Sukacita Surga
29 Januari
oleh Yonghan
Mat. 2:4 (TB)
“Maka dikumpulkannya semua imam kepala dan ahli Taurat bangsa Yahudi, lalu dimintanya keterangan dari mereka, di mana Mesias akan dilahirkan.”
Karakter ketiga yang sepertinya ingin ditonjolkan Matius adalah para imam kepala dan ahli Taurat bangsa Yahudi. Para imam kepala dan ahli Taurat ini memahami dengan baik nubuat mengenai Sang Mesias. Mereka tahu di mana Sang Mesias akan dilahirkan. Mereka tahu nabi mana yang menubuatkan soal ini. Namun, mereka sama sekali tidak tergerak untuk ikut serta pergi menyembah Sang Mesias.
Mata rohani mereka begitu butanya sampai tidak bisa melihat Sang Mesias yang mereka nanti-nantikan sudah datang. Mereka tahu, tetapi tidak melakukan. Kekerasan hati mereka tergambar dengan jelas melalui bagian ini.
Berbekal keterangan dari para imam kepala dan ahli Taurat, berangkatlah orang-orang majus ini ke Betlehem. Bintang yang mereka lihat di Timur mendahului mereka hingga tiba dan berhenti di atas tempat di mana bayi Yesus berada.
Perintah Herodes untuk ”membunuh semua anak di Betlehem dan sekitarnya, yaitu anak-anak yang berumur dua tahun ke bawah, sesuai dengan waktu yang dapat diketahuinya dari orang-orang majus itu” (Mat. 2:16) mengindikasikan umur Yesus belum melebihi dua tahun ketika dikunjungi orang-orang majus, tetapi sudah melebihi empat puluh hari (Luk. 2:22).
Menurut hukum Taurat, waktu pentahiran bagi seorang ibu yang melahirkan adalah empat puluh hari sebelum ia bisa mempersembahkan korban di Bait Allah (Ima. 12:2-8). Melalui narasi di Luk. 2:21-38, kita memahami kalau sampai Yesus berumur empat puluh hari, mereka belum mengungsi ke Mesir. Mereka baru mengungsi ke Mesir pada malam setelah orang-orang majus itu pulang ke tempat asalnya (Mat. 2:13-15).
Dari narasi Luk. 2:38 ke Luk. 2:39, walau cuma terpisah satu ayat, sebenarnya ada jeda waktu yang cukup panjang yang tidak dikisahkan Lukas, tetapi termuat di Mat. 2:1-23. Jadi, kedatangan orang-orang majus ini diperkirakan terjadi ketika Yesus berumur antara empat puluh hari sampai dengan dua tahun.
Ketika menemukan Yesus, orang-orang majus ini membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan emas, kemenyan, dan mur kepada-Nya. Dari apa yang mereka persembahkan, orang-orang majus ini telah menyembah Yesus sebagai Sang Raja dengan hati seorang hamba.
Sejak zaman kuno hingga kini, emas adalah sesuatu yang dianggap sangat berharga. Seorang raja identik dengan emas (1 Raj. 10:14). Karena itu, persembahan emas dipahami sebagai simbol kalau orang-orang majus datang menyembah Yesus sebagai Sang Raja.
Pada zaman kuno, kemenyan identik dengan sesuatu yang dipersembahkan bagi Ilahi (Ima. pasal 2). Kemenyan merupakan bahan utama untuk membuat ukupan (Kel. 30:34; Yeh 16:18). Karena itu, persembahan kemenyan dipahami sebagai simbol kalau orang-orang majus datang menyembah Yesus sebagai Allah.
Pada zaman kuno, mur merupakan bahan utama untuk membuat pengharum (Ams. 7:17; Mzm. 45:8; Kid. 3:6; Est. 2:12). Karena itu, persembahan mur dipahami sebagai simbol kalau orang-orang majus datang menyembah Yesus sebagai Anak Manusia.
Mereka yang seharusnya menjadi yang terakhir malah menjadi yang terdahulu datang menyembah Sang Raja dan Sang Mesias. Mereka yang seharusnya terdahulu, malahan tidak datang menyembah. Para orang majus yang dianggap najis justru adalah para pendengar, pengajar, dan pelaku firman Tuhan. Dalam hal menyembah Sang Mesias, maka ”yang terdahulu telah menjadi yang terakhir; dan yang terakhir telah menjadi yang terdahulu” (Mat. 19:30).
Dari keseharian kita, sebagai hamba Tuhan maupun jemaat, kita sebenarnya lebih mirip dengan kelompok yang mana? Mari kita uji baik-baik dan cari tahu sendiri jawabannya.