Sukacita-Nya Allah dalam Pekerjaan-yang-Biasa

31 Desember 2022
Artikel oleh Marshall Segal
Staf penulis, desiringGod.org


Saya bertanya-tanya berapa banyak orang pada zamannya Paulus yang mengenalnya sebagai orang yang membuat-dan-memperbaiki kemah. Tentunya banyak. Ketika dia pergi ke Korintus, Paulus pergi menemui Akwila dan Priskila, ”dan karena mereka melakukan pekerjaan yang sama, ia tinggal bersama-sama dengan mereka. Mereka bekerja bersama-sama, karena mereka sama-sama tukang kemah” (Kis. 18:3). Paulus melakukan pekerjaan ini untuk sementara waktu. Dia telah sangat familiar dengan bulu kambing. Dia bahkan mungkin bisa mengikat simpul favoritnya tanpa perlu melihat. Paulus tahu semua cara lubang dibuat dan bagaimana memperbaikinya. Saya membayangkan, seperti halnya dengan sebagian besar jenis perdagangan, bahwa ada harinya ketika Paulus berharap kalau ia bisa memilih menjual yang lain. 

Saya bertanya-tanya berapa banyak orang yang mengenal Rasul Petrus sebagai orang yang menangkap ikan. Tentunya banyak. Bahkan setelah Yesus mati, bangkit, dan menampakkan diri pada murid-murid-Nya, ke mana Petrus pergi untuk menemukan temannya? Di mana Petrus telah menghabiskan begitu banyak hari yang panjang dan malam yang lebih panjang ketika Yesus pertama kali menemukannya bertahun-tahun sebelumnya? – memancing (Yoh. 21:3). Dia tahu seperti apa bau setiap jenis ikan (bau di pakaiannya bisa mengingatkannya jika dia lupa). Dia telah melalui berbagai badai yang dahsyat. Dia tahu tempat terbaik untuk menjatuhkan jangkar dan waktu terbaik untuk melemparkan jala – dan dia tahu bagaimana rasanya mengangkat jala yang kosong (seperti pada hari ketika Yesus yang sudah bangkit tiba-tiba muncul). 

Saya bertanya-tanya berapa banyak orang yang mengenal Yesus sebagai orang yang membuat meja dan kursi. Kita tahu kalau beberapa orang mengenali-Nya. Ketika Yesus kembali ke kampung halamannya untuk berkhotbah, mantan tetangganya bertanya, ”Dari mana diperoleh-Nya semuanya itu? Hikmat apa pulakah yang diberikan kepada-Nya? Dan mujizat-mujizat yang demikian bagaimanakah dapat diadakan oleh tangan-Nya? Bukankah Ia ini tukang kayu….?” (Mar. 6:2-3). Mereka terkejut dengan kata-kata-Nya Yesus karena mereka telah terbiasa melihat-Nya dengan gergaji, palu dan paku. Yesus tidak hanya datang dalam rupa daging dan darah, tetapi juga dalam keringat dan kerja keras. Ia adalah seorang pria yang berurusan dengan berbagai serpihan dan terbiasa dengan berbagai kegagalan. 

Mereka masing-masing mengubah sejarah dengan pelayanannya. Mereka masing-masing juga menghabiskan sebagian besar hidup mereka melakukan pekerjaan-yang-biasa; yang bahkan membosankan (mungkin bahkan lebih terlihat biasa ketimbang pekerjaan yang berada di hadapannya Anda). Masing-masing dari mereka tahu ketika suatu pekerjaan (seperti pekerjaan mereka) jika dilakukan dengan baik maka akan menjadi sama sekali tidak biasa. 

Manusia Pun Keluarlah Ke Pekerjaannya

Kita pun akan melakukan pekerjaan kita secara berbeda tahun depan jika kita dapat melihat pekerjaan-yang-biasa tersebut melalui mata Allah yang lebih luas. Jadi, di bagian mana di Alkitab kita bisa melihat apa yang Allah lihat dalam pekerjaan kita? Saya suka pandangan sekilas yang bisa didapatkan di Mazmur 104 yang liar-dan-menakjubkan. 

Mazmur, seperti kebanyakan mazmur, dimaksudkan untuk membangkitkan kekaguman-dan-sukacita dalam jiwa kita. Mazmur tersebut dibuka dengan seruan: ”Pujilah TUHAN, hai jiwaku!”. Namun, mazmur ini kemudian mengambil jalan yang jarang dilalui untuk sebuah penyembahan. Ketika si pemazmur melihat ada jurang antara apa yang dipercayainya tentang Allah dan bagaimana perasaannya tentang Allah, dia membiarkan pikirannya mengembara di atas bukit dan melalui lembah (ay. 8). Dia berjalan di sepanjang mata air dan mengarungi lautan (ay. 10, 25). Dia mengamati pelanduk dan mendengarkan burung (ay. 12, 18). Karya penciptaan adalah nyanyian pujian pilihannya dengan semua melodi yang familiar dan perubahan kunci yang mengejutkan. 

Namun, kita sedang membahas mengenai pekerjaan yang biasa — dan si pemazmur juga akan sampai pada bagian itu. Perhatikan bagaimana manusia digambarkannya: ”Kenyang pohon-pohon TUHAN,” ayat 16. ”Gunung-gunung tinggi adalah bagi kambing-kambing hutan,” ayat 18. ”Engkau yang telah membuat bulan menjadi penentu waktu,” ayat 19, ”matahari yang tahu akan saat terbenamnya.” Ayat 21–23

”Singa-singa muda mengaum-aum akan mangsanya, 
dan menuntut makanannya dari Allah. 
Apabila matahari terbit, berkumpullah semuanya dan 
berbaring di tempat perteduhannya; 
manusia pun keluarlah ke pekerjaannya, dan ke 
usahanya sampai petang.” 

Manusia keluar bekerja dan menghabiskan satu hari penuh. Rasanya sedikit antiklimaks bukan? Pohon-pohon naik ke langit; gunung-gunung berguncang dengan satwa liar; singa mengaum kelaparan untuk didengar semua orang; bulan mengantar musim gugur, dingin, dan semi; matahari memilih kapan langit berubah dari biru menjadi merah, menjadi ungu, menjadi gelap… dan Paulus berjalan melintasi kota untuk memperbaiki tenda lain yang robek. Petrus memuat perahunya untuk hari lain di laut. 

Pemazmur melihat sesuatu dalam pekerjaan manusia (bahkan pekerjaan yang paling membosankan dan melelahkan) yang sering gagal kita lihat-dan-alami dalam pekerjaan kita. 

Berbagai Macam dari Pekerjaan Allah

Perhatikan, manusia dalam ayat 23 tersebut tidak menuju ke kantornya yang terletak di corner gedung dengan meja yang bagus dan jendela yang besar. Dia tidak menulis kode untuk beberapa teknologi yang revolusioner. Dia tidak mengawasi gudang di berbagai benua. Dia berada di ladang, melakukan pekerjaan fisik — tidak ada telepon, email, maupun peralatan yang canggih. Ia hanyalah seorang pria yang tangannya melawan berbagai duri dan onak. Pekerjaannya yang biasa tersebut akan membuat sebagian besar dari kita pada hari ini (bahkan pekerjaan yang paling melibatkan fisik) terlihat sangat luar biasa. 

”Manusia pun keluarlah ke pekerjaannya, dan ke usahanya sampai petang.” Ayat berikutnya, dengarkanlah ini: ”Betapa banyak perbuatan-Mu, ya TUHAN!” — pohon, gunung, dan singa dan, pekerjaan yang dapat dilakukan manusia — ”sekaliannya Kaujadikan dengan kebijaksanaan, bumi penuh dengan ciptaan-Mu.” Pekerjaan manusia yang biasa adalah salah satu perbuatan-Nya Allah yang bermacam-macam tersebut. Pekerjaannya Anda adalah salah satu perbuatan-Nya Allah yang bermacam-macam tersebut. Tidak ada makhluk lain di planet ini yang dapat melakukan apa yang Anda lakukan. Apa yang dapat Anda lakukan dalam satu, dua, atau delapan jam (dengan pikiran, tangan, dan talentanya Anda) menyatakan sebanyak atau lebih tentang Allah seperti halnya matahari terbenam; atau ngarai; atau badai petir. Apakah Anda percaya mengenai hal itu? Apakah Anda bekerja seperti itu? 

Hanya Allah yang bisa membayangkan makhluk yang mampu melakukan pekerjaan yang harus Anda lakukan. Setiap manusia-pekerja yang Anda temui (baik para pekerja kerah putih atau kerah biru; yang dibayar atau tidak dibayar; siswa, karyawan, manajer, atau ibu rumah tangga) adalah kanvas hidup yang tercakup dalam kebijaksanaan-dan-kreativitas-Nya Allah – terlepas dari apakah mereka percaya pada-Nya atau tidak; apakah mereka melihat kemuliaan dalam pekerjaan mereka atau tidak. Bahwa mereka dapat melakukan apa yang mereka lakukan (apa pun yang mereka lakukan dan seberapa baik mereka melakukannya) mengingatkan kita tentang betapa lebih banyak lagi yang dapat dilakukan Allah.

Sukacita Allah Atas Pekerjaannya Anda 

Namun, kita belum melihat Mazmur 104 secara lebih mendalam. Bukan saja pekerjaan kita yang biasa tersebut adalah salah satu perbuatan-Nya Allah yang bermacam-macam, melainkan juga salah satu sukacita-Nya Allah yang memuaskan. Setelah melakukan perjalanan di atas gunung dengan kambing liar; dan melalui gua-gua dengan pelanduk; dan di laut dengan monster laut; dan ke ladang untuk hari kerja normal, si pemazmur bernyanyi, ”Biarlah kemuliaan TUHAN tetap untuk selama-lamanya, biarlah TUHAN bersukacita karena perbuatan-perbuatan-Nya! Dia yang memandang ke bumi sehingga bergentar, yang menyentuh gunung-gunung sehingga berasap”  (Mzm. 104:31-32). 

Bukan semoga kita bersukacita dalam perbuatan-Nya, melainkan semoga Dia bersukacita dalam berbagai karya-Nya. Allah tidak hanya menampilkan pertunjukan yang mungkin dinikmati oleh beberapa orang yang mencintai alam. Dia menyukai gunung-gunung tinggi dan lembah-lembah yang berkelok-kelok. Dia menyukai bulan purnama dan matahari terbenam yang cemerlang. Dia menyukai pelanduk, bangau, dan keledai liar — dan berbagai pekerjaan sehari-hari yang kita lakukan minggu lepas minggu. Dia bersukacita akan apa yang telah kita lakukan karena itu merupakan pandangan sekilas dari semua yang telah dikerjakan-Nya. 

Allah pemilik alam semesta benar-benar menikmati alam semesta yang diciptakan-Nya – alam semesta yang dapat kita tinggali dan kerjakan setiap hari, yang dirancang sebagai karunia bagi Anak-Nya (Ibr. 1:2). Dia bersukacita melihat apa yang dapat dilakukan manusia yang normal dalam satu hari — dan terlebih lagi ketika pekerjaan tersebut muncul dari hati yang tertuju pada-Nya. Bahkan ketika semua orang tampaknya benar-benar mengabaikan apa yang telah kita lakukan, Dia melihat dan tersenyum (karena Allah melihat pantulan yang redup, tetapi cemerlang akan karya-Nya sendiri). 

Jadi, ketika Anda bersiap-siap untuk satu tahun kerja lagi — yang mungkin sulit, yang mungkin tanpa balasan, yang mungkin terlihat ”biasa” — mintalah Allah untuk membantu Anda melihat pekerjaan tersebut melalui mata-Nya. Mintalah pada Dia untuk beberapa sukacita-Nya karena apa yang dikerjakan Anda.

***

Artikel ini diterjemahkan dari desiringgod.org dengan judul "The Pleasure of God in Ordinary Work."

You may also like...

Tinggalkan Balasan