BAB 2
Apa yang Erasmus Ajarkan
Argumen 6:
Argumen Erasmus pastilah bermaksud menyatakan kalau kehendak manusia itu sepenuhnya bebas.
Ada pertentangan yang mendasar dari argumenmu. Di satu sisi, dari pernyataan di Kitab Sirakh 15:14-17 (”if you are willing desire”), kamu menyatakan kalau manusia bebas untuk berkehendak, atau tidak berkehendak. Namun, kamu juga menyatakan kalau sudut pandang pertama dari ketiga sudut pandang terkait ”kehendak-bebas” yang lebih mungkin benar. Namun, pandangan pertama itu menyatakan kalau ”kehendak-bebas” tidak bisa melakukan apa yang baik. Kamu tidak bisa memegang kedua hal yang saling bertentangan ini sekaligus!
Kitab Sirakh tidak menyatakan kalau: ”If you will desire and try to keep my commandments…”. Namun, dinyatakan kalau: ”If you are willing desire and try to keep my commandments…”. Bagian ini bermaksud menyatakan kalau ”kehendak-bebas” itu sepenuhnya bebas, bukannya sesuatu yang hanya setengah bebas. Inilah yang diyakini kelompok Pelagian.
Siapa pun yang tidak sepakat dengan pandangan mereka akan memiliki masalah besar, seperti halnya kamu, yang hanya ingin memiliki sedikit unsur ”kehendak-bebas”. Manusia dianggap bisa bebas untuk berkehendak dan sanggup untuk menaati Allah. Kaum Pelagian menyatakan kalau pernyataan di bagian ini mengajarkan soal ”kehendak-bebas” yang sepenuhnya bebas atau yang sepenuhnya terbelenggu. Mereka akan mengingatkan kita kalau bagian ini juga menyatakan kalau ”berlaku setiapun dapat kaupilih” (If you will keep the faith…). Karena itu, mereka juga mengajarkan kalau manusia itu memiliki kebebasan untuk bisa memilih beriman-percaya atau tidak. Namun, Paulus dengan tegas menentang pengajaran mereka dengan menyatakan kalau iman merupakan karunia khusus dari Allah (Efe. 2:8).
Kembali pada argumen saya bahwa pernyataan di kitab Sirakh ini sama sekali tidak mengajarkan soal ”kehendak-bebas”. Sangat salah berpendapat kalau arti pernyataan ”if you are willing” dipahami sebagai ”karena itu kamu sanggup/bisa” (therefore you can). Manusia pertama, Adam, yang sekalipun ditopang oleh anugerah Allah, namun tetap saja tidak bisa taat. Jika Adam saja tidak taat, apa yang kita sanggup lakukan tanpa anugerah? ”Kehendak-bebas” sama sekali tidak memiliki kuasa/kekuataan. Jika kamu memahami apa yang terjadi pada Adam terkait pernyataan di Kitab Sirakh 15:14-17 ini, kamu akan memahami kalau bagian ini justru yang paling menentang ”kehendak-bebas”. Bagian ini mengajarkan perihal kewajiban kita untuk melakukan kehendak Allah, bukannya mengenai kesanggupan kita menaati perintah Allah.