Yak. 4:3 (AYT)
Atau, kamu meminta, tetapi tidak mendapat karena kamu meminta dengan alasan yang salah, yaitu untuk memuaskan hawa nafsumu.
Banyak orang salah memahami pernyataan di Mat. 7:7 sebagai suatu mantera. Dikombinasikan dengan pernyataan Yesus di Yoh 16:23-24, doa yang diakhiri dengan frasa “di dalam nama Yesus” dipahami seolah-olah harus-dan-pasti dikabulkan.
Sebenarnya, semua doa kita memang selalu dijawab, entah dengan jawaban “ya”, “tidak”, atau “tunggu”. Namun, jawaban Tuhan biasanya dianggap tidak sesuai dengan kehendak kita yang telah tercemar oleh hawa nafsu dan kedagingan. Keinginan Roh dan daging memang akan saling bertentangan.
Melalui bagian ini, Yakobus menjelaskan kalau tidak semua permintaan kita akan dikabulkan sesuai keinginan kita karena mungkin itu memang bukan sesuatu yang baik bagi kita. Ketika melihat ke belakang, ada berapa banyak doa yang kini kita syukuri kalau itu memang tidak dijawab sesuai keinginan kita? Kadang-kadang, butuh waktu bertahun-tahun sebelum kita memahami kalau apa yang kita inginkan-dan-pintakan adalah hal yang tidak baik bagi kita. Kita berdoa dengan iman, di dalam nama Yesus, tetapi “untuk memuaskan hawa nafsumu”.
Kita bersyukur punya Bapa yang Mahakuasa dan Mahatahu sekaligus. Apa pun jawaban bagi permintaan dan doa kita saat ini (entah jawabannya “ya”, “tidak”, atau “tunggu”), dengan iman kita tahu dengan pasti kalau jawaban itulah yang terbaik bagi kita. Entah kita sudah bisa terima-dan-pahami saat ini atau belum.
Karena itu, apa pun permintaannya, sebaiknya doa kita diakhiri dengan frasa: “Jadilah kehendak-Mu, jangan kehendakku. Dengan cara-Mu, jangan caraku. Pada waktu-Mu, jangan waktuku. Di dalam nama Tuhan Yesus, saya berdoa. Amin”.
Dengan iman, kita percaya segala sesuatu indah pada waktu-Nya (Pkh. 3:11). Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat (Ibr. 11:1).