Lahir Dari Perawan

Sukacita Surga
27 Januari
oleh Yonghan

Mat. 1:20 (TB)

“…Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus.”

Ada beberapa fakta penting yang dinyatakan dalam Injil Matius 1:18-25. Pertama, terkait kelahiran-melalui-perawan, Matius dengan tegas menyatakan kalau tidak ada sperma pria yang terlibat dalam kehamilan Maria. Dalam ayat 16, Yusuf disebut sebagai ”suami Maria, yang melahirkan Yesus yang disebut Kristus.” Yusuf tidak pernah dinyatakan sebagai ”Yusuf memperanakkan Yesus”. Jadi, kehamilan Maria tidak melalui proses biologis seperti halnya manusia lain.

Kedua, Maria dinyatakan sudah mengandung sebelum ia dan Yusuf ”hidup sebagai suami istri” (ay. 18). Perkawinan orang Yahudi saat itu terdiri dari dua tahap, yaitu kiddushin dan nissu’in. Kiddushin adalah tahap ketika dilakukan perjanjian nikah dan pembayaran mōhar (mas kawin) kepada mempelai perempuan. Ikatan tersebut merupakan kontrak perkawinan yang sah dan hanya dapat dibatalkan secara hukum melalui perceraian. Pada tahap pertama ini, kedua mempelai telah resmi sebagai suami istri, namun belum hidup dalam satu rumah dan tidak boleh melakukan hubungan seksual. Biasanya, setelah satu tahun berlalu barulah tahap nissu’in akan berlangsung.

Ketika Maria mengandung, mereka masih berada di tahap kiddushin ini. Pernyataan kalau Yusuf kemudian ”mengambil Maria sebagai istrinya [melangsungkan nissu’in], tetapi tidak bersetubuh dengan dia sampai ia melahirkan anaknya laki-laki” menegaskan soal ini (Mat. 1:24-25).

Ketiga, pola “the formula-quotations” yang dipakai Matius juga menegaskan keperawanan Maria ketika mengandung Yesus.

Mat 1:22 = ”Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi”

Mat. 1:23 = Kutipan dari Yesaya 7:14.

Dalam Yes. 7:14, kata ”perempuan muda” diterjemahkan dari kata Ibrani עַלְמָה (”almah”). Meskipun kata ”almah” ini bisa berarti ”perempuan muda” dan ”perawan” (virgin), LAI menerjemahkannya sebagai ”perempuan muda”. Sebagai perbandingan, Alkitab bahasa Inggris versi NASB, NKJV, dan ESV sama-sama sudah menerjemahkan kata Ibrani ”almah” dalam Yesaya 7:14 ini sebagai ”virgin” (perawan). Saya memandang terjemahan ”perempuan muda” memberi ruang untuk adanya kesalahan persepsi karena perempuan muda belum tentu masih perawan.

Dalam Injilnya, Matius memakai kata Yunani παρθένος (”parthenos”) sebagai terjemahan bagi ”almah”. Kata ”parthenos” ini sendiri tidak mungkin bisa disalahartikan selain berarti “anak dara”/ ”perawan”. Itulah sebabnya mengapa LAI menerjemahkan kata ”almah” (yang dikutip dari Yes. 7:14) dalan Matius 1:23 sebagai ”anak dara”.

Kelahiran-melalui-perawan adalah salah satu dasar iman bagi orang Kristen. Jika kita tidak 100% meyakini kelahiran-melalui-perawan ini, maka kita mungkin diam-diam sudah meragukan keilahian Yesus Kristus. Keyakinan 99,9% mengenai hal ini tidak memadai (sufficient), harus 100% percaya. Entah kita percaya 100%, atau tidak sama sekali.

Kalau kelahiran-melalui-perawan ini tidak benar, maka Yesus pasti punya ayah biologis seperti halnya kita semua. Kalau Yesus punya ayah biologis, berarti Yesus bukan Allah. Kalau Yesus bukan Allah, maka seluruh isi Perjanjian Baru (PB) adalah dongeng belaka. Itu hanyalah sebuah mitos.

Banyak pihak yang berusaha menggoyang iman Kristen dengan berusaha membuktikan kalau kelahiran-melalui-perawan ini bukanlah fakta sejarah, namun semata-mata merupakan hasil imajinasinya Matius sendiri. Sejak abad pertama, orang-orang Yahudi sepertinya juga sudah mengembuskan kabar bahwa Yesus adalah anak yang lahir dari perzinahan (Yoh. 8:41) Bahkan sempat ada pandangan yang menyatakan kalau Maria diperkosa oleh tentara Romawi sehingga terpaksa melahirkan Yesus.

Jadi, anak siapakah Yesus? Anak Allah. Namun, Yesus juga sekaligus Allah Anak; Allah Pribadi Kedua dari Allah Tritunggal. Yesus sungguh-sungguh manusia, namun juga sungguh-sungguh Allah. Yesus adalah Allah-yang-menjadi-manusia.

Matius 1:1-17 membuktikan kalau Ia sungguh-sungguh manusia (truly man). Matius 1:18-25 membuktikan kalau Ia sungguh-sungguh Allah (truly God). Karena itu, Matius 1:1-25 membuktikan kalau Ia sungguh-sungguh manusia dan sungguh-sungguh Allah (truly man, truly God).

You may also like...

Tinggalkan Balasan