Sukacita Surga
29 Januari
oleh Yonghan
Mat. 2:16 (TB)
“Ketika Herodes tahu, bahwa ia telah diperdayakan oleh orang-orang majus itu, ia sangat marah. Lalu ia menyuruh membunuh semua anak di Betlehem dan sekitarnya, yaitu anak-anak yang berumur dua tahun ke bawah,…”
Karakter kedua yang sepertinya ingin ditonjolkan Matius adalah Herodes Agung (raja orang Yahudi yang palsu) yang sebenarnya merupakan keturunan non-Yahudi, tetapi malahan diakui sebagai raja oleh bangsa Yahudi. Tokoh ini dikontraskan dengan Yesus sebagai raja orang Yahudi yang sejati (Sang Raja dan Sang Mesias) yang diakui dan disembah oleh king maker bangsa non-Yahudi, tetapi malahan tidak diakui dan disembah oleh bangsa Yahudi sendiri.
Herodes mengidentifikasikan dirinya sebagai orang Yahudi meskipun menurut hukum Taurat ia bukanlah orang Yahudi. Keluarga Herodes bukan keturunan Israel/Yakub (Kej. 32:28; 35:10-12), melainkan keturunan Esau, saudara Yakub. Keturunan Esau, yang disebut orang Edom, menetap disebelah selatan Laut Mati di daerah Gunung Seir dan kota besar yang kemudian disebut Petra.
Herodes adalah anak kedua dari Antipater, orang Idumea (Edom), pendiri Dinasti Herodes. Herodes adalah pribadi yang begitu haus kekuasaan dan kejam. Ketika ia menghabisi kaum pemberontak di Galilea, ia tidak segan-segan membantai musuh-musuhnya. Sebagai raja, Herodes juga tidak segan-segan untuk melenyapkan musuh politiknya. Setiap orang yang dianggap berpotensi untuk menjadi musuh atau ancaman pada masa depan akan langsung dihabisinya tanpa ampun.
Pada zaman itu, ada dua kerajaan besar yang saling bertikai yang mengapit Yerusalem. Di sebelah barat adalah Kekaisaran Romawi sementara di sebelah timur adalah Kerajaan Parthia. Herodes Agung menjadi raja boneka Kekaisaran Romawi yang ditunjuk memimpin wilayah yang berada di tengah-tengah dua kerajaan besar ini dengan jumlah tentara yang tidak memadai. Herodes tahu kalau setiap saat dirinya bisa diserbu pasukan dari Kerajaan Parthia.
Kedatangan rombongan orang-orang majus dalam rombongan besar ini tentu dianggap sebagai bentuk intimidasi bagi Herodes Agung yang haus kekuasaan, kejam, dan paranoid. Pertanyaan orang majus tentu saja mengejutkan Herodes (Mat. 2:3). Pertanyaan orang majus bisa jadi dipahami Herodes sebagai upaya mendongkelnya dari takhta kekuasaan. Herodes tahu kalau dari silsilah keturunannya saja ia tidak pantas disebut ”raja orang Yahudi”. Ia tahu kalau orang-orang Yahudi banyak yang membencinya dan tidak mengakuinya sebagai raja orang Yahudi. Kini, muncul raja orang Yahudi yang sejati, yang bahkan diakui oleh bangsa non-Yahudi. Karena itu, frasa ”terkejutlah ia” dalam Matius 2:3 sebenarnya merupakan penerjemahan yang kurang tepat dari kata Yunani ἐταράχθη (”etarachthē”); yang kata dasarnya adalah ταράσσω (”tarassó”),
Dalam bahasa aslinya, ”tarassó” bisa berarti ”menimbulkan gejolak batin; menghilangkan ketenangan pikiran; mengganggu ketenangan hati; membuat gelisah”. Kata yang lebih tepat menggambarkan perasaan Herodes pada saat itu adalah ”mengalami ketakutan yang teramat sangat”, atau bahkan ”terteror”, ketimbang hanya ”terkejutlah ia”. Takhta dan kekuasaannya menjadi taruhannya.
Apakah jabatan Gembala Sidang kini juga menjadi takhta yang Anda jaga dengan penuh kewaspadaan? Apakah jabatan sebagai Pembina Yayasan Kristen kini adalah kekuasaan yang Anda takut direbut orang lain? Jika ya, maka roh Herodeslah yang berkuasa atasmu. Anda tidak lagi hidup di bawah pimpinan-Nya Roh Kudus.
Raja orang Yahudi yang sejati, Sang Raja dan Sang Mesias, sedang menanti Anda untuk datang pada-Nya. Namun, Anda harus bersedia melepaskan takhta dan kekuasaan itu terlebih dahulu. Supaya Ia bisa menjadi rajamu, maka Anda yang harus berhenti menjadi raja. ”Berbahagialah mereka yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga” (Mat. 5:3).