Orang-orang Yahudi di bagian utara, seperti di daerah Galilea, selalu merayakan Paskah Yahudi pada malam sebelumnya, seperti halnya orang Tionghua makan-makan pada malam sebelum Imlek. Sementara itu, orang-orang Yudea, Saduki, dan orang-orang Yahudi di bagian selatan selalu merayakannya pada malam Paskah.
Malam sebelum Paskah orang Yahudi, Yesus menggunakan kesempatan ini untuk menghabiskan quality time bersama inner circle-nya selama tiga setengah tahun terakhir, yaitu para rasul: orang-orang Galilea; orang-orang “kecil”. Inilah perjamuan terakhir-Nya bersama mereka. (Hanya Yudas Iskariot yang bukan orang Galilea).
Injil Yohanes pasal 13-17 mencatat perkataan-perkataan Yesus di malam yang sangat emosional itu. Yesus sedang bersiap-siap menghadapi momen paling menakutkan dalam hidup-Nya, yaitu harus mati di atas kayu salib sebagai kurban penebus dosa (Ibr. 9:14; 10:4-22; 1 Yoh. 3:5). Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian dalam darah-Nya melalui iman (Rom. 3:25). Namun, di sisi lain, Ia masih harus menghibur, menguatkan, dan mempersiapkan hati sahabat-sahabat-Nya menghadapi itu semua.
Injil Yohanes pasal 17 seringkali disebut para ahli Alkitab sebagai ”bagian Alkitab yang tersuci di antara yang tersuci” (the Holy of Holies of Scripture). Melalui bagian ini, kita diijinkan ”menguping” isi komunikasi yang intim antara dua Pribadi Allah Tritunggal, yaitu antara Allah Bapa dan Allah Putra. Bagaimana komunikasi dan interaksi antara Pribadi Allah Tritunggal? Bagaimana Pribadi Allah Tritunggal saling mengasihi dan memuliakan? Injil Yohanes pasal 17 memberikan gambaran mengenai ini.
Beberapa jam setelah memanjatkan doa di pasal 17 ini, ketika berdoa di taman Getsemani, Yesus dikisahkan merasa sangat ketakutan dan peluh-Nya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah. Malaikat dari langit sampai menampakkan diri kepada-Nya untuk memberi kekuatan kepada-Nya (Luk. 22:43-44).
Dalam suasana kebatinan seperti ini, Yesus masih harus menghibur dan menguatkan hati para rasul. Sebelum perjamuan terakhir dimulai, Yesus mengungkapkan isi hatinya kepada mereka: ”Aku sangat rindu makan Paskah ini bersama-sama dengan kamu sebelum Aku menderita. Sebab Aku berkata kepadamu: Aku tidak akan memakannya lagi sampai ia beroleh kegenapannya dalam Kerajaan Allah” (Luk. 22:15-16).
Saat itu, para rasul kemungkinan besar sedang gelisah (be troubled) (Yoh. 14:1). Rasa takut bercampur bingung bercampur khawatir. Mereka tahu kalau sesaat lagi mereka tidak akan melihat Yesus lagi (Yoh. 14:19). Mereka mungkin merasa akan ditinggalkan sebagai yatim piatu (Yoh. 14:18). Namun, Yesus menjanjikan mereka seorang Penolong (Helper) (Yoh 14:16), yaitu Roh Kudus (Yoh. 14:26).
Yesus memberitahukan mereka segala sesuatu yang telah didengar-Nya dari Bapa, karena mereka adalah sahabat-Nya (Yoh. 15:15), termasuk mengingatkan mereka akan segala penganiayaan dan derita yang akan mereka terima setelah kepergian-Nya kelak (Yoh. 15:18 – 16:3).
Yesus meyakinkan mereka kalau lebih berguna bagi para rasul kalau Ia pergi. Sebab jika Ia tidak pergi, Penghibur itu tidak akan datang (Yoh. 16:7).
Yesus juga meyakinkan mereka kalau mereka memang akan diliputi dukacita, tetapi mereka akan segera bergembira dan tidak ada seorang pun yang dapat merampas kegembiraan itu dari pada mereka (Yoh. 16:22).
Yesus kembali mengingatkan para rasul kalau mereka akan menderita penganiayaan, tetapi mereka harus menguatkan hati karena Yesus telah mengalahkan dunia (Yoh. 16:33). Dalam suasana kebatinan seperti itu, di hadapan sebelas rasul ini, Yesus menengadah ke langit dan mulai berdoa kepada Allah Bapa.
Jalan salib penuh derita dan aniaya itu, dalam hitungan jam, akan segera dimulai.