12:
Keselamatan bagi dunia berdosa hanya karena kasih karunia melalui iman semata.
Mari kita membahas Injil Yohanes yang dengan lugas juga menentang ”kehendak-bebas”. Di Injil Yohanes 1:5, ia menyatakan: ”Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya”. Di Injil Yohanes 1:10-11: ”Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan oleh-Nya, tetapi dunia tidak mengenal-Nya. Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya”. Kata ”dunia” yang dipakai Rasul Yohanes merujuk pada umat manusia secara keseluruhan. Jika ”kehendak-bebas” itu memang hal terbaik dalam diri setiap manusia, maka hal ini juga tercakup dalam kata ”dunia” yang dirujuk Yohanes ini. Karena itu, dua ayat ini membuktikan kalau ”kehendak-bebas” tidak mengenal Sang Terang dan membenci Kristus dan umat-Nya. Di banyak bagian, seperti di Injil Yohanes 7:7; 8:23; 14:7; 15:19 ataupun di Surat 1 Yohanes 2:16; 5:19, Yohanes menyatakan kalau dunia (yang berarti termasuk ”kehendak-bebas”) ini berada di bawah kekuasaan Iblis.
”Dunia” mencakup segala sesuatu yang belum dibawa Allah Roh Kudus kepada Allah. Jika memang ada orang yang dengan ”kehendak-bebas”-nya bisa mengenal Sang Kebenaran dan dengan ”kehendak-bebas”-nya tidak membenci Kristus, Rasul Yohanes pastinya akan mengubah pernyataannya ini. Namun, dia tidak melakukannya. Jelas sudah, ”kehendak-bebas” sama terkutuknya dengan ”dunia” ini. Di Injil Yohanes 1:12-13, Yohanes juga menyatakan: ”Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya; orang-orang yang diperanakkan bukan dari darah (natural descent) atau dari daging (human decision), bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki (husband’s will), melainkan dari Allah (born of God)”. Frasa ”bukan dari darah” berarti sia-sia bagi kita untuk bersandar pada tempat di mana kita dilahirkan atau di keluarga mana kita dibesarkan. Frasa ”bukan dari daging” berarti sia-sia bagi kita untuk bersandar pada ketekunan melakukan hukum Taurat. Frasa ”bukan dari keinginan seorang laki-laki” menegaskan kalau tidak ada usaha perbuatan manusia yang bisa membuatnya dibenarkan di hadapan Allah.
Jika ”kehendak-bebas” memang berguna, Yohanes tentunya tidak berani menyebut soal-soal ”bukan dari daging” ini. Ia tentunya tidak berani melakukan apa yang diperingatkan di Kitab Yesaya 5:20: ”Celakalah mereka yang menyebutkan kebaikan itu jahat”. Sudah bisa kita pastikan kalau silsilah keturunan kita tidak bisa menyelamatkan karena di Surat Roma 9:8, Paulus menyatakan: ”…bukan anak-anak menurut daging adalah anak-anak Allah, tetapi anak-anak perjanjian yang disebut keturunan yang benar”.
Di Injil Yohanes 1:16, Rasul Yohanes juga menyatakan: ”Karena dari kepenuhan-Nya kita semua telah menerima kasih karunia demi kasih karunia”. Jadi, berkat rohani hanya bisa diterima melalui kasih karunia semata; tidak melalui ketekunan dan kesalehan kita. Dua hal ini saling bertentangan sehingga keduanya tidak mungkin sama-sama benar. Pernyataan ”kasih karunia itu begitu murahan sehingga setiap orang, di mana saja, sanggup untuk meraihnya” dan ”kasih karunia begitu agung sehingga hanya bisa diterima karena kepantasan (merit) satu manusia saja, yaitu Yesus Kristus “ tidak mungkin bisa sama-sama benar.
Saya berharap lawan-lawan saya menyadari ketika mereka mengajarkan perihal ”kehendak-bebas” ini, mereka sebenarnya sedang menyangkal Kristus. Jika kita bisa meraih kasih karunia melalui ”kehendak-bebas”, maka kita tidak membutuhkan Kristus. Jika kita memiliki Kristus, maka kita tidak membutuhkan ”kehendak-bebas”. Para pendukung ajaran ”kehendak-bebas” ini membuktikan penyangkalan mereka atas Kristus melalui perbuatan mereka, karena beberapa dari mereka bahkan mengandalkan Maria dan para santo-santa sebagai pengantara. Mereka menolak Kristus sebagai satu-satunya Pengantara (mediator) antara manusia dan Allah. Mereka menolak Kristus dan karya-Nya sebagai Pengantara dan sebagai Juruselamat yang penuh kasih. Mereka menganggap kepantasan Kristus lebih rendah bobot nilainya ketimbang kesalehan mereka sendiri.