Jangan Berhenti Mendoakan Anaknya Anda


29 Juli 2019
Artikel oleh Jon Bloom.
Staf penulis, desiringGod.org

Beberapa tahun yang lalu, saya menulis sebuah artikel yang menyarankan tujuh hal yang bisa didoakan oleh kita sebagai orangtua bagi anak-anak kita. Saya pribadi masih menganggap isi artikel tersebut bermanfaat. Namun, dalam memberikan saran ini, saya menyertakan sebuah wanti-wanti:

Tentu saja, doa bukanlah mantra ajaib. Berdoa bukan sekedar mengatakan hal-hal yang benar dan anak-anak kita kemudian akan diberkati dengan kesuksesan. Beberapa orangtua dengan sungguh-sungguh berdoa dan anak-anak mereka kemudian memang menjadi para pemimpin; cendekiawan; musisi; atau pun atlet yang berbakat. Ada pula yang berdoa dengan sungguh-sungguh dan anak-anak mereka malah mengalami kecacatan; sakit-penyakit yang serius; mengembara di padang gurun; atau malahan berjuang lebih keras daripada orang lain dalam bidang sosial, akademis, atau atletik. Kebenarannya: Allah menjawab semua doanya para orangtua ini, namun untuk tujuan yang sangat berbeda.

Semakin banyak waktu berlalu, semakin penting wanti-wanti ini bagi saya. Semakin banyak waktu yang saya habiskan untuk mempelajari Kitab Suci; semakin banyak saya membaca sejarah; dan semakin banyak saya mengamati seiring bertambahnya usia, maka semakin sedikit kepercayaan yang saya berikan pada persepsinya saya tentang bagaimana segala sesuatu muncul pada suatu titik tertentu.

Mempercayai Allah, Bukan Persepsinya Saya

Saya telah hidup cukup lama untuk menyaksikan sejumlah pergerakan naik dan turun dalam gerakan Injili. Saya telah melihat banyak pemimpin yang dibangkitkan dan terjatuh. Saya telah melihat orang-orang berusia dua puluhan yang bersemangat secara rohani, yang awalnya kuat dan kokoh, menjadi kecewa secara rohani pada usia tiga puluh atau empat puluh tahun dan kemudian menjadi goyah. Beberapa di antara mereka bahkan sampai meninggalkan imannya sama sekali. Saya telah melihat orang-orang muda yang tidak tertarik pada hal rohani, dan dalam beberapa kasus bahkan mereka yang tidak bermoral, menjadi orang dewasa yang matang-dan-berapi-api secara rohani.

Saya juga dekat dengan banyak orangtua yang telah membesarkan anak-anak mereka hingga dewasa. Saya telah melihat anak-anak dari para orangtua yang setia-dan-rajin berdoa yang malahan menolak iman orangtuanya mereka. Saya telah melihat anak-anak dari para orangtua yang tidak setia yang malahan menerima Kristus dan mengikuti-Nya meskipun mereka mengalami penderitaan yang mendalam. Hal ini tidak membuat saya skeptis terhadap kesetiaan dari para orangtua, namun membuat saya kurang terbiasa dengan berbagai rumus-sukses.

Mungkin lebih dari itu semua, saya juga mengamati diri saya sendiri yang telah melewati berbagai musim kehidupannya saya. Saya pernah mengalami masa-masa ketika saya penuh dengan iman dan antusiasme; juga masa-masa putus asa ketika saya masih menjadi orang yang “kurang percaya” (Mat. 6:30, TB). Saya telah mengalami masa-masa depresi yang gelap dan bahkan sampai mengalami krisis iman. Memasuki usia paruh baya, satu hal yang saya ketahui tentang diri saya adalah bahwa saya “penuh dengan kelemahan” (Ibr. 5:2, TB). Saya dapat memberikan kesaksian bahwa Allah selalu setia kepada saya terkait dengan firman-Nya meskipun saya yang sering kali tidak setia dalam memercayai-Nya.

Ya, saya telah belajar bahwa Allah dapat dipercaya, namun persepsinya saya yang sering kali tidak demikian. Saya telah belajar – atau lebih tepatnya, saya sedang belajar – untuk tidak terlalu berasumsi mengenai manusia, termasuk diri saya sendiri. Yesus memberikan teladan, karena ia ”tidak mempercayakan dirinya kepada [manusia]… karena Ia mengenal mereka semua” (Yoh. 2:24–25, TB).

Ini adalah pelajaran yang sangat berharga dalam hal mendoakan anak-anaknya saya.

Mengasuh Anak Mendorong Saya untuk Berdoa

Saya adalah ayah dari lima manusia yang luar biasa. Bagi saya, mereka luar biasa, bukan karena mereka adalah keajaiban yang dapat saya banggakan, melainkan karena mereka adalah manusia, yang “diciptakan secara dahsyat dan menakjubkan” oleh Allah sendiri melalui proses sejarah yang tidak dapat dipahami; dan warisan genetik dari berbagai generasi manusia yang dahsyat dan menakjubkan yang tak terhitung jumlahnya – ketika saya dan istri hanyalah sebagai kontributor yang terbaru (Maz. 139:14). Kadang-kadang, saya hanya berdiri diam dan mengamati mereka; mengagumi akan apa dan siapa mereka terlepas dari apa pun yang mereka lakukan.

Mereka adalah pribadi pada diri mereka sendiri: sangat berbeda satu sama lain dan dari orangtua mereka. Mereka mempunyai temperamen yang unik; kekuatan dan kelemahan yang unik; minat yang unik; dan kecenderungan yang unik.

Seperti kebanyakan para orangtua yang muda, saya dan istri memulai perjalanan mengasuh anak dengan asumsi yang hampir tidak disadari bahwa jika kita mengasuh anak dengan “benar”, maka anak-anak kita akan menerima semua yang kita terima tanpa harus bergumul; mengalami penderitaan; dan bertanya-tanya untuk menerima semuanya itu. Meskipun jika Anda menanyakan hal itu secara spesifik kepada saya pada saat itu, saya akan menyangkalnya. Secara teori, saya merasa lebih tahu. Sulit untuk menghindari optimisme mula-mula yang seperti itu.

Namun, mengasuh anak telah membuat saya menjadi sangat rendah hati. Kelemahan dan keterbatasannya saya, menurut saya, paling jelas terlihat dalam peran sebagai ayah. Dampak utama dari hal ini membuat saya kurang percaya diri dengan kemampuan dan usahanya saya sendiri. Karena merasa semakin putus asa, saya menjadi semakin lebih bergantung pada kuasa-Nya Allah untuk melakukan bagi anak-anaknya saya akan apa yang telah Dia lakukan bagi saya – sebuah karya kasih-karunia yang saya tahu orangtuanya saya sendiri akan mengatakan hal itu juga telah terjadi terlepas dari berbagai kelemahan dan keterbatasannya mereka.

Dua dari anak saya telah memasuki masa dewasa yang mandiri. Tiga di antaranya berada di usia remaja. Selama bertahun-tahun, saya telah menyaksikan berbagai macam pasang surut spiritual. Mereka tinggal di rumah yang sama dengan orangtua yang sama yang pada dasarnya juga menghidupi iman mereka dengan cara yang sama. Mereka telah berbakti di gereja yang sama. Namun, masing-masing dari mereka menjalani jalur spiritual yang unik dengan kecepatannya masing-masing.

Minta, Cari, Ketuk

Pada bagian inilah keimanannya orangtua diuji. Tentu saja kita ingin anak-anak benar-benar mengasihi Tuhan Yesus, Sang Mutiara sejati yang sangat berharga, dengan segenap hati, jiwa, pikiran, dan kekuatan; mereka serta mengasihi sesama seperti diri mereka sendiri (Mat. 13:45–46; Luk. 10:27). Kita sangat ingin mereka mengalami hal ini sedini mungkin.

Namun, kita tidak tahu cara terbaik bagi mereka masing-masing untuk mempelajari hal ini. Kita tidak mengetahui tujuan-Nya Allah atau jadwal waktu-Nya untuk menyatakan diri-Nya kepada anak-anak kita. Kita juga tidak diizinkan mengintip ke dalam misteri kedaulatan-Nya Allah dalam pemilihan yang berkaitan dengan anak-anak kita (Rom. 8:29-30).

Namun, dari semua yang saya amati dan alami dalam Kitab Suci; dan dalam kehidupan mengajarkan saya mengenai dua hal: [Pertama,] Allah itu dapat dipercaya. [Kedua,] Apa yang saya pikir telah saya lihat pada waktu tertentu ternyata tidaklah demikian. Artinya, apa yang tampak menggembirakan bagi saya pada saat ini bisa saja berubah pada masa depan. Apa yang tampak mengecewakan bagi saya pada saat ini bisa saja berubah pada masa depan. Karena itu, saya mendukung apa yang saya tulis dalam artikelnya saya itu lebih dari sebelumnya:

Jadi, doakanlah anak-anakmu. Yesus berjanji kepada kita bahwa ketika kita meminta, mencari, dan mengetuk, maka Bapa akan memberi kebaikan pada kita sebagai balasannya (Luk. 11:9-13) meskipun kebaikan itu tidak terlihat selama empat puluh tahun.

Ungkapan terakhir itu mengingatkan saya pada kisah Peter Hitchens tentang pertobatannya (Peter adalah saudaranya Christopher Hitchens). Dia menceritakan bagaimana, ketika berusia 15 tahun, dia melepaskan apa yang dia lihat sebagai belenggu dari keyakinan agama dan ia kemudian dengan berapi-api menganut ateisme; dan membakar Alkitabnya di depan umum untuk mengumumkan pembebasannya. Kemudian, datanglah kesadaran yang lambat dan tak terduga pada masa tuanya ketika ia menyadari apa yang ia anggap sebagai perbudakan adalah kebebasan sejati; apa yang ia anggap sebagai pembebasan, pada kenyataannya, adalah perbudakan; dan apa yang ia anggap sebagai kegelapan yang tidak berarti sebenarnya adalah cahaya. Saya ragu siapa pun yang mengenal Peter Hitchens di masa mudanya bisa melihat hal itu terjadi.

Jangan Putus Asa

Jadi, janganlah kita putus asa mendoakan anak-anak kita. Pelayanan sebagai perantara ini adalah panggilan seumur hidup. Kita tidak boleh berasumsi terlalu banyak jika menyangkut manusia. Jika anak-anak kita hidup dan melakukan hal-hal rohani dengan baik, maka mereka masih berada dalam bahaya. Jika mereka hidup dan tidak melakukan hal-hal rohani dengan baik, maka kisah mereka belum berakhir. Karena itu, marilah kita “selalu… berdoa dengan tidak jemu-jemu” (Luk. 18:1, TB).

Allah itu setia. Dia tidak akan pernah gagal menepati janji-Nya. Marilah kita setia menjawab panggilan-Nya kepada kita. Marilah kita setia kepada anak-anak kita dengan terus-menerus memohon kepada Allah   mewakili mereka. Dia tidak akan membiarkan usaha seperti itu, apa pun hasil yang Dia tetapkan dengan hikmat kebijaksanaan-Nya, menjadi sia-sia (1 Kor. 15:58).

***

Artikel ini diterjemahkan dari desiringgod.org dengan judul "Don’t Give Up Praying for Your Children."

You may also like...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *