Rom. 10:14-15 (AYT)
“Akan tetapi, bagaimana mereka akan berseru kepada Dia yang belum mereka percayai? Dan, bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia yang belum pernah mereka dengar? Dan, bagaimana mereka dapat mendengar, jika tidak ada yang memberitakan-Nya? Dan, bagaimana mereka dapat memberitakan-Nya, jika mereka tidak diutus? Seperti ada tertulis: ‘Betapa indahnya kaki-kaki mereka yang datang membawa kabar baik!'”
Kalau memang orang Kristen sudah dipilih, buat apa kita masih repot-repot memberitakan Injil? Bukankah cepat atau lambat mereka akan beriman percaya pada Kristus?
Jawabannya adalah: kita memberitakan Injil justru karena sudah tahu dengan pasti kalau akan ada yang beriman percaya. Hanya mereka yang sudah dipilih yang bisa beriman percaya.
Isi Injil tidak masuk akal bagi kebanyakan manusia. Masakan ada Allah yang bersedia menjadi manusia demi manusia? Bahkan Ia kemudian bersedia mati di atas kayu salib dan bangkit di hari ketiga?
Karena itu, bagi para cendekiawan Yunani, isi Injil dianggap fantasi/bualan semata (Kis. 17:18). Isi Injil dianggap hanya cocok untuk orang-orang yang tidak berpendidikan tinggi dan miskin seperti halnya orang Galilea. Kita bisa melihat anggapan itu masih tetap sama sampai dengan hari ini.
Ada orang-orang yang menganggap dirinya terlalu cerdas dan berpendidikan untuk bersedia percaya kalau Yesus adalah Sang Mesias.
2 Kor. 2:14-16
“Namun, syukur kepada Allah, yang selalu memimpin kami kepada kemenangan di dalam Kristus dan menyatakan keharuman pengetahuan akan Dia di setiap tempat, melalui kami.Sebab, kami adalah bau harum Kristus bagi Allah di antara mereka yang diselamatkan dan di antara mereka yang sedang binasa.
Bagi yang satu, kami adalah bau kematian untuk kematian, dan bagi yang lain, bau kehidupan untuk kehidupan. Namun, siapakah yang sanggup untuk hal-hal ini?”