Doa-Bapa-Kami untuk Dosa Sehari-hari
15 Januari 2023
Artikel oleh Marshall Segal
Staf Penulis, desiringGod.org
Jika Anda mengajarkan Doa Bapa Kami kepada seseorang untuk pertama kalinya — baik kepada seorang anak, tetangga, rekan kerja, atau teman — menurut Anda, baris mana yang paling perlu untuk dijelaskan?
Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga. Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat – Mat. 6:9-13
Ketika mengulang-ulang baris-baris yang sudah familiar bagi Anda tersebut, bagian mana yang terasa membutuhkan penjelasan lebih lanjut? Yang pertama mungkin adalah: Mengapa kita menyebut Allah pencipta alam semesta sebagai ”Bapa”? Atau mungkin yang kedua: Apa artinya ”menguduskan” sesuatu, apalagi nama? Bagaimana dengan kehendak Allah — apakah itu dan bagaimana kita mengenalinya di bumi? Atau baris terakhir yang membayangi: Kejahatan seperti apa yang mengepung dan mengancam kita?
Bagaimanapun kita berusaha menjawabnya, kita mempunyai jawaban-Nya Yesus terhadap berbagai pertanyaan tersebut. Dia memilih untuk menyatakan lebih banyak mengenai satu baris dari doa tersebut dan itu mungkin bukan poin yang dipikirkan kebanyakan dari antara kita.
Apakah Anda Berdoa untuk Dosanya Anda?
Ketika Yesus mengajar para murid-Nya untuk berdoa, Dia memulainya dengan Kerajaan Allah, kehendak Allah, dan kemuliaan Allah — Anda hampir dapat mendengar jawabannya, Amin! Amin! Amin! Kemudian, tiba-tiba saat Dia memasuki palungan, dia turun ke seluk-beluk kehidupan duniawi kita: ”Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya…” Berikan kami semua yang dibutuhkan untuk hari ini. Siapa yang bisa menolak pemeliharaan seperti itu?
Baris berikutnya, bagaimana pun, mungkin terasa lebih menggelegar:
… dan ampunilah kami akan kesalahan kami Seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami;
Ketika Anda berdoa, Yesus berkata, ingatlah bagaimana Anda telah menyakiti hati Allah. Ingatlah bagaimana Anda telah mengecewakan-Nya lagi hari ini, betapa jauh Anda telah terjatuh dari Kerajaan-Nya, kehendak-Nya, kemuliaan-Nya – dan kemudian meminta pengampunan darinya.
Yesus mengajarkan apa pun yang Anda doakan, pastikan Anda berdoa untuk hal ini. Setiap hari ketika bangun, Anda perlu makan dan diampuni. Perutmu akan keroncongan dan jiwamu akan memberontak. Maka, berdoalah dan hiduplah sesuai dengan hal itu.
Rasa Lapar dari Hati
Kebanyakan orang Kristen berdoa setiap hari meminta untuk ”roti” (jika bukan supaya Allah menyediakannya, maka untuk berterimakasih pada-Nya setelah itu ada di atas meja). Namun, berapa banyak dari kita yang berdoa dengan tekun untuk dosa kita seperti halnya yang kita lakukan untuk makanan kita? Mengapa demikian?
Pertama, karena kita secara naluriah merasakan kebutuhan akan makanan. Kita merasa keroncongan. Kita mungkin bisa melewatkan makan sesekali, tetapi tidak bisa sering-sering dan terus menerus. Ketika tidak makan, tubuh kita akan membuat kita mendengarnya. Kita menerima semuanya itu begitu saja. Namun, ada keajaiban yang menghubungkan otak kita ke usus; memberi tahu kapan kita perlu makan. Kita tidak harus terus menerus mencatat apa yang kita makan untuk bertahan hidup karena tubuh memberi sinyal kalau sudah waktunya makan siang, ngemil, atau minum air putih. Kita cenderung tidak melupakan perihal makan karena rasa lapar pada akhirnya akan menguasai segalanya.
Namun, karena berbagai alasan, kita sering kali merasa lebih sulit mendengar gemuruh hati kita yang penuh dosa. Hati memiliki suaranya sendiri, tetapi secara fisik tidak membuat kita kewalahan seperti halnya kelaparan. Kepedihan hati mengungkapkan sebanyak yang bisa diungkapkan rasa lapar (atau bahkan lebih), tetapi kita belajar untuk hidup dengannya. Kegelisahan. Kecemasan. Amarah. Kelesuan. Ketidaksabaran. Menggerutu. Jika kita menyadari itu semua, kita belajar untuk memaafkannya alih-alih mengatasinya.
Gejala dari dosa yang tersisa adalah apa yang diajarkan dengan jelas oleh Yesus: Kita perlu diampuni – dan jauh lebih sering daripada yang ingin kita akui. Doa ”ampunilah kami akan kesalahan kami” adalah sebuah pengingat yang jujur, ramah; dan menjadi pengingat setiap hari dari kebutuhan kita yang terus-menerus tersebut.
Bukankah Pengampunan Sudah Selesai?
Kita juga mungkin tidak berdoa lebih sering untuk pengampunan karena berasumsi bahwa kita sudah diampuni. Jika hutang dosa kita sudah lunas, mengapa kita harus terus meminta Allah mengampuni kita? Ketika Yesus mati di kayu salib, Dia telah mengumumkan bahwa karya penebusan-Nya telah kelar: ”Sudah selesai” (Yoh. 19:30). Jadi, mengapa dia mengajari kita untuk berdoa seolah-olah pengampunan adalah kebutuhan yang berkelanjutan?
Pembenaran — penerimaan penuh dengan Allah, hanya melalui iman — bukanlah kebutuhan yang perlu diberikan setiap hari, seperti kebutuhan kita akan makanan sehari-hari. Jika Anda dibenarkan oleh kasih karunia melalui iman pada hari ini, Anda memang sudah tidak perlu dibenarkan kembali besok. ”Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman,” Roma 5:1, ”kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus.” Karena kita telah dibenarkan, kita berdamai dengan Allah – dan kedamaian itu tidak hilang oleh dosa hari ini atau besok. ”Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus” (Rom. 8:1). Penghukuman kekal bukanlah lalang yang Kembali muncul dalam semalam. Bagi mereka yang benar-benar berada di dalam Kristus, hal itu sudah mati dan pergi untuk selamanya.
Masihkah Yesus mengajari kita untuk berdoa (dan terus berdoa) ”ampunilah kami akan kesalahan kami.” Mengapa? Karena orang-berdosa-yang-sudah-dibenarkan masihlah orang berdosa. Dosa masih mengganggu persekutuan kita dengan Allah. Dosa tidak dapat menggagalkan orang yang sudah benar-benar dibenarkan — hutang dosa mereka telah dihapuskan; kutukan mereka telah dicabut; murka pada mereka telah ditiadakan. Hal itu bukan berarti dosa tidak menganggu atau merusak hubungan, termasuk dengan Allah. Dengan secara teratur meminta pengampunan, kita menarik karya Kristus yang sudah selesai ke dalam pencobaan dan kegagalan hari ini — dan kita memperbaharui dan memperindah persekutuan yang kita nikmati dengan-Nya karena pekerjaan yang sudah selesai itu.
Kita melihat dinamika ini ketika Yakobus menasihati kita, ”saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh” (Yak. 5:16). Para orang percaya ini telah dibenarkan, tetapi mereka masih berdosa dan masih merasakan akibat dosa yang mengerikan sehingga membuat mereka berdoa; mengaku dosa; dan meminta pengampunan. Ketika berdoa, mereka membuang malapetaka menyakitkan yang disebabkan oleh dosa. Dalam hal ini, mereka menjadi disembuhkan.
Bagaimana Sampai Tidak Dimaafkan
Kita masih belum mendengar Yesus menjelaskan baris ini dalam doa-Nya. Setelah selesai berdoa, Dia secara khusus kembali pada perihal permohonan pengampunan:
Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu. (Mat. 6:14–15)
Yesus tidak menggali lebih jauh mengenai kehendak Allah atau menjelaskan berbahayanya kejahatan. Tidak, Dia menekankan kepada mereka betapa mendesaknya agar mereka mengampuni secara rohani. Dia memperingatkan mereka bahwa doa-doa mereka – semua doa mereka untuk segala sesuatu yang lainnya – akan diabaikan jika mereka masih menyimpan kepahitan dan menahan pengampunan. Peringatan itu dimasukkan langsung ke dalam doa: ”Ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami.” Doa meminta supaya Allah mengampuni menganggap kita telah memaafkan diri kita sendiri – begitu juga dengan kita?
Setidaknya, setiap kali kita merasa perlu makan, kita merasa perlu diampuni. Hampir sesering kita merasa perlu diampuni, kita juga perlu mengampuni. Kita tidak akan diampuni jika tidak mengampuni. Jadi, siapa yang perlu Anda ampuni? Kita tidak dapat mendoakan sisa Doa Bapa Kami dengan cara yang berarti jika kita menolak untuk mengampuni seperti yang dilakukan-Nya.
Pengampunan Membuat Doa Menjadi Mungkin
Doa sederhana-Nya Yesus mengingatkan kita bahwa masalah dosa adalah masalah sehari-hari. Setiap hari, kita melakukan apa-yang-tidak-semestinya dan tidak melakukan apa-yang-seharusnya. Kita mengatakan apa-yang-tidak-seharusnya kita katakan dan tidak mengatakan apa-yang-seharusnya kita katakan. Kita memikirkan apa-yang-seharusnya tidak kita pikirkan dan tidak memikirkan apa-yang-seharusnya kita pikirkan. Doa Bapa Kami memperlihatkan sisa-sisa busuk dari pemberontakan kita terhadap Allah. Semuanya itu mengingatkan kita, sesering kita berdoa, bahwa Allah masih mengampuni – bahkan sampai hari ini (bahkan Anda) jika Anda mau merendahkan diri dan memintanya.
Yesus tidak berkata, ”Ingat dosamu dan berkubanglah dalam rasa malu dan bersalah.” Tidak, Dia mengajari mereka untuk membawa dosa mereka dan mengharapkan pengampunan sebagai balasannya. Mengapa mereka bisa dianggap telah diampuni? Karena Dia tahu bilur-bilur-Nya akan segera memungkinkan doa semacam ini dipanjatkan. Dia tidak hanya mengajari mereka cara berdoa. Dia akan mati untuk memberikan kehidupan dan kekuatan doa bagi mereka di hadapan takhta. Bahkan sebelum menerima berbagai paku, duri, dan kayu salib, Dia telah mengajari sahabat-sahabatnya bagaimana untuk memikul salib.
Jadi, ketika Anda berdoa, maka memohonlah dengan berani untuk pengampunan dalam nama Yesus. Sebelum Anda berdoa, maka ampunilah orang lain seperti halnya Allah yang dengan senang hati mengampuni Anda.
***
Artikel ini diterjemahkan dari desiringgod.org dengan judul "Forgive Me and Help Me Forgive: The Lord’s Prayer for Daily Sin."