Sepuluh Kebenaran Alkitab Mengenai Ketaatannya Anak-anak


1 Februari 2016
Artikel oleh .
Pendiri dan Pengajar, desiringGod.org

Dua tahun yang lalu, saya pasti terkejut dengan artikel ”Para Orangtua, Wajibkan Anak-anaknya Anda untuk Taat”. Artikel ini telah terbukti menjadi salah satu artikel kami yang paling banyak dibaca.

Karena itu, saya pikir akan bermanfaat jika saya membaca artikel tersebut dan memberikan dasar alkitabiah yang lebih mendalam-dan-luas dalam urusan membesarkan-dan-mendisiplinkan anak-anak. Dugaan saya, kebanyakan dari kita menjadi orangtua berdasarkan intuisi dan tradisi. Memang tidak semuanya itu buruk. Membesarkan anak memang adalah sebuah seni, bukan ilmu. Seniman tidak membaca buku petunjuk ketika mereka sedang melukis.

Namun, intuisi dan tradisinya manusia harus dibentuk oleh pewahyuan-Nya Allah. Jadi, anggaplah artikel ini sebagai pelajaran singkat tentang beberapa hal yang memberikan landasan-dan-bimbingan dalam mengasuh anak berdasarkan apa yang diwahyukan Allah dalam Alkitab  Kita akan mulai dengan berbagai hal yang paling mendasar.

1. Pernikahan antara seorang pria dan wanita untuk seumur hidup adalah rencana-Nya Allah untuk menghasilkan dan membesarkan anak-anak.

Perjanjian dari pernikahan seumur hidup antara seorang pria dan wanita adalah gagasan awal-Nya Allah bagi umat manusia. Hal ini dicontohkan dan berakar pada rencana kekal Allah untuk menebus mempelai perempuan bagi Putra-Nya – yaitu Gereja.

"Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging" (Kej. 2:24, TB).
“Sebab pada awal dunia, Allah menjadikan mereka laki-laki dan perempuan, sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia” (Mar. 10:6–9, TB).
“Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Rahasia ini besar, tetapi yang aku maksudkan ialah hubungan Kristus dan jemaat" (Efe. 5:31–32, TB).

2. Perjanjian untuk adanya penyatuan dalam pernikahan adalah cara-Nya Allah yang berencana untuk memenuhi bumi dengan umat manusia yang akan mencerminkan kemuliaan-Nya melalui iman dan produktivitas-kreatifnya mereka.

"Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: 'Beranak cuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi'” (Kej. 1:28, TB).

3. Anak-anak tidak boleh dikandung di luar perjanjian-pernikahan. Karena itu – dan untuk berbagai alasan lainnya – hubungan seksual dilarang bagi mereka yang belum menikah; dan perzinahan dilarang bagi mereka yang sudah menikah.

"Jauhkanlah dirimu dari percabulan!..." (1 Kor. 6:18, TB).

“…. jangan berzinah…” (Rom. 13:9, TB).

4. Anak-anak adalah anugerah dari Allah, bukan hasil buatan kita sendiri.

Ayub memberi tahu kita bahwa Allahlah yang memberi anak-anak padanya. Pemazmur mengatakan anak-anak kita adalah warisan dari Tuhan. Rut mengilustrasikan bahwa ketika seorang anak dikandung, maka pembuahan tersebut adalah karya-Nya Allah.

“... Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!” (Ayub 1:21, TB).
"Sesungguhnya, anak-anak lelaki adalah milik pusaka dari pada TUHAN, dan buah kandungan adalah suatu upah" (Maz. 127:3, TB).
"Lalu Boas mengambil Rut dan perempuan itu menjadi isterinya dan dihampirinyalah dia. Maka atas karunia TUHAN perempuan itu mengandung, lalu melahirkan seorang anak laki-laki" (Rut 4:13, TB).

Karena itu, para orangtua wajib memenuhi kebutuhan anak-anaknya.

Para orangtua harus memenuhi kebutuhan dasar anak-anaknya, mulai dari ketika mereka menyusui pertama kali hingga kelak mencapai kematangan mandiri. Paulus mengajari para ayah di Efesus untuk “memberi makan” atau “mengasuh” anak-anak mereka. Inilah arti dasar dari kata Yunani ektrepho dalam Surat Efesus 6:4 – “didiklah mereka”.

Paulus mencontohkan dirinya sebagai seorang ayah-yang-menyediakan melalui hubungannya dengan “anak-anak” rohaninya di gereja Korintus:

"... aku tidak akan merupakan suatu beban bagi kamu. Sebab bukan hartamu yang kucari, melainkan kamu sendiri. Karena bukan anak-anak yang harus mengumpulkan harta untuk orang tuanya, melainkan orang tualah untuk anak-anaknya" (2 Kor. 12:14, TB).

6. Para orangtua hendaknya mendidik anak-anaknya mengenai keterampilan dasar dalam kehidupan yang berbudaya; berbagai kebenaran tentang Allah dan jalan keselamatan-Nya; serta jalan kebijaksanaan dalam dunia ini.

“Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan,   haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.  Haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu,  dan haruslah engkau menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu” (Ula. 6:6–9; lihat juga Maz. 78:5–7, TB).
"Dengarkanlah, hai anak-anak, didikan seorang ayah, dan perhatikanlah supaya engkau beroleh pengertian, karena aku memberikan ilmu yang baik kepadamu; janganlah meninggalkan petunjukku. Karena ketika aku masih tinggal di rumah ayahku sebagai anak, lemah dan sebagai anak tunggal bagi ibuku, aku diajari ayahku, katanya kepadaku: 'Biarlah hatimu memegang perkataanku; berpeganglah pada petunjuk-petunjukku, maka engkau akan hidup'” (Ams. 4:1–4, TB).

7. Para orangtua hendaknya mendisiplinkan anak yang tidak taat dengan hukuman yang proporsional dan penuh kasih sayang.

Allah mengajarkan hal ini pada kita melalui berbagai perintah langsung dalam Kitab Suci.

"Hajarlah anakmu selama ada harapan; tetapi jangan engkau menginginkan kematiannya" (Ams. 19:18, TB).
"Kebodohan melekat pada hati orang muda, tetapi tongkat didikan akan mengusir itu dari padanya" (Ams. 22:15, TB).
"Jangan menolak didikan dari anakmu ia tidak akan mati kalau engkau memukulnya dengan rotan. Engkau memukulnya dengan rotan, tetapi engkau menyelamatkan nyawanya dari dunia orang mati" (Ams. 23:13–14, TB).
"Tongkat dan teguran mendatangkan hikmat, tetapi anak yang dibiarkan mempermalukan ibunya" (Ams. 29:15, TB).
"... bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan" (Efe. 6:4, TB).

Allah juga mengajarkan kita untuk mendisiplinkan anak-anak kita melalui teladan ketika para ayah sendiri gagal dalam melakukannya. 

“Sebab telah Kuberitahukan kepadanya [Imam Eli], bahwa Aku akan menghukum keluarganya untuk selamanya karena dosa yang telah diketahuinya, yakni bahwa anak-anaknya telah menghujat Allah, tetapi ia tidak memarahi mereka!” (1 Sam. 3:13, TB).
"Lalu Adonia [anaknya Daud], anak Hagit, meninggikan diri dengan berkata, 'Aku ini mau menjadi raja.' Ia melengkapi dirinya dengan kereta-kereta dan orang-orang berkuda serta lima puluh orang yang berlari di depannya. Selama hidup Adonia ayahnya belum pernah menegor dia dengan ucapan: 'Mengapa engkau berbuat begitu?'..." (1 Raj. 1:5–6, TB).

Yang ketiga, Allah mengajarkan kita untuk mendisiplinkan anak-anak kita dengan memberi kita teladan dalam mendisiplinkan anak-anak-Nya [Allah] sendiri. Hal ini khususnya relevan bagi para orangtua Kristen karena Allah telah menutupi dosa anak-anak-Nya dengan darah Kristus. Namun, Allah memandang mereka tetap memerlukan disiplin dalam pembentukan iman-dan-karakternya mereka.

"Hai anakku, janganlah engkau menolak didikan TUHAN, dan janganlah engkau bosan akan peringatan-Nya" (Ams. 3:11–12, TB).
“Barangsiapa Kukasihi, ia Kutegor dan Kuhajar, sebab itu relakanlah hatimu dan bertobatlah!" (Why. 3:19, TB).

Untuk disiplin yang seperti itulah yang harus ditanggung Anda. “… Allah memperlakukan kamu seperti anak. Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya? Tetapi, jikalau kamu bebas dari ganjaran, yang harus diderita setiap orang, maka kamu bukanlah anak, tetapi anak-anak gampang [haram].  Selanjutnya: dari ayah kita yang sebenarnya kita beroleh ganjaran, dan mereka kita hormati;  kalau demikian bukankah kita harus lebih taat kepada Bapa segala roh, supaya kita boleh hidup? Sebab mereka mendidik kita dalam waktu yang pendek sesuai dengan apa yang mereka anggap baik, tetapi Dia menghajar kita untuk kebaikan kita, supaya kita beroleh bagian dalam kekudusan-Nya. Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya” (Ibr. 12:7–11, TB).

Tidak ada yang lebih mencintai anak-anaknya daripada Allah itu sendiri. Tidak ada seorang pun yang lebih perhatian dalam mendisiplinkan kita demi kebaikan kita. Setiap orangtua Kristen harus mempertimbangkan dengan serius bahwa ketika anak-anak berada di bawah pengasuhan kita, maka kita adalah wakil-Nya Allah untuk mempersiapkan mereka menghadapi disiplin-Nya Bapa Surgawi ketika mereka kelak sudah tidak lagi berada di bawah pengasuhan kita. Jika mereka kelak menganggap disiplin-Nya Allah mengejutkan, maka mungkin masih ada hal yang belum kita selesaikan.

8. Para orangtua hendaknya memberi semangat kepada anak-anaknya.

Kita menerima instruksi ini melalui perintah langsung di dalam Alkitab untuk memberikan semangat kepada anak-anak kita, bukannya untuk melemahkan semangat mereka. Perintah tersebut datang dalam bentuk peringatan yang negatif mungkin karena kita cenderung mengecilkan hati anak-anak kita dengan kritik; dan tidak kompeten dalam memberikan pujian yang autentik, spontan, dan tidak manipulatif.

"Hai bapa-bapa, janganlah sakiti hati anakmu, supaya jangan tawar hatinya" (Kol. 3:21, TB).
"... bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu..." (Efe. 6:4, TB).

Pada kita, Allah memberi teladan mengenai kebapakan-Nya dalam memberikan semangat pada anak-anak-Nya sendiri.

"Tidak dilakukan-Nya kepada kita setimpal dengan dosa kita, dan tidak dibalas-Nya kepada kita setimpal dengan kesalahan kita...  Seperti bapa sayang kepada anak-anaknya, demikian TUHAN sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia" (Maz. 103:10, 13, TB).
“Dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya, sehingga ia tidak menyayangi anak dari kandungannya?  Sekalipun dia melupakannya, Aku tidak akan melupakan engkau" (Yes. 49:15, TB).

Rasul Paulus juga memberikan dirinya sebagai teladan dalam melakukan berbagai hal yang membesarkan hati anak-anak.

"Seperti kamu ketahui, kami menasihati, menghibur, menyuruh kamu masing-masing, seperti seorang ayah kepada anak-anaknya sendiri, supaya kamu hidup sesuai dengan kehendak Allah, yang memanggilmu ke dalam kerajaan dan kemuliaan-Nya sendiri." (1 Tes. 2:11–12, AYT).

9. Tanggung jawab para orang tua untuk menuntut ketaatan ditegaskan oleh tugas yang diberikan Allah kepada anak-anak untuk ditaati.

Kita melihat hal ini dalam perintah langsung Alkitab kepada anak-anak.

“Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu” (Kel. 20:12 = Ula. 5:16; Mat. 15:4; Mar. 10:19, TB).
"Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena haruslah demikian. “Hormatilah ayahmu dan ibumu (inilah perintah pertama yang disertai dengan suatu janji)... supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi" (Efe. 6:1–3, TB).
"Hai anak-anak, taatilah orang tuamu dalam segala hal, karena itulah yang indah di dalam Tuhan" (Kol. 3:20, TB).

Kita melihat tugas kita sebagai orangtua dalam menuntut ketaatan dari anak-anak sama seperti halnya Kitab Suci mendakwa anak-anak yang tidak menaati orangtua mereka.

"Dan karena mereka tidak merasa perlu untuk mengakui Allah, maka Allah menyerahkan mereka kepada pikiran-pikiran yang terkutuk, sehingga mereka melakukan apa yang tidak pantas.... . Mereka adalah pengumpat, pemfitnah, pembenci Allah, kurang ajar, congkak, sombong,... tidak taat kepada orang tua," (Rom. 1:28–30, TB).
"Sebab, orang akan menjadi pencinta diri sendiri, pencinta uang, pembual, sombong, penghujat, tidak taat kepada orang tua, tidak tahu berterima kasih, tidak suci" (2 Tim. 3:2, AYT).

Para penatua dalam gereja diminta untuk memberi teladan bagi  para umat dalam kehidupan rumah tangganya dengan memiliki anak-anak yang patuh.

"Ia harus dapat mengurus rumah tangganya sendiri dengan baik dan menjaga anak-anaknya untuk taat dengan rasa hormat" (1 Tim. 3:4, AYT).

10. Kedua tugas dalam mengasuh anak – memberi semangat dan mendisiplinkan – berakar pada tujuan-Nya Allah agar iman alkitabiah yang sejati akan bertumbuh-mekar ketika orang-orang Kristen (dan anak-anak mereka) secara teratur diingatkan akan kebaikan dan kekerasan-Nya Allah.

“… kamu tegak tercacak karena iman. Janganlah kamu sombong, tetapi takutlah… Sebab itu perhatikanlah kemurahan Allah dan juga kekerasan-Nya…” (Rom. 11:20, 22, TB).

Rasa takut yang harus kita tumbuhkan dalam diri kita sendiri sebagai orang Kristen, dan dalam diri anak-anak kita, bukanlah rasa takut yang dimiliki seorang budak terhadap majikan mereka, namun rasa takut terhadap orang yang kita cintai dan yang kita mau senangkan hatinya – rasa takut yang timbul ketika kita merasa terhanyut jauh darinya; yang membuat kita segera ingin kembali padanya. “Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN…” (Ams. 9:10, TB). Ini adalah apa yang kita rasakan terhadap Bapa kita di surga (1 Pet. 1:17; Maz. 103:13), dan apa yang kita harapkan anak-anak kita pelajari dari kebaikan-dan-disiplin kebapakan kita. “Hai anakku, takutilah TUHAN…” (Ams. 24:21, TB).

Mengasuh dengan Setia Membutuhkan Pengorbanan

Mengasuh anak merupakan panggilan dari Allah yang sangat penting. Ini adalah salah satu peran paling berpengaruh di dunia. Tugas ini akan menggambarkan Allah pada anak-anak sebelum mereka mengetahui seperti apa Allah itu. Ini sangat membentuk mereka. Ini adalah cara yang dirancang Allah agar kebenaran-Nya yang menyelamatkan tersebut akan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Mengasuh anak memang tidak mudah, tetapi menuntut pengorbanan.

Mengasuh secara pasif itu mudah dan akan menghasilkan buah yang pahit. Mengasuh anak dengan setia menuntut pengorbanan dan penyangkalan diri. Mengasuh anak tidak terjamin kesuksesannya. Anak-anak yang dibesarkan dengan baik mungkin akan tetap memberontak. Hal ini juga terjadi pada Allah. “… Aku membesarkan anak-anak dan mengasuhnya, tetapi mereka memberontak terhadap Aku” (Yes. 1:2, TB). Ini adalah kesedihan yang luar biasa. Namun, hal ini bukanlah buah pahit dari pengabaian [seseorang] dalam mengasuh anak.

Curahkanlah doamu pada Allah dan berikanlah hatimu pada anak-anakmu. Berikanlah kekuatanmu pada mereka. Berikanlah kebenaran-Nya Allah pada mereka. Upahnya akan sangat besar. Anda tidak akan menyesalinya.

***

Artikel ini diterjemahkan dari desiringgod.org dengan judul "Ten Biblical Truths on the Obedience of Children."

You may also like...

Tinggalkan Balasan