BAB 2
Apa yang Erasmus Ajarkan
Argumen 4:
Kembali mengupas argumen Erasmus yang didasari Kitab Sirakh 15:14-7.
Mari kita kembali membahas kutipan dari Apokrifa (Deuterokanonika) dan membandingkannya dengan tiga pandangan di atas. Pandangan pertama, yang kamu nyatakan sebagai sesuatu yang benar, menyatakan kalau ”kehendak-bebas” tidak bisa melakukan apa yang baik. Namun, kutipan dari Kitab Sirakh (Ecclesiasticus) menyatakan kalau ”kehendak-bebas” bisa melakukan apa yang baik. Berdasarkan pendapatmu, bagian di Kitab Sirakh ini seharusnya mendukung pandangan yang pertama. Namun, bagian ini tidak menyatakan apa pun mengenainya. Itu akan seperti kamu mengutip informasi kalau Pilatus adalah Gubernur Siria untuk membuktikan Kristus adalah Sang Mesias!
Supaya adil, kita akan mencoba mengupas Kitab Sirakh 15:14-7 ini. Bagian ini dimulai dengan pernyataan: ”Pada awal mula Tuhan menjadikan manusia serta menyerahkannya kepada keputusannya sendiri”. Sampai titik ini, belum ada pernyataan apa pun yang berupa hukum/perintah (commandments). Kehendak manusia memang sepenuhnya bebas ketika Allah menciptakannya sebagai penguasa atas segala sesuatu. Ketika Allah kemudian dinyatakan berkata: ”Asal sungguh mau engkau dapat menepati hukum,…”, pernyataan ini juga benar adanya. Allah mengambil manusia dari posisi dominasinya sehingga sejak saat itu ia berada di bawah hukum Allah. Dia tidak bebas. Jadi, bagian ini lebih mungkin dipahami menurut pemikiranku, bukan menurut pemikiranmu! Pemahamanku atas bagian ini selaras dengan keseluruhan isi Kitab Suci. Pemahamanmu membuat bagian ini bertentangan dengan keseluruhan isi Kitab Suci.