Sepuluh Ribu Pencobaan Ringan

Bagaimana Allah Membentuk Kita untuk Kemuliaan

30 Juni 2018
Artikel oleh Scott Hubbard
Editor, desiringGod.org


Ketika pulang kerja dan masuk ke dapur yang lampunya belum dinyalakan, saya bisa merasakan bahwa saya tidak sendirian. Saya ragu-ragu sejenak; menenangkan diri. Saya kemudian menyalakan lampu. Di sanalah mereka menatap saya dari segala arah.

Piring kotor. Gelas-gelas kotor telah menunggu di tempat cuci piring, bahkan ada yang masih berisi susu. Piring-piring menumpuk di atas meja dapur dengan sisa-sisa selai kacang dan saus pizza. Sebuah mangkuk tergeletak dengan sedih di lantai, membawa bekas luka selama sebulan terkurung di bawah tempat tidurnya teman sekamar saya.

Sebelumnya, saya berharap bisa makan malam dengan cepat. Kemudian, saya bisa duduk membaca di malam hari dengan tenang. Namun, sekarang saya tidak bisa lagi melakukannya. Rencana saya terganggu. Saya menaruh tas dan mengambil sabun. Sambil menggosok piring, saya memimpikan kursi dan buku yang menunggu di kamar saya. Saya marah dengan kedelapan teman saya dalam diam. Saya menghela nafas, kesal, dan bergumam.

Namun, sambil melakukan semuanya itu, saya benar-benar gagal paham.

Berbagai Pencobaan 

Jika Yakobus saat itu berada di dapur waktu lampu dinyalakan, dia mungkin akan berpaling kepada saya dan berkata, ”Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu  itu menghasilkan ketekunan” (Yak. 1:2-3).

Banyak dari kita yang mengaitkan kata pencobaan dengan musibah; jenis pencobaan yang seperti mencengkeram bahu Anda dan kemudian mulai mengoyang-goyangkannya. Namun, perhatikan bagaimana Yakobus menggambarkan pencobaan ini. Pertama, ia menyebutnya sebagai ”berbagai-bagai pencobaan”. Kita menghadapi pencobaan yang berlangsung selama setahun dan yang berlangsung selama lima menit. Ada pencobaan yang membuat kita menangis dan ada yang membuat kita kebingungan. Ada pencobaan yang menjegal kaki kita sampai terjatuh dan yang hanya menginjak kaki kita. Kita menghadapi pencobaan berat dan pencobaan ringan — berbagai-bagai pencobaan.

Kedua, dalam pikiran Yakobus, pencobaan adalah ”ujian terhadap imanmu”. Diagnosis kanker menguji imannya Anda. Anak-yang-hilang menguji imannya Anda. Pasangan-yang-tidak-setia menguji imannya Anda. Lalu lintas pada jam sibuk menguji imannya Anda. Setiap jenis pencobaan yang kita alami bertanya, baik dengan cara berteriak atau berbisik, ”Apakah engkau memercayai Allah saat ini? Atau, apakah engkau akan menempuh  jalanmu sendiri?”

Kata pencobaan tidak hanya merujuk pada bencana atau malapetaka, tetapi juga merujuk pada masalah kecil sehari-hari yang menguji imannya kita.

Berlari Sampai Ke Garis Akhir

Perintah Yakobus bertentangan dengan asumsi umum kita tentang pencobaan yang lebih ringan. Kecuali kita berhenti dan bernalar secara alkitabiah dengan diri kita sendiri, kita mungkin akan bertindak seolah-olah pilek, kemacetan lalu lintas, dan kompor yang rusak hanyalah sekadar hal-hal yang membuat frustasi. Memang gangguan seperti itu bukan sesuatu yang bisa menjadikan kita serupa dengan Kristus kan ya?

Bayangkan Anda sedang berlatih untuk lari maraton. Anda mempekerjakan seorang pelatih pribadi yang mengetahui batas Anda dan tingkat ketahanan yang dibutuhkan dalam pertandingan tersebut. Si pelatih membangunkan Anda pada jam empat pagi untuk berlari. Dia memaksa Anda untuk berjongkok, melakukan peregangan dan sprint. Dia merampas setiap bolu dari tangannya Anda. Meskipun Anda tidak akan pernah menyukai rasa nyeri otot yang kelelahan, dalam setiap titik program latihannya Anda, Anda akan ingat: ”Pelatih saya tahu apa yang dilakukannya. Kesakitan ini akan menghasilkan ketahanan.”

Sekarang, kembali kepada Anda. Mungkin Anda tidak merasa sebagai seorang pelari, tetapi Anda memiliki perlombaan yang diwajibkan bagi Anda (Ibr. 12:1). Anda memiliki keinginan untuk menolak, godaan untuk melarikan diri, dan setan untuk dilawan. Anda memiliki orang untuk dikasihi, perkataan kasih untuk diucapkan, dan sebuah misi untuk diselesaikan. Jika Anda akan mengikuti pertandingan ini sampai akhir, Anda perlu ketahanan. Anda memerlukan jenis ketekunan yang membuat kakinya Anda akan terus berlari selama puluhan tahun. Bagaimana Allah membuat Anda memiliki ketekunan seperti itu? Dengan membawa Anda melewati selusin ketidaknyamanan setiap hari.

Allah akan membuat Anda bersabar dengan tekun ketika Anda menunggu di ruang dokter, walaupun sudah lewat tiga puluh menit dari janji temu. Allah akan membuat Anda mengasihi dengan tekun ketika seorang teman, yang memiliki kepribadian yang sulit, perlu berbicara dengan Anda tepat sebelum Anda akan tidur. Allah akan membuat Anda bersukacita dengan tekun ketika Anda sedang bersepeda dalam perjalanan pulang ke rumah lalu hujan mulai turun. Allah tidak akan berhenti sampai ”ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apa pun” (Yak.1:4).

Berbagai pencobaan ringan yang Anda temui hari ini bukanlah hanya sekadar sebuah kekecewaan atau gangguan. Itu adalah undangan dari Allah Bapa bagi Anda untuk menjadi semakin serupa dengan Yesus. Itu adalah latihan yang diperlukan oleh imanmu; diberikan dalam ukuran-dan-takaran yang tepat. Itu adalah cara Allah untuk membentuk Anda untuk kemuliaan.

Anggaplah Sebagai Sebuah Kutukan

Jadi, ketika kita menghadapi berbagai macam pencobaan hari ini, kita dapat menganggapnya sebagai salah satu dari dua pandangan ini. Kita bisa ”menganggapnya sebagai sebuah kebahagiaan” seperti yang dikatakan Yakobus. Atau, kita dapat menganggapnya sebagai sebuah kutukan.

Di satu sisi, kita bisa menganggapnya sebagai sebuah kutukan. Kita bisa dengan nyaman memupuk rasa kasihan kepada diri kita sendiri, atau diam-diam marah pada keadaan kita, atau membebani telinga para pendengar kita yang berikutnya dengan berbagai kisah kesedihan kita.

Pada awalnya, cara ini terasa memuaskan. Kemarahan kita mungkin akan mereda sejenak. Namun, cara ini juga akan mengubah kita. Setiap pencobaan ringan akan memahat kita; membentuk kita menjadi orang yang suka mengeluh dan tidak merasa puas. Kita akan menjadi lebih mudah menggerutu. Kesulitan-dan-kesakitan akan mulai menyinggung kita seolah-olah semuanya itu melanggar hak kita untuk hidup nyaman. Ketika pencobaan berat datang, maka pencobaan itu akan menghanyutkan kita seperti sepotong ranting di atas air.

Anggaplah Sebagai Suatu Kebahagiaan

Di sisi lain, kita bisa menganggap itu semua sebagai suatu kebahagiaan. Kita bisa menahan respon pertama kita terhadap hal-hal yang mengganggu kita dengan mengingat bahwa Allah bekerja dalam berbagai pencobaan ringan yang kita alami dan mengubah rasa frustasi kita menjadi doa. 

Pada awalnya, cara ini akan terasa menyakitkan. Kita mungkin perlu membungkam berbagai suara keras yang muncul di kepalanya kita. Namun, cara ini akan mengubah kita juga. Setiap pencobaan ringan akan memahat kita; membentuk kita menjadi serupa dengan Yesus. Kita bersikap baik ketika diinterupsi; tetap tenang ketika dituduh; tetap sabar ketika disalahmengerti. Kita akan menjadi lebih mudah menerima setiap keadaan dengan bersyukur. Kita akan menganggap berbagai kesulitan-dan-kesakitan sebagai teman dalam perjuangan kita mengejar kekudusan. Ketika pencobaan berat datang, pencobaan itu mungkin akan mengguncang kita, tetapi tidak akan menghancurkan kita.Kita akan berhasil menyelesaikan perlombaan ini. Kita akan bersukacita di sepanjang jalan dalam berbagai jenis pencobaan.

***

Artikel ini diterjemahkan dari desiringgod.org dengan judul 'Ten Thousand Small Trials.'

You may also like...

Tinggalkan Balasan