Tanpa Kekudusan, Tidak Masuk Surga:
Bagaimana Mengetahui Apakah Iman Itu Nyata atau Mati

14 November 2020
Artikel oleh Greg Morse
Staf penulis
, desiringGod.org

Tidak seorang pun yang akan masuk surga yang tidak melakukan berbagai perbuatan baik di bumi. Dengan kata lain, termasuk ayat dalam Surat Ibrani 12:14, memang benar ”tanpa kekudusan tidak seorangpun akan melihat Tuhan.” Singkatnya, ”tanpa kekudusan, tidak masuk surga.”

Berupa pernyataan tanpa basa-basi: ”Iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati” (Yak. 2:26).

Berupa pengakuan iman: ”Iman, yang adalah menerima-dan-bersandar pada Kristus-dan-kebenaran-Nya, merupakan satu-satunya sarana pembenaran. Namun, imannya orang yang dibenarkan itu tidak berdiri sendiri, tetapi selalu disertai semua anugerah-yang-menyelamatkan lainnya. Pun iman itu tidak mati, tetapi bekerja oleh kasih” (Pengakuan Iman Westminster).

Berupa perintah: ”… kerjakan [yang secara harfiah berarti ”hasilkan”] keselamatanmu dengan takut dan gentar” (Fil. 2:12).

Berupa ilustrasi: ”Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah, dipotong-Nya… kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar” (Yoh. 15:2,6).

Berupa syair, ”Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya” (Mzm. 23:3).

Berupa pengulangan: ”Tidak seorang pun yang akan masuk surga yang tidak melakukan berbagai perbuatan baik di bumi.”

Dua Bidah yang Familier

Nah, untuk menjelaskan hal ini, pertama-tama saya akan menentang satu bidah terlebih dahulu. Tidak seorang pun yang akan masuk surga berdasarkan perbuatan-perbuatan baik. 

”Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri” (Ef. 2:8-9). “Tidak seorangpun yang dibenarkan oleh karena melakukan hukum Taurat” (Gal. 2:16). Kebenaran Kristus, bukan kebenaran kita, yang membenarkan sepenuhnya. Laki-laki, perempuan, atau anak-anak yang percaya kepada Yesus (yang telah membenarkan orang durhaka) akan dianggap benar di hadapan Allah. Darah-Nya mendekatkan kita kepada Allah; kebenaran-Nya yang diperhitungkan pada kita yang kita butuhkan. Dengan kata lain, semuanya karena Dia, Dia, Dia — bukan kita — sehingga tidak ada orang yang bisa memegahkan diri. Orang Kristen memang akan berjalan di jalan yang sempit yang penuh dengan berbagai perbuatan baik, Allah sebelumnya telah mempersiapkan semuanya itu bagi mereka untuk menjalaninya.

Jadi, di sini kita mengerti bahwa tidak seorang pun yang akan masuk surga yang tidak berjalan dalam iman-yang-menghasilkan perbuatan baik di bumi — ”ketaatan iman” (Rom. 1:5; 16:26) atau ”iman yang bekerja oleh kasih” (Gal. 5:6) — dan tidak seorang pun yang masuk surga akan berada di sana berdasarkan perbuatan baiknya. Satu bidah mengatakan tidak penting jika Anda berbuat, berusaha, atau bertarung sama sekali. Yang satunya lagi mengatakan bahwa perbuatan, usaha, dan pertarungannya Anda itulah yang mengantar Anda sampai di hadapan Allah yang kudus. Yakobus menyebut bidah yang pertama sebagai imannya para-setan (Yak. 2:19). Paulus menyebut bidah yang kedua sebagai imannya orang-yang-bodoh (Gal. 3:1). Satu kekeliruan diam dengan nyaman di antara kaum injili. Yang satunya lagi di antara orang Katolik. Iman-yang-mati adalah yang saya ingin bahas lebih mendalam.

Sekali Selamat, Tetap Selamat

Iman-yang-mati (yang tidak menghasilkan perbuatan) belum tentu merupakan iman-yang-diam. Iman itu sering mengulang-ulang (dan menyalahgunakan) berbagai mantra-emas seperti misalnya, ”Sekali selamat, tetap selamat”; seolah-olah sedang meletakkan permata ke moncongnya babi.

Dipahami dengan benar, ”Sekali selamat, tetap selamat” akan mewakili kebenaran yang menakjubkan bahwa dari sudut pandang kekekalan Allah, anak-anak-Nya (yang ditetapkan untuk diselamatkan sebelum dimensi waktu dimulai) tidak akan murtad — Dia akan membawa mereka pulang. Dia mengukir nama mereka di dalam buku kehidupan. Anak-Nya telah menebus dosa-dosa mereka yang sebenarnya Dia memeterai mereka dengan Roh-Nya sendiri sebagai pembayaran di muka — Roh yang pasti akan menyelesaikan pekerjaan-Nya pada hari Kristus Yesus. Tidak ada yang akan memisahkan anak-anak-Nya yang sejati dari kasih-Nya. Sang Gembala tidak akan kehilangan domba-Nya.

Melalui pernyataan seperti ini, beberapa orang menarik kesimpulan yang menyimpang. Alih-alih menyimpulkan seperti halnya Paulus kalau “dasar yang diletakkan Allah itu teguh dan meterainya ialah: ’Tuhan mengenal siapa kepunyaan-Nya’ dan ’Setiap orang yang menyebut nama Tuhan hendaklah meninggalkan kejahatan’” (2 Tim. 2:19), beberapa orang malah menyimpulkan kalau ketekunan orang-orang Kristen bukanlah suatu keharusan.

Mereka mungkin membayangkan Allah sedang menempatkan jiwa-jiwa di atas ban-berjalan (conveyor belt) yang sedang bergerak menuju kemuliaan. ”Sekali selamat, tetap selamat” — tidak peduli seberapa jauh kehidupan mereka telah dikompromikan. Dengan melakukan itu, mereka mengadu doktrin penting tentang pembenaran terhadap darah, keringat, dan kerja keras dari doktrin penting tentang pengudusan. Mereka menganggap kalau doktrin yang pertama mengalahkan yang kedua. Kita tidak membutuhkan kekudusan, pikirnya, karena toh sekali selamat tetap selamat. Karena sudah ”selamat”, mereka menyimpulkan kalau hal itu termasuk ”selamat dari kebutuhan untuk hidup taat.”

Berbagai ayat yang berbicara tentang syarat untuk mewarisi hidup-yang-kekal (syarat yang diberikan Allah kepada anak-anak-Nya yang sejati untuk dipenuhi) membingungkan iman-yang-mati. Mereka tidak dapat menerima ayat tentang perlunya untuk terus kokoh dan teguh dalam iman; untuk bertahan sampai akhir; untuk berdiri teguh melalui pencobaan; untuk mematikan daging oleh Roh; untuk mengerjakan keselamatan dengan takut dan gentar; untuk memastikan panggilan dan pilihan kita melalui usaha yang sungguh-sungguh (2 Pet. 1:1-11). Seruan iman mereka yang mati berteriak ”Tuhan, Tuhan”, sementara mereka tidak menaati-Nya dalam hidup mereka. Keyakinan mereka adalah keyakinan yang saya kenal dengan baik. Itu merupakan sebuah iman yang digambarkan dengan tenang oleh karakter Si Cerewet dalam teologinya Bunyan melalui karya The Pilgrim’s Progress.

Sepanjang Jalan bersama Si Cerewet

Seseorang bernama Si S0etia, dalam alegorinya Bunyan, memiliki iman yang disertai perbuatan, sedangkan Si Cerewet memiliki iman yang tidak disertai perbuatan. Mereka bercakap-cakap di sepanjang perjalanan.

Si Setia: Apakah Anda akan pergi ke negara surgawi?
Si Cerewet: Aku juga akan pergi ke sana.

Si Cerewet percaya kalau dirinya sedang berjalan menuju Kota Surgawi. Terlebih lagi, dia berbicaranya terdengar sangat Kristen; menguasai doktrin Reformed dengan sangat baik:

Melalui ini [percakapan tentang Kitab Suci yang berguna] seseorang dapat belajar mengenai pentingnya kelahiran baru; tidak memadainya perbuatan kita; kebutuhan akan kebenaran Kristus, dan sebagainya. Selain itu, melalui ini seseorang dapat belajar mengenai apa artinya bertobat, percaya, berdoa, menderita, atau sejenisnya. Melalui ini juga seseorang dapat mempelajari mengenai apa yang merupakan janji-dan-penghiburan dari Injil-yang-agung. Selanjutnya, melalui ini seseorang dapat belajar untuk menyangkal pendapat yang salah; untuk membela kebenaran; dan juga untuk mengajar orang-orang bebal.

Bunyan mengajarkan bahwa ortodoksi-yang-benar yang dikomunikasikan dengan baik bukanlah tanda yang cukup untuk iman-yang-hidup. Si Setia, yang tidak mengetahui rencananya Si Cerewet, berbisik kepada temannya, Si Kristen, ”Sungguh kita bertemu teman yang berani! Tentunya orang ini akan menjadi musafir yang sangat baik.”

Mendengar pernyataan ini, Si Kristen dengan rendah hati tersenyum dan menjawab dengan polos,

Orang ini, yang membuat Anda begitu tertarik, dengan lidahnya ini akan menipu dua puluh orang dari mereka yang tidak mengenalnya…. Dia memang terbaik di luar negeri, tetapi dia cukup buruk kalau dekat rumah nya…. Agama tidak memiliki tempat di hatinya, atau rumahnya, atau percakapannya; apa yang dia miliki hanya ada di lidahnya. Agamanya adalah membuat keributan dengan lidahnya tersebut.

Kekristenannya hanya terletak di lidahnya. Bagaimana Si Kristen mengetahui hal tersebut? ”Saya telah berada di keluarganya dan telah mengamatinya baik di dalam rumah maupun di luar negeri.” Pohon dikenal dari buahnya. Dia adalah ”orang kudus di luar negeri dan setan di rumah.” Seperti orang-orang Farisi pada zaman Yesus, dia banyak berbicara, tetapi sedikit taat berbuat (Mat. 23:3).

Mudah bagi kita untuk membayangkan bahwa Allah telah menyelamatkan kita karena kita telah mengetahui doktrin-yang-benar. Agama lidahnya Si Cerewet yang agung terbukti tidak benar dalam kasihnya; hubungannya; hidupnya. Dia berbicara tentang kebenaran yang tidak pernah mengubahnya. Kasih karunia yang dibicarakannya tidak pernah mendidiknya untuk mengatakan tidak pada kefasikan dan menjalani hidup yang bijaksana (Tit. 2:11-14). Meminjam frasa dari C. S. Lewis, dia berbicara tentang hidup-baru seperti halnya ”seekor burung beo yang dapat berbicara bahasa Yunani.” Dia mengulangi apa yang didengarnya tanpa mengetahui kenyataannya, seperti halnya burung beo yang mendengarkan perkataan seorang akademisi sehingga dapat mengulangi kata-kata seperti charis dan sōtēria.

Si Kristen mengamati apa yang memang sebenarnya dari kebanyakan orang pada masa sekarang ini, seperti halnya Si Cerewet: ”Dia berbicara tentang doa, pertobatan, iman, kelahiran baru. Dia tahu semuanya itu, tetapi hanya untuk sekadar membicarakannya.” Sungguh keadaan yang menakutkan.

Pertanyaan untuk Menguji-Diri

Apakah Anda seperti Si Cerewet ini? Saya dulu juga seperti dia. Allah kemudian membangunkan saya dari delusi tersebut. Saya berdoa supaya Allah akan membangunkan orang lain juga seperti halnya saya dulu. Si Cerewet, pada akhirnya, tidak berani pergi dari Kota Kehancuran. Dia melabeli Si Kristen dan Si Setia sebagai suka orang yang suka menghakimi dan berpisah dari mereka. Kata-katanya melampaui iman dan ketaatannya. Pada akhirnya, dia tersesat. Dia tidak pernah menguji dirinya sendiri untuk memastikan kalau dia sedang berada dalam iman dan benar-benar telah dilahirkan kembali.

Kadang-kadang, kita semua bertanya dengan polos, ”Apakah saya sudah dilahirkan kembali?” Si Kristen menasihati Si Setia tentang Si Cerewet, ”Tanyakan padanya dengan polos (ketika dia sudah setuju, maka dia akan menjawab) apakah hal ini ditetapkan dalam hatinya, rumahnya, atau percakapannya?” Beberapa pertanyaan dalam diskusinya Si Setia dan Si Cerewet masih berguna untuk ditanyakan pada masa sekarang ini.

Apakah Anda membenci dosa Anda? Bukan sekedar membicarakan kebencian seperti halnya seorang pendeta munafik yang mencela dosa rahasia yang dimanjakannya. Kovenan baru menjanjikan orang-orang Kristen memiliki hati yang baru yang akan membenci dosa mereka dan menganggap dosa sebagai sesuatu yang memalukan: ”Kamu akan teringat-ingat kepada segala tingkah lakumu, dengan mana kamu menajiskan dirimu, dan kamu akan merasa mual melihat dirimu sendiri karena segala kejahatan-kejahatan yang kamu lakukan” (Yeh. 20:43). Berbahagialah orang yang berdukacita atas dosa mereka (Mat. 5:4). Allah tidak akan memandang hina hati yang patah karena dosanya (Maz. 51:19).

Apakah Anda mengasihi Allah? Paulus dengan jelas sekali menyatakan, ”Siapa yang tidak mengasihi Tuhan, terkutuklah ia” (1 Kor. 16:22). Apakah Anda mengasihi-Nya? Apakah Anda ingin mengenal-Nya? Apakah Anda mengasihi-Nya melampaui ayah, ibu, pasangan, dan anaknya Anda? Dapatkah Anda mengakui bahwa kasih setia-Nya lebih baik daripada hidup itu sendiri? Apakah Anda membenci sisa dosa Anda karena bertentangan dengan-Nya; Sang Hartanya Anda?

Apakah Anda menaati apa yang Anda ketahui? Yesus berkata, ”Jikalau kamu tahu semua ini, maka berbahagialah kamu, jika kamu melakukannya” (Yoh. 13:17). ”Hamba yang tahu akan kehendak tuannya, tetapi yang tidak mengadakan persiapan atau tidak melakukan apa yang dikehendaki tuannya, ia akan menerima banyak pukulan” (Luk. 12:47). Kita dapat membayangkan bahwa kita telah lebih maju dalam perihal agama atau kasih Kristus karena kita sudah mengetahui lebih banyak ayat tentang hal ini. Namun, ayat-ayat ini harus dipercaya, ditaati, dan dikasihi. Ayat-ayat tersebut harus berakar dalam diri kita. Jika kita benar-benar mengenal dan mengasihi Dia, kita akan menuruti berbagai perintah-Nya (Yoh. 14:15; 1 Yoh. 2:3).

Apakah yang dilihat orang lain? Bunyan menulis, ”Sebuah karya kasih karunia dalam jiwa menampakkan dirinya pada dia yang menerimanya dan bagi mereka yang berdiri di sisinya.” Penilaian orang Kristen lainnya memang tidak sempurna, tetapi mereka dapat membantu kita dalam mengungkapkan berbagai titik butanya kita (dan berbagai tanda kasih karunia) yang tidak terlihat dalam diri kita sendiri.

Sebagaimana orang-orang seperti Si Setia dan Si Kristen pada masa sekarang ini tetap berada di jalan yang sempit dengan Al-Kitab di tangan mereka dan kasih di hati mereka, mereka akan berbuat baik di dunia ini. Mereka mau melakukannya karena Allah sedang mengerjakan di dalam mereka kemauan dan pekerjaan menurut kerelaan-Nya, menghasilkan buah Roh di dalam mereka. Mereka harus berbuat baik, sesungguhnya, karena mereka memiliki Kitab berisi berbagai janji yang memerintahkan, memperingatkan, dan memikat mereka untuk terus bergerak maju menuju Kota Surgawi.Tidak seorang pun yang di surga berada di sana berdasarkan perbuatan baiknya. Namun, tidak seorang pun di surga yang tidak melakukan berbagai perbuatan baik selama di bumi. Jadi, kita terus bergerak maju dalam kekudusan menuju rumah surgawi kita karena Yesus telah menjadikan kita sebagai milik-Nya.

***

Artikel ini diterjemahkan dari desiringgod.org dengan judul "No Holiness, No Heaven
How to Know If Faith Is Real or Dead."

You may also like...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *