29 Mei 2002
Artikel oleh John Piper
Pendiri dan Pengajar, desiringGod.org
Dengan menghilangkan risiko yang bersifat kekal, Kristus memanggil umat-Nya untuk terus menerus menanggung risiko di dunia ini.
Bagi para pengikut Yesus, risiko final telah hilang. ”Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus” (Rom. 8:1). ”Baik maut, maupun hidup, … tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita” (Rom. 8:38-39). ”Beberapa orang di antara kamu akan dibunuh… tetapi tidak sehelai pun dari rambut kepalamu akan hilang” (Luk. 21:16,18). ”Barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati” (Yoh. 11:25).
Ketika ancaman kematian telah menjadi pintu-menuju-surga, penghalang terakhir dari risiko di dunia ini telah dipatahkan. Ketika orang Kristen berkata dari lubuk hatinya, ”Hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan”, dia bebas untuk mengasihi, apa pun yang terjadi. Beberapa kelompok Islam radikal mungkin memikat para pembunuh yang bersedia mati syahid dengan mimpi yang sama, tetapi pengharapannya orang Kristen adalah kekuatan untuk mengasihi, bukan untuk membunuh. Pengharapannya orang Kristen melahirkan para pemberi kehidupan, bukan para pengambil kehidupan. Kristus yang disalibkan memanggil umat-Nya untuk hidup dan mati bagi musuh-musuh mereka, seperti yang dilakukan-Nya. Satu-satunya risiko yang diizinkan oleh Kristus adalah bahaya dari mengasihi. ”Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu; mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang mencaci kamu” (Luk. 6:27-28).
Dengan janji-janji yang mengejutkan mengenai sukacita yang abadi, Yesus memulai gerakan radikal yang dipenuhi dengan orang-orang yang bersedia menanggung risiko yang mengasihi. ”Kamu akan diserahkan juga oleh orang tuamu,… dan beberapa orang di antara kamu akan dibunuh” (Luk. 21:16). Hanya beberapa orang. Artinya, mungkin itu Anda; mungkin juga bukan. Itulah arti dari risiko. Menembak kepala Anda sendiri tidaklah berisiko. Hasilnya sudah pasti. Melayani Kristus di zona perang itu berisiko. Anda mungkin tertembak; mungkin juga tidak.
Kristus memanggil kita untuk mengambil risiko demi tujuan Kerajaan Allah. Hampir setiap pesan konsumerisme dari Amerika Serikat (AS) menyatakan pesan yang sebaliknya: Maksimalkan kenyamanan dan keamanan – saat ini juga, bukan kelak di surga. Kristus tidak ikut memberitakan pesan itu. Kepada setiap orang Kristen yang takut, ragu-ragu di hadapan bahaya memberitakan Injil, Yesus berkata, “Janganlah kamu takut terhadap mereka yang dapat membunuh tubuh” (Luk.12:4). Ya, dengan segala cara maksimalkan sukacitanya Anda! Bagaimana caranya? Karena kasih, kita siap menanggung risiko untuk dicerca, dianiaya, dan dibohongi “karena upahmu besar di sorga” (Mat. 5:11-12).
Ada warisan alkitabiah yang luar biasa tentang orang yang bersedia menanggung risiko yang mengasihi. Yoab, pada waktu menghadapi orang Aram di satu sisi dan orang Amon di sisi yang lain, berkata kepada Abisai saudaranya, ”Marilah kita menguatkan hati untuk bangsa kita… TUHAN kiranya melakukan yang baik di mata-Nya” (2 Sam. 10:12). Ester melanggar hukum kerajaan demi menyelamatkan bangsanya dan berkata, ”Kalau terpaksa aku mati, biarlah aku mati” (Est. 4:16). Sadrakh dan teman-temannya menolak untuk bersujud kepada berhalanya raja dan berkata, ”Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami… tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku” (Dan. 3:16-18). Ketika Roh Kudus memberitahu Paulus bahwa penjara dan sengsara menunggunya di setiap kota, dia berkata, ”Tetapi aku tidak menghiraukan nyawaku sedikitpun, asal saja aku dapat mencapai garis akhir” (Kis. 20:24).
”Setiap orang Kristen,” kata Stephen Neil mengenai jemaat mula-mula, ”tahu bahwa cepat atau lambat dia mungkin harus bersaksi tentang imannya dan mempertaruhkan nyawanya” (A History of Christian Missions, Penguin, 1964, hlm. 43). Ini merupakan hal yang normal. Menjadi orang Kristen berarti bersedia mempertaruhkan hidupnya Anda. Puluhan ribu orang melakukannya. Mengapa? Karena dengan melakukannya berarti mereka akan mendapatkan Kristus, bukan kehilangan nyawanya. ”Karena siapa yang ingin menyelamatkan nyawanya akan kehilangan nyawanya. Akan tetapi, siapa yang kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan mendapatkannya” (Mat. 16:25).
Di AS dan seluruh dunia, harga yang harus dibayar untuk menjadi orang Kristen-yang-sejati semakin meningkat. Segala sesuatu menjadi normal pada ”zaman yang jahat sekarang ini” (Gal. 1:4, AYT). Pernyataan dalam Surat 2 Timotius 3:12 menjadi semakin masuk akal: ”Memang setiap orang yang mau hidup beribadah di dalam Kristus Yesus akan menderita aniaya.” Mereka yang secara sukarela telah menjadikan risiko dalam memberitakan Injil sebagai gaya hidup akan menjadi orang yang paling siap ketika kita tidak lagi memiliki pilihan. Oleh karena itu, saya mendorong Anda dengan seruan dari jemaat mula-mula ini, “Marilah kita pergi kepada-Nya di luar perkemahan dan menanggung kehinaan-Nya. Sebab di sini kita tidak mempunyai tempat tinggal yang tetap; kita mencari kota yang akan datang” (Ibr. 13:13-14).
Ketika Tuhan meniadakan semua risiko yang dibahas di atas, Dia melepaskan ribuan risiko dalam mengasihi.
***
Artikel ini diterjemahkan dari desiringgod.org dengan judul A Call for Christian Risk.