Terlahir sebagai Budak – Bab Dua – Argumen 3

BAB 2

Apa yang Erasmus Ajarkan


Argumen 3:
Tiga sudut pandang Erasmus mengenai ”kehendak-bebas”.

 

Kamu menghasilkan tiga pandangan mengenai ”kehendak-bebas” dari satu definisi! Mari kita mengupasnya. Yang pertama adalah pandangan yang menganggap manusia tidak bisa berbuat baik; yang bahkan tidak bisa memulainya, menumbuhkannya ataupun menyelesaikannya tanpa anugerah khusus. Kamu menyebut pandangan ini sebagai sesuatu yang ”buruk, namun mungkin cukup”.

 

Yang kedua, yang kamu nyatakan sebagai pandangan yang “lebih buruk”, adalah pandangan yang menganggap ”kehendak-bebas” hanya bisa menuntun kita pada dosa, sementara hanya kasih karunia saja yang bisa menuntun kita pada kebaikan.

 

Yang ketiga, yang kamu nyatakan sebagai pandangan yang ”paling buruk”, adalah pandangan yang menganggap ”kehendak-bebas” sebagai sesuatu yang sia-sia dan Allah dipandang sebagai penyebab bagi hal yang baik dan buruk dalam diri kita masing-masing.

 

Kamu bersedia menerima pandangan yang pertama karena pandangan ini memberi ruang bagi peran manusia. Kamu kemudian menyatakan menentang dua pandangan lainnya. Kamu sepertinya tidak mengerti apa yang kamu nyatakan! Ini bukanlah tiga pandangan. Tiga pandangan ini sebenarnya sama saja isinya, hanya dinyatakan dengan pilihan kata yang berbeda saja, pada waktu yang berbeda, oleh lawan-lawanmu. Definisimu mengenai ”kehendak-bebas” itu sebenarnya sama saja dengan pandangan pertama yang kamu nyatakan sebagai sesuatu yang bisa diterima. Definisimu menyatakan ”kehendak-bebas” sebagai sesuatu yang bisa digunakan untuk memilih untuk melakukan hal yang baik dan jahat. Namun, pandangan pertama yang kamu terima itu menyatakan kalau ”kehendak-bebas” tidak bisa memilih yang baik tanpa pertolongan kasih karunia Allah. Kamu sekarang memiliki dua jenis kehendak dalam satu orang. Dengan menerima pandangan pertama, kamu setuju kalau ”kehendak-bebas” tidak bisa melakukan hal yang baik. Kamu sendiri juga menyatakan: ”kehendak-bebas” itu begitu rusak sehingga kehilangan kebebasannya dan terpaksa berdosa dan tidak bisa pulih kembali”. Namun, ketika saya menyatakan hal yang sama, kamu malah menyatakan: ”Tidak pernah saya mendengar hal yang begitu konyol seperti ini”. Definisimu itu sebenarnya menyatakan orang yang mencoba berbuat baik itu berada di bawah kuasa ”kehendak-bebas” dan sekaligus tidak berada di bawah kuasa ”kehendak-bebas” pada saat bersamaan. Jika hal ini tidak disebut aneh, saya mau tahu apa namanya ini!

 

Tiga pandangan ini sebenarnya sama saja isinya, hanya dinyatakan dengan pilihan kata yang berbeda saja, pada waktu yang berbeda, oleh lawan-lawanmu. Definisimu mengenai ”kehendak-bebas” itu sebenarnya sama saja dengan pandangan pertama yang kamu nyatakan sebagai sesuatu yang bisa diterima.

 

Pernyataan-pernyataanmu itu saling bertentangan satu sama lainnya sehingga tidak mungkin bisa diselaraskan. Tidak ada pilihan lain di luar pilihan ”bisa berbuat baik” dan ”tidak bisa berbuat baik”.

 

Sebenarnya, pandangan kedua dan ketiga yang kamu utarakan itu juga sudah tercakup dalam pandangan pertama. Ketiga pandangan ini sebenarnya selaras satu sama lainnya. Kamu menyatakan hanya menentang kedua pandangan terakhir, namun ketiganya sama-sama menyatakan kalau kehendak manusia telah kehilangan kebebasannya; kehendak manusia terikat pada kuasa dosa dan tidak bisa berkehendak untuk melakukan apa yang baik. Jika ini memang benar, maka ketika manusia berbuat jahat, dia melakukannya karena dia memang harus. Dia memang tidak bisa tidak berbuat jahat.

 


 

TERLAHIR SEBAGAI BUDAK

Sebuah versi sederhana dan ringkas dari buku klasik “Belenggu Kehendak” yang ditulis oleh Martin Luther, diterbitkan pertama kali pada tahun 1525.

Versi Inggris
Dikerjakan oleh:
Clifford Pond
Diedit oleh:
J.P. Arthur M.A
H.J. Appleby
Versi Indonesia
Diterjemahkan oleh:
Yonghan
Diedit oleh:
Suriawan Surna

You may also like...

Tinggalkan Balasan