Sukacita Surga
22 Februari
Artikel oleh .
Pendiri dan Pengajar, desiringGod.org
”Karena dari kepenuhan-Nya kita semua telah menerima kasih karunia demi kasih karunia”
(Yoh. 1:16)
Tepat sebelum kebaktian hari Minggu yang lalu, sekelompok kecil pendoa (para orang kudus yang berdoa dengan sungguh-sungguh) yang berjuang untuk imannya umat kita; untuk berbagai gereja di kota-kota besar; dan untuk berbagai bangsa memanjatkan doanya. Pada satu titik, seorang pria mendoakan pernyataan dari Yohanes 1:14, 16:
Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran … Karena dari kepenuhan-Nya kita semua telah menerima kasih karunia demi kasih karunia.
Itu adalah salah satu momen epifani bagi saya. Allah membuat kata ”kepenuhan” — dari ”kepenuhan-Nya” — mendatangkan kepenuhan yang menimbulkan dampak yang luar biasa terhadap saya. Saya merasakan beberapa bobot dari apa yang sebenarnya dikandung oleh kata tersebut – kepenuhan-Nya Kristus.
Saya merasakan beberapa ketakjuban bahwa (ya, memang benar) saya memang telah menerima kasih-karunia demi kasih-karunia dari kepenuhan ini. Pada saat itu, saya memang merasa sedang menerima kasih-karunia demi kasih-karunia. Pada saat itu, saya merasa tidak ada yang lebih indah dibandingkan hanya duduk di kaki-Nya — atau membaca Alkitabnya saya — sepanjang sore dan merasakan kelimpahan dari kepenuhan-Nya tersebut meluap pada saya.
Mengapa kepenuhan ini memiliki dampak begitu besar pada saya — dan mengapa masih mempengaruhi saya secara tidak biasa hingga pada saat ini? Sebagian alasannya karena…
- … Dia, yang dari kepenuhan-Nya telah membuat saya basah kuyup oleh kasih karunia, adalah Sang Firman yang telah ada bersama-sama dengan Allah; dan yang juga adalah Allah (Yoh. 1:1-2) sehingga kepenuhan-Nya adalah kepenuhan-Nya Allah — kepenuhan ilahi; kepenuhan yang tak terbatas;
- … Sang Firman ini telah menjadi manusia sehingga telah menjadi salah seorang dari kita. Ia sedang mengejar kita dengan kepenuhan-Nya — sehingga kepenuhan-Nya adalah kepenuhan yang dapat diakses;
- … ketika Sang Firman ini muncul dalam bentuk manusia, maka kemuliaan-Nya terlihat — kemuliaan-Nya adalah kepenuhan-yang-mulia;
- … Sang Firman ini adalah ”Anak Tunggal Bapa” (Yoh. 1:14) sehingga kepenuhan ilahi diperantarai kepada saya bukan hanya dari-Allah, melainkan juga melalui-Allah. Allah tidak mengutus malaikat, tetapi Anak-Nya yang tunggal untuk menyalurkan kepenuhan-Nya;
- … kepenuhan Allah-Anak adalah kepenuhan kasih-karunia — saya tidak akan tenggelam dalam kepenuhan ini, tetapi diberkati dalam segala hal oleh kepenuhan tersebut;
- … kepenuhan ini bukan hanya kepenuhan akan kasih-karunia, melainkan juga kepenuhan akan kebenaran. Saya tidak dikaruniai puji-pujian yang mengabaikan kebenaran. Kasih-karunia ini berakar pada realitas-yang-kokoh.
Apakah mengherankan jika saya kemudian merasa terkagum-kagum dan dipenuhi dengan sukacita oleh kepenuhan-Nya Kristus?!
Artikel ini diterjemahkan dari "Enjoying His Fullness."