Membesarkan Anak Dalam Era Individualisme Ekspresif

18 Maret 2022
Artikel oleh Abigail Dodds
Seorang istri; ibu dari lima anak; dan lulusan dari Bethlehem College & Seminary.

Mungkin salah satu kebutuhan terbesar dari momen budaya kita adalah memikirkan bagaimana kita, sebagai ayah dan ibu, telah menyerah pada angin-budaya pada zaman kita dan bagaimana kita membiarkan anak-anak kita terpapar pada hembusan angin yang kencang-dan-mematikan tersebut. Apakah penerimaan kita terhadap norma-norma budaya tertentu akan mengejutkan orang Kristen pada zaman yang lain? Pilihan film kita? Kecenderungan narsistik kita? Keyakinan kita mengenai kemewahan? Kurangnya keyakinan kita terhadap kebenaran yang alkitabiah? Kurangnya ketaatan kita pada perintah Alkitab?

Setiap generasi memiliki kelemahan dan titik butanya. Namun, para ayah dan ibu Kristen pada saat ini menghadapi dunia individualisme yang ekspresif dalam berbagai bentuknya—mulai dari obsesi terhadap apa yang disebut gender sebagai batasan diri yang menentukan; hingga obsesi terhadap tes kepribadian untuk mendefinisikan inti-batinnya seseorang. Dunia ini dipenuhi dengan identitas diri dan kebutuhan untuk mengekspresikannya secara luas.

Inilah sebabnya mengapa orang tua harus terus-menerus mengevaluasi apakah tren ini telah terjadi—atau lebih tepatnya, sejauh mana tren ini telah terjadi—pada diri mereka sendiri. Hentikan semuanya itu dengan tegas. Tolak dengan tegas gagasan mengenai dirinya Anda sendiri dan perasaannya Anda terhadap segala sesuatu sebagai pusat alam semesta. Sangkal dengan tegas segala keinginan untuk mengekspresikan kehidupan pemikiran batin yang fasik untuk konsumsi publik. Jadilah dirimu sendiri, yaitu orang Kristen milik-Nya Allah yang dibeli dengan harga tertentu; yang batin dan lahiriahnya dimaksudkan untuk memuliakan Allah.

Kemudian, kita harus berpaling kepada anak-anak kita dan membimbing mereka ke arah yang seharusnya mereka tuju. Berikut adalah tiga prinsip untuk membantu anak-anaknya Anda terhindar dari individualisme ekspresif—sebuah ideologi yang menganggap inti-diri setiap orang adalah diri psikologis batiniah yang didasarkan pada perasaan dan keinginan batin yang harus dihidupi dan diungkapkan—dan segala penyakit yang diakibatkannya.

1. Bantulah mereka melihat bahwa siapa diri mereka dapat dilihat dan diberikan kepada mereka; bahwa itu bukanlah sesuatu yang misterius dan dipilih oleh mereka.

Individualisme ekspresif ingin menemukan “diri-sejati” jauh di dalam lipatan pusar di mana tempat bersemayamnya semua misteri yang besar berada. Namun, sebenarnya untuk mencari tahu “siapa Anda” sangatlah sederhana. Anak-anak harus diajar untuk mengamati tubuh pemberian-Nya Allah. Apakah itu tubuh laki-laki atau perempuan? Itu akan memberi tahu Anda sesuatu yang mendalam tentang siapa Anda; dan untuk apa Anda diciptakan. Itu akan memberi tahu Anda apakah Anda adalah seorang putri atau putra; saudari atau saudara; paman atau bibi; calon istri atau suami; calon ibu atau ayah. Menjadi laki-laki atau perempuan merupakan tugas langsung dari tangan-Nya Allah sendiri sehingga harus diterima dengan sukacita.

Lebih jauh, semoga anak-anakmu sudah berada di dalam Kristus. Artinya, mereka adalah hamba-Nya; saudara-saudaranya; sahabat-sahabatnya. Jadi, mereka adalah para putra dan putri-Nya Allah Bapa. Ini adalah jawaban terdalam yang kita miliki untuk pertanyaan paling penting mengenai identitas. Tanpa hal ini, anak-anak akan dibiarkan mencari makna yang tidak berarti dari identitas gender yang dibuat-buat; berbagai suku dalam dunia maya; dan jebakan media sosial yang narsistik yang membuat mereka menjadi penonton atas makna dan popularitas hidup mereka sendiri (atau ketiadaan hal tersebut).

Ada cara lain untuk membedakan “siapa diri Anda” secara lebih sementara. Apakah Anda masih dalam usia sekolah? Maka Anda adalah seorang pelajar. Apakah Anda punya pekerjaan? Maka Anda adalah seorang karyawan. Berbagai gelar ini mungkin datang dan pergi, namun gelar-gelar ini merupakan indikator penting mengenai siapa diri kita pada saat tertentu; dan apa yang seharusnya kita lakukan terhadap diri kita sendiri. Kita harus mengajari anak-anak kita bahwa siapa diri mereka bukanlah sebuah misteri; bahwa itu adalah anugerah yang terlihat; dan itu disertai dengan tugas dan kegembiraan tertentu yang sesuai dengan keadaan tersebut.

Sebagai orang tua, kita harus melindungi anak-anak kita dari orang-orang yang akan mendidik mereka sebaliknya. Kesejahteraan abadi anak-anak kita dipertaruhkan. Merupakan kewajiban kita untuk menjadikan kebenaran sebagai norma. Adalah kewajiban mereka untuk mendengarkan dan menaati kita. Namun, semua itu tidak akan terjadi jika para ayah dan ibu memilih untuk tidak ikut serta dengan membiarkan anak-anak mereka diindoktrinasi dengan cara-cara dunia.

2. Bantulah mereka melihat bahwa apa yang mereka lakukan mengungkapkan isi hati mereka sering kali lebih dari apa yang mereka rasakan.

Dalam perumpamaan mengenai dua anak laki-laki, Yesus bercerita tentang seorang Ayah yang menyuruh anak-anaknya bekerja di kebun anggur pada hari itu. Yang satu bilang dia akan pergi, tetapi tidak jadi. Yang satunya mengatakan dia tidak akan pergi, tetapi berubah pikiran dan kemudian pergi. Orang yang pergi ke kebun anggur itulah yang melakukan kehendak ayahnya. Demikian pula, tindakan kita merupakan indikator yang berarti mengenai apa yang benar-benar kita yakini. Keyakinan kita bukan berdasarkan realitas yang berdasarkan teori; hanya wacana saja; dan perasaan-yang-menentukan-makna.

Keyakinan kita dibuat asli dengan tangan, kaki, dan pikiran yang melayani Tuhan. Dalam masyarakat yang dilanda kecemasan pada saat ini, anak-anak perlu diingatkan bahwa tindakan yang didorong oleh keyakinan adalah cara kita melakukan kehendak Allah—dan bahwa kehendak-Nya Allah adalah tempat yang aman. Anak-anak kita perlu diajari bahwa karena Tuhan memperhatikan mereka, karena Dia secara berdaulat dan sepenuhnya peduli terhadap mereka, maka mereka bebas memfokuskan pikiran dan tindakan mereka pada berbagai hal yang lain—berbagai hal seperti Allah; keagungan-Nya; Firman-Nya; kebaikan keluarga dan teman-teman mereka; pelayanan gereja; penyebaran Injil; dan bantuan kepada mereka yang membutuhkan. Mereka bebas untuk taat.

3. Bantulah mereka untuk memercayai realitas eksternal—Roh-Nya Allah; Firman-Nya Allah; dan umat-Nya Allah— alih-alih menjalani semuanya sendirian dengan perasaan batin mereka.

Cara terbesar untuk membantu anak-anaknya Anda memercayai Allah adalah dengan Anda sendiri yang benar-benar memercayai-Nya—dengan sungguh-sungguh bersandar pada janji-janji-Nya hari-lepas-hari; mengetahui janji-janji-Nya; membaca janji-janji-Nya; menaruh seluruh pengharapannya Anda pada janji-janji itu, dan melakukannya secara rutin sebagai seorang keluarga dan bagian dari gereja lokal. Berbagai kebiasaan-anugerah ini, sebagaimana David Mathis menyebutnya, menghasilkan ingatan-yang-saleh yang akan berfungsi sebagai perlindungan pada masa mendatang.

Apa yang dilakukan keluarganya Anda dalam suatu krisis baik yang besar atau kecil? Berdoa dan mengingat berbagai janji-Nya Allah. Apa yang dilakukan keluarganya Anda setelah makan malam? Bacalah Alkitab dan mendoakan permintaan satu sama lain. Apa yang dilakukan keluarganya Anda pada Minggu pagi dan Rabu malam? Berkumpul bersama umat-Nya Allah untuk bernyanyi; belajar; bersekutu; berdoa; membaptis; berbagi dalam Perjamuan Tuhan; dan secara umum saling mengasihi. Tidak ada perlindungan yang lebih kuat bagi anak-anak kita selain [memainkan] ritme-ketergantungan pada Tuhan. Irama ini membantu mereka mengetahui ke mana harus mencari bantuan—lihatlah ke luar dirinya Anda! Pandanglah pada Kristus; Roh-Nya; perkataan Roh-Nya, dan umat-Nya.

Kita tidak bisa bergantung pada pemahaman batin kita tentang segala sesuatu sebagai sebuah panduan yang sempurna—hal tersebut memang membimbing, namun hal tersebut harus disesuaikan dengan Firman-Nya; dan ditundukkan pada Kristus. Jika Tuhan berkehendak, maka anak-anak kita akan memiliki waktu bertahun-tahun untuk berlatih dalam mendengarkan Roh; mengidentifikasi ajaran palsu; menyerahkan kehidupan-pemikiran mereka kepada Tuhan; dan menikmati kebebasan identitas yang diberikan oleh Allah Bapa; bukan yang muncul dari ego semata. Tidak ada pekerjaan yang lebih penting di alam semesta ini bagi para ibu dan ayah selain melatih anak-anak mereka di dalam Tuhan; berbicara dengan mereka ketika Anda berkendara; ketika Anda membuat kopi pada pagi hari; dan ketika Anda memulai rutinitas sebelum tidur. Anak-anak membutuhkan perhatian kita; dan diri kita yang sudah diperlengkapi sehingga bisa memberikan stabilitas dalam Kristus ketika mereka bertumbuh. Jadi, mereka juga dapat menemukan pijakan mereka dalam hari-hari yang penuh gejolak ini.


Artikel ini diterjemahkan dari “Raising Children in an Age of Expressive Individualism.”

You may also like...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *