Rom. 15:14 (AYT)
Saudara-saudaraku, aku sendiri diyakinkan tentang kamu, bahwa kamu penuh dengan kebaikan, melimpah dengan segala pengetahuan, dan sanggup menasihati satu dengan yang lain.
Setiap orang Kristen adalah seorang teolog, meski tak memiliki gelar akademis. Dia bisa memahami-dan-menerima kebenaran Alkitab karena Roh Kudus sendiri yang mengajarinya (Yoh. 16:13). Allah sendiri yang membuka pikirannya (Luk. 24:45). Kalau bukan Tuhan yang membuatnya mengerti, seorang doktor teologi pun tak akan bisa memahami-dan-menerima kebenaran Alkitab.
Di bagian ini kita diperlihatkan betapa Paulus tidak memandang rendah jemaat; tidak meremehkan mereka. Paulus meyakini kalau jemaat di Roma juga “melimpah dengan segala pengetahuan”. Paulus memahami kalau hanya anugerah yang membuat seseorang bisa memahami kebenaran ( Mat. 11:25; 13:11; 2 Tim. 3:7). Ini tidak ada kaitannya dengan IQ dan gelar teologi.
Ada sebab mengapa Tuhan Yesus lebih memilih para nelayan dari Galilea sebagai rasul-Nya, bukan para teolog dari Yerusalem. Bukankah lebih mentereng kalau Nikodemus dan Gamaliel yang menjadi rasul? Kok malah Petrus dan Yakobus?
Mengapa Allah lebih memilih Amos sebagai jurubicara-Nya? Bukankah Amos hanyalah seorang peternak domba? (Amos 1:1; 7:15). Tidakkah lebih mantap kalau Allah berbicara lewat Amazia alih-alih Amos?
Inilah pola yang ditunjukkan di Alkitab. Allah bisa mengguncang dunia ini dengan memakai mulut para nelayan dan peternak domba. Tidak harus teolog dan imam. Yang bodoh dari Allah lebih besar hikmatnya dari pada manusia. Yang lemah dari Allah lebih kuat dari pada manusia (1 Kor. 1:25, 27-29).
Mirisnya, kebanyakan gereja hari ini seolah-olah menganggap hanya orang-orang yang memiliki gelar teologi yang boleh mengajar Alkitab dan memberitakan Injil. Seolah-olah, kalau ada D.Th, maka hendaklah M.Th berdiam diri; kalau ada M.Th, maka hendaklah S.Th berdiam diri; kalau ada S.Th, maka hendaklah jemaat berdiam diri. Gelar teologi seolah-olah menjadi lisensi mengajar; seperti halnya SIM.
Padahal, kedewasaan orang Kristen tidak pernah diukur semata-mata dari seberapa banyak dia memahami kebenaran Alkitab. Melakukannya atau tidak yang lebih penting. Isi otak, ubah hati.
Seorang doktor teologi tidak otomatis berarti adalah seorang pelaku firman. Karena itu, selain “melimpah dengan segala pengetahuan”, orang Kristen sejati itu juga akan “penuh dengan kebaikan” dan “sanggup menasihati satu dengan yang lain”.